"Saya mau jujur... tapi jangan marah ya?..."
"Lagi semester kemarin.. saya bicara tentangmu pada keluarga saya... tapi mereka ndak setuju.. dengan alasan bla..bla.. jadi dulu saya sempat bicara tidak untuk dilanjutkan. Saya takut sampean berharap.. saya yang paling takut ucapan orangtua dan kyaiku.. Aku disarankan sama orangtuaku untuk bersama orang pilihan mereka. Mohon untuk tidak memutus silaturrahim. Setelah disarankan oleh orangtuaku.. saat idul fitri saya ketemu sama dia.. dengan orangtuanya dia.. mohon maaf.. tapi saya juga sudah bilang mau S2 dulu.. Alhamdulillaah saling mau nunggu. Mohon untuk tidak memutus silaturrahim..."
---
Sudah dua minggu, aku melakukan shalat istikharah untuk mengambil sebuah keputusan. Dan hari ini, semua itu terjawab dengan gamblang. Ternyata, apa yang waktu itu kau tuliskan adalah sebuah kesalahan. Nyatanya, aku yang terlalu berharap dan nggak tahu kalau ternyata itu typo.
Muhammad, saat kau memberitahu berita ini, anehnya, hatiku tidak sakit. Mataku tidak berair. Inginnya, memaksakan diri menangis atau baper seperti yang pernah aku lakukan. Saat berpisah dengan Helmiy, aku menangis sejadi-jadinya, tapi denganmu? Ya mungkin ini jawaban terindah dari Tuhan. :)
Sebab, selama dua minggu ini, aku berdoa, "Ya Allah, jika Mamad Muhammad Fauzil Abad adalah jodohku, baik bagi agamaku, duniaku, akhiratku, keluargaku, dekatkanlah. Segerakanlah. Mantapkanlah hatinya dan hati keluarganya. Mantapkanlah hati hamba dan hati keluarga hamba. Jika Mamad Muhammad Fauzil Abad bukan jodohku, jauhkanlah segera, dan jadikan hatiku ikhlas serta ridho menerima keputusan-Mu. Sembuhkanlah hatiku. Gantikanlah dengan yang lebih baik darinya, dan sekufu denganku. Karena sesungguhnya, Habibah ingin jodoh yang cinta kepada-Mu, kepada rasul-Mu, kepada al Quran-Mu, kepada Sunnah Nabi-Mu, dan mengajak hamba menikah untuk meraih keridhaan-Nya."
Ternyata, doa itu dikabulkan oleh-Nya. Allah menjauhkanmu dariku dengan segera. Seperti kabar yang ku dengar hari ini. Tanpa rasa sakit yang berlebihan, tetapi keikhlasan yang menenangkan. Kamu, bukanlah jodohku. Sekalipun baik sekali bagi kehidupanku.
Kamu takut ya saya berharap berlebihan? Apalagi jika kau membaca surat-surat sebelum akhir kisah ini? Hahaha. Ya wajarlah, saya perempuan. Mana mungkin saya tidak punya harapan?
Sebenarnya, saya ingin bertanya mengapa keluargamu tidak setuju dengan saya? Apakah karena ajaran kita yang berbeda? Berbeda dalam hal apa? Hahaha. Tapi, aku tak bernafsu untuk menanyakan ini. Karena sekali tidak disetujui, yasudah. Selesai. Setidaknya, aku bersyukur akhirnya Tuhan memberiku jawaban terbaik-Nya untukku. Ini sama seperti dulu saat aku istikharah tentang pindah sekolah. Tepat dua minggu, Allah memberiku jawaban. Tambahannya, aku harus menyelesaikan nadzar puasa Daud sampai akad.
Kamu orang baik, makanya kamu dijodohkan dengan yang lebih baik. Saya juga percaya saya orang baik dan akan dijodohkan dengan orang yang baik pula. Jodoh itu memang tetap di tangan Tuhan. ;)
Kesalahan saya adalah, saya terlalu memakai hati saat kamu melancarkan banyak pertanyaan tentang pernikahan. Kamu, tidak pernah salah. Kamu, orang baik yang pernah saya kenal. Terimakasih karena telah mengajariku banyak hal ya.
Muhammad, hari ini, dengan niat karena Allah, aku mengikhlaskanmu kepada-Nya. Aku memilih untuk mengikuti pilihan orangtuaku yang dapat mendatangkan keridhoan orangtuaku.
Sampai di sini kisah kita.
Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. ^_^
Senin, 29 Agustus 2016
Selasa, 23 Agustus 2016
Ku fikir, aku tak punya lagi kaa-kata yang akan ku sampaikan setelah perjalanan terakhir kita kemarin di candi gedung songo, tanggal 14 Agustus 2016 lalu. Ternyata, anggapan perpisahan kita tidak pernah terjadi.
Termasuk tentang screenshoot status kamu di facebook. Sebenarnya, ada banyak yang ingin ku tanyakan. Tetapi, aku takut kau menganggapku terlalu agresif.
aku hanya ingin bertanya, mengapa kau menulis status tegas seperti itu setelah ku katakan tentang tanggapan positif Ayahku terhadapmu? Apakah status itu untukku? Atau, kau sudah punya calon?
Saat di rumah kemarin, aku sedih melihat statusmu. Ku fikir itu untukku, dan itu tanda bahwa kau sudah tidak ingin memilihku lagi. Tapi, benarkah?
Aku bercerita soal ini ke Ayah-Ibuku. Ibuku bilang, 4 tahun kelamaan. Tetapi Ayahku terlanjur suka padamu. Muhammad, apa yang membuatmu mengambil keputusan seperti itu?
Apakah kau sudah tidak bingung lagi memilih calon istri? Apakah aku ada dalam pilihanmu? Apakah 4 tahun lagi, kau akan mengakhiri masa lajangmu denganku?
Aku, mengadukanmu pada Tuhan kita, Allah. Sebab, dg-Nya lah aku dapat meminta petunjuk apakah kita berjodoh atau tidak. Memang, belum ada jawaban yang jelas dari-Nya. Tetapi, aku takkan berhenti meminta petunjuk itu.
Jujur, Muhammad. Interaksi kita tentang keluarga di tahun lalu, seperti prosesi taaruf, dan dari situ, aku mulai berfikir untuk memilih.
Aku, memilihmu. Sekarang, aku tidak dekat dengan laki-laki manapun. Helmiy, Edy, aku sudah tidak lagi membuka pintu untuk mereka. Apalagi, Ayah dan Ibuku setuju denganmu.
Aku memilihmu berdasarkan kriteria dari nabi. Dan yang paling ku pilih adalah agamamu. Aku yakin kau bisa mendidikku. Kita bisa membangun rumah tangga dengan dasar takwa kita kepada Allah. Kita bisa berjalan bersama menuju Allah. Membangun generasi yg cinta Allah, cinta nabi, cinta Quran, dan cinta hikmah. Kita bisa saling melengkapi dan menguatkan. Apakah kamu juga mau memilihku?
Kalau iya, aku ingin sekali mengajakmu sama-sama istikharah. Meminta petunjuk Allah apakah pilihan kita benar? Karena dengan istikharah, Allah pasti akan memberikan jalan keluar dari kesulitan kesulitan yang ada pada kita. Kalau misal kita berjodoh, Allah asti akan membuka rezeki untuk kita, Allah kuatkan kita, Allah mantapkan hati kita dan keluarga kita, dan Allah permudah semuanya.
Itu, kalau kau juga telah memilihku.
Sebab aku takut melanggar janji dan prinsipku pada Allah. Aku hanya ingin mencintai di bawah naungan ridha Allah.
Muhammad, kata Ayah, kita selesaikan dulu S1 ini. Setelah S1, kau diperkenankan untuk berkenalan dengan Ayah Ibuku. Itu, kalau kau memang telah memilihku. Kita bisa sama-sama melanjutkan S2 kalau kita sama-sama mendapat beasiswa. Bukan tergesa-gesa, tetapi Ayah Ibuku takut kita terjerumus dalam dosa.
Mungkin kau akan marah dan menganggap aku tak berlogika berkata spt itu. Soal materi kan yang sulit? Apa ini yang membuatmu mengambil keputusan untuk menikah 4 tahun lagi? dengan rencana selama 4 tahun kau akan persiapkan materi? Tapi, apakah tidak sejak dulu kau menabung? Allah Maha Kaya.. Ingat surah An Nur ttg Allah yg akan memberi kekayaan kepada pemuda-pemudi yang mengambil jalan halal?
Aku tidak akan berhenti istikharah. Aku meminta petunjuk pada Allah. Aku percaya, kalau kita berjodoh, Allah pasti akan memberi jawaban lewat banyak kemudahan dan kemantapan hati. Kalau kita tidak berjodoh, aku yakin Allah akan memberiku jodoh yang lebih baik darimu dan sekufu denganku.
Di sini.. Ku utarakan niat suciku. Aku siap hidup denganmu dari nol, berjuang bersama, karena Allah. Kita bisa menjalankan peran masing-masing sebagai suami-istri nanti dengan menegakkan hukum Allah. Soal rezeki, aku percaya kata-katamu dulu, bahwa kau akan berusaha keras. Kalau kita sama-sama melanjutkan S2, kita bisa sama-sama belajar dan berjuang. Kita bisa meraih mimpi bersama. Aku yakin, pengetahuanmu soal pernikahan sudah cukup untuk membangun pondasinya. Materialmu, dari pekerjaanmu menjadi seorang ustadz juga cukup, dan kita bisa mengelola pesantren bersama kelak. aku juga bisa menjadi pengasuh santri rumah tahfidz, dan kita bisa saling berbagi. Taqwa? Bukankah menikah adalah jalan kita bertakwa kepada Allah? Kau lebih tahu bahwa taqwa artinya menjaga dari sesuatu yg tdk disukainya. Menikah adalah jalan itu. agama kita selamat separuhnya. Separuh lagi, bisa kita perjuangkan bersama, jika dasar rumah tangga kita adalah meraih keridhaan Allah.
Semoga Allah memberi jawaban terbaik atas persoalan ini. aku bertawakkal pada-Nya, Muhammad. Ku harap kau juga.
Termasuk tentang screenshoot status kamu di facebook. Sebenarnya, ada banyak yang ingin ku tanyakan. Tetapi, aku takut kau menganggapku terlalu agresif.
aku hanya ingin bertanya, mengapa kau menulis status tegas seperti itu setelah ku katakan tentang tanggapan positif Ayahku terhadapmu? Apakah status itu untukku? Atau, kau sudah punya calon?
Saat di rumah kemarin, aku sedih melihat statusmu. Ku fikir itu untukku, dan itu tanda bahwa kau sudah tidak ingin memilihku lagi. Tapi, benarkah?
Aku bercerita soal ini ke Ayah-Ibuku. Ibuku bilang, 4 tahun kelamaan. Tetapi Ayahku terlanjur suka padamu. Muhammad, apa yang membuatmu mengambil keputusan seperti itu?
Apakah kau sudah tidak bingung lagi memilih calon istri? Apakah aku ada dalam pilihanmu? Apakah 4 tahun lagi, kau akan mengakhiri masa lajangmu denganku?
Aku, mengadukanmu pada Tuhan kita, Allah. Sebab, dg-Nya lah aku dapat meminta petunjuk apakah kita berjodoh atau tidak. Memang, belum ada jawaban yang jelas dari-Nya. Tetapi, aku takkan berhenti meminta petunjuk itu.
Jujur, Muhammad. Interaksi kita tentang keluarga di tahun lalu, seperti prosesi taaruf, dan dari situ, aku mulai berfikir untuk memilih.
Aku, memilihmu. Sekarang, aku tidak dekat dengan laki-laki manapun. Helmiy, Edy, aku sudah tidak lagi membuka pintu untuk mereka. Apalagi, Ayah dan Ibuku setuju denganmu.
Aku memilihmu berdasarkan kriteria dari nabi. Dan yang paling ku pilih adalah agamamu. Aku yakin kau bisa mendidikku. Kita bisa membangun rumah tangga dengan dasar takwa kita kepada Allah. Kita bisa berjalan bersama menuju Allah. Membangun generasi yg cinta Allah, cinta nabi, cinta Quran, dan cinta hikmah. Kita bisa saling melengkapi dan menguatkan. Apakah kamu juga mau memilihku?
Kalau iya, aku ingin sekali mengajakmu sama-sama istikharah. Meminta petunjuk Allah apakah pilihan kita benar? Karena dengan istikharah, Allah pasti akan memberikan jalan keluar dari kesulitan kesulitan yang ada pada kita. Kalau misal kita berjodoh, Allah asti akan membuka rezeki untuk kita, Allah kuatkan kita, Allah mantapkan hati kita dan keluarga kita, dan Allah permudah semuanya.
Itu, kalau kau juga telah memilihku.
Sebab aku takut melanggar janji dan prinsipku pada Allah. Aku hanya ingin mencintai di bawah naungan ridha Allah.
Muhammad, kata Ayah, kita selesaikan dulu S1 ini. Setelah S1, kau diperkenankan untuk berkenalan dengan Ayah Ibuku. Itu, kalau kau memang telah memilihku. Kita bisa sama-sama melanjutkan S2 kalau kita sama-sama mendapat beasiswa. Bukan tergesa-gesa, tetapi Ayah Ibuku takut kita terjerumus dalam dosa.
Mungkin kau akan marah dan menganggap aku tak berlogika berkata spt itu. Soal materi kan yang sulit? Apa ini yang membuatmu mengambil keputusan untuk menikah 4 tahun lagi? dengan rencana selama 4 tahun kau akan persiapkan materi? Tapi, apakah tidak sejak dulu kau menabung? Allah Maha Kaya.. Ingat surah An Nur ttg Allah yg akan memberi kekayaan kepada pemuda-pemudi yang mengambil jalan halal?
Aku tidak akan berhenti istikharah. Aku meminta petunjuk pada Allah. Aku percaya, kalau kita berjodoh, Allah pasti akan memberi jawaban lewat banyak kemudahan dan kemantapan hati. Kalau kita tidak berjodoh, aku yakin Allah akan memberiku jodoh yang lebih baik darimu dan sekufu denganku.
Di sini.. Ku utarakan niat suciku. Aku siap hidup denganmu dari nol, berjuang bersama, karena Allah. Kita bisa menjalankan peran masing-masing sebagai suami-istri nanti dengan menegakkan hukum Allah. Soal rezeki, aku percaya kata-katamu dulu, bahwa kau akan berusaha keras. Kalau kita sama-sama melanjutkan S2, kita bisa sama-sama belajar dan berjuang. Kita bisa meraih mimpi bersama. Aku yakin, pengetahuanmu soal pernikahan sudah cukup untuk membangun pondasinya. Materialmu, dari pekerjaanmu menjadi seorang ustadz juga cukup, dan kita bisa mengelola pesantren bersama kelak. aku juga bisa menjadi pengasuh santri rumah tahfidz, dan kita bisa saling berbagi. Taqwa? Bukankah menikah adalah jalan kita bertakwa kepada Allah? Kau lebih tahu bahwa taqwa artinya menjaga dari sesuatu yg tdk disukainya. Menikah adalah jalan itu. agama kita selamat separuhnya. Separuh lagi, bisa kita perjuangkan bersama, jika dasar rumah tangga kita adalah meraih keridhaan Allah.
Semoga Allah memberi jawaban terbaik atas persoalan ini. aku bertawakkal pada-Nya, Muhammad. Ku harap kau juga.
Rabu, 03 Agustus 2016
PENUTUP
"Tapi, kemarin ada yang ketinggalan.."
"Apa?" Tanyaku.
"Maaf... dulu lagi pas kita bahas tentang perkenalan keluarga dan karakter..memang saya punya rasa suka untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan.. namun saya takut kualat dengan prinsipku, jadi bagaimana saya bisa ndak memikirkan perempuan walaupun itu juga terpikirkan.. maaf yah udah bikin resah."
"Saya ingin belajar dulu... sehingga hasilnya bisa maksimal"
"Jadi, itu bukan sekedar kamu menganggap saya temen? Soal kamu dulu bilang rindu, suka, dan cemburu, itu bukan main-main?" tanyaku, memastikan.
"Ngapain suka dipermainkan.. tapi saya ingin fokus belajar dulu. Saya hanya kagum sama kamu. Semoga orang yang mendapatkanmu orang yang sekufu. Karena orang baik sepertimu insyaa' Allah mendapatkan yang baik pula."
"Bila suatu saat tidak berjodoh, semoga dijodohkan oleh Allah dengan yang lebih baik. Saya takut akhirnya kecewa... karena jodoh hanya Allah yang tahu."
"Kita jalani hidup ini dengan kata 'sahabat sejati' atau 'saudara' aja.. jangan dengan kata 'pacaran'... biar suatu saat ndak ada yang kecewa..."
* * *
Hari ini, aku merasakan perasaan saat kau menuliskan kalimat-kalimat itu dua bulan yang lalu. Aku ingin, kalimat-kalimat itu yang menjadi penutup surat-suratku ini. Meskipun, sepuluh surat ini sama sekali tak mungkin kau baca.
Kau tahu perasaan apa itu?
Aku menangis, Muhammad. Menangis lagi. Bukan karena kau menjauh, bukan karena kau menyakitiku. Aku menangis karena menyadari hal-hal menakjubkan yang baru ku tahu, yang ada dalam dirimu. Hal-hal yang ku ketahui itu membuatku merasa jatuh terhempas, merasa tak pantas.
Muhammad..
Aku kini sadar betul siapa aku. Hari ini, sempurna sudah ku dengar keistimewaan dari dalam dirimu sendiri.
Selamat yaa. Selamat karena pasti di semester ini, kau akan menjadi mahasiswa terbaik di FUHUM. Semoga, kau juga terbaik se-universitas. Kau akan mendapat beasiswa lagi di sini. Kita positif akan berpisah.
3,90 dan 3,87 .. itu selisih IPK kita semester ini.
Muhammad..
Aku kagum denganmu. Baru ku temukan lelaki hebat sepertimu. Pintar, cerdas, sholih. Selalu istiqomah.
Seperti kata-katamu di awal tahun ini:
"Aku kagum denganmu. Baru ku temukan perempuan hebat sepertimu. Pintar, cerdas, sholihah. Selalu istiqomah."
Apa yang kau katakan padaku, apa yang menjadi pujianmu padaku, apa yang menjadi perasaanmu, ternyata menjadi apa yang ingin ku katakan padamu, apa yang menjadi pujianku padamu, dan apa yang menjadi perasaanku.
Muhammad..
Aku menyimpanmu dalam kenangan. Sembilan puluh empat halaman percakapan kita di Black Berry Messenger selama satu tahun ini, ku simpan rapi dalam komputerku. Tak ada yang terlewatkan, dan percakapan di atas adalah penutup dari kenangan yang tersimpan itu.
Ada banyak. Bukan hanya percakapan di situ saja. Semua yang ada di pesan singkat (SMS), inbox (Messenger-Facebook), bahkan peristiwa yang kita alami, semua ku tulis kembali dan ku simpan dengan baik di sini. Foto-foto yang dikirim temanku tentangmu, yang dikirim sepupumu, dan foto-foto kita yang tanpa sengaja. Musik, lagu, yang menjadi kenangan antara kau dan aku. Ku simpan semua.
Muhammad..
Aku tidak tahu, apakah ini maksudku untuk menyerah? Yang ku tahu, setiap kali aku mencobanya, tak pernah bisa. Tuhan lebih berkuasa menjadikan kita lagi dan lagi, terus dan terus, bertemu tanpa disengaja.
Tak ada yang bisa ku perbuat, selain menunggu. Bukan menunggumu untuk memilihku, tapi menunggu Tuhan apakah berkenan menghapus rasaku? Meskipun ada sedikit bisikan hati yang ingin jika Tuhan memberikan keputusan agar kau untukku, dan aku untukmu. Bisikan tentang harapan dimana rasa-rasa sendu ini berubah menjadi rasa yang paling indah.
Tetapi... sekali lagi ku ulangi: aku merasa tak pantas untukmu, sekalipun perasaan itu sama besarnya dengan perasaan ingin Tuhan menakdirkanku bersamamu.
Aku juga sadar, cintaku salah.
Aku merasa pedih dengan hatiku yang terbang tinggi karena mendapati kesempurnaan yang Tuhan berikan padamu.
Kamu...memang lelaki hebat. Lelaki sholih. Pintar. Cerdas.
Aku tidak tahu kapan kita akan berakhir? Kapan aku dan kamu berpisah? Yang aku tahu, lima bulan lagi, kita akan segera diwisuda.. lalu melanjutkan hidup masing-masing.
Kenangan-kenangan kita hari ini memang kembali lagi. Kenangan dimana kau menjadi guruku, mengajariku banyak hal, me-review semua pelajaran di kuliah kita selama tiga tahun ini, untuk ujian nanti. Kenangan di mana pertama kalinya kau memakan apa yang ku buat dengan tanganku sendiri.
Jika kau lupa apa nama kuenya, biar ku ingatkan: itu namanya KUE RAMBUTAN. Itu kue kesukaanku.
Aku senang kau menikmatinya. Bahkan kau yang menjadi penikmat terakhir dari satu butir cookies yang tersisa.
Mungkin, selama dua minggu ke depan, kita akan bertemu setiap hari untuk belajar bersama lagi. Bahkan mungkin kita akan piknik bersama, mengunjungi tempat pariwisata bersama teman-teman kita. Tetapi, aku akan menikmatinya sebagai seorang sahabat, seorang saudara, sebagaimana perasaanku ketika bersama sepupumu, atau teman-temanmu Mba Fida, Uci, dan kawan-kawan.
Ku anggap, inilah kenangan-kenangan terakhir kita, sebelum kita PPL, KKN, KKL.
Mungkin, kita akan bertemu lagi di ujian Munaqosah. Juga mungkin, di wisuda bulan Januari 2017 nanti, akan menjadi pertemuan terakhir kita. Aku tidak pernah tahu skenario Tuhan kecuali setelah kita mengalaminya.
Aku menerima semua ini, Muhammad.
Aku sadar aku tak pantas berharap menjadi pilihan terakhirmu.
Aku sadar aku tak pantas berimajinasi mendidik generasi qur'ani bersamamu.
Aku sadar aku tak pantas bermimpi meraih cita-cita bersamamu.
Sekalipun ada banyak hal yang sama di antara kita. Sekalipun ada banyak suara yang mendukung kita.
Aku serahkan ini pada Tuhan. Bukan padamu. Sebab, jika Tuhan berkehendak memerintahkanku memilihmu, maka pasti Dia yang akan menggerakkan dan memantapkan hatimu untuk bertemu Ayahku, orang yang paling mirip denganmu.
Mamad Muhammad Fauzil Abad, aku berharap ini terakhir kalinya aku jatuh cinta. Sekalipun aku tidak tahu apakah Tuhan menjadikanmu cinta terakhir yang dapat ku miliki?
Aku...terlalu trauma untuk jatuh cinta. Kini aku tahu bagaimana caranya untuk tidak jatuh cinta lagi. Jadi, sekalipun nanti ternyata kau bukan jodohku, meski nanti aku menangis, aku tetap bisa menjalani hidupku, meraih impian-impianku.
Karena masa laluku sebelum bertemu denganmu terlalu suram, dan masa sekarang bersamamu terlalu menggetarkan.
Aku tidak menyesal mengenalmu. Justru aku bersyukur, dengan mengenalmu, aku tahu betapa indahnya mencintai karena Allah, bagaimana menjaga diri karena-Nya, bagaimana mempertahankan prinsip demi keimanan dan agama kita.
Muhammad..
Aku, tidak akan mengejarmu, dan tidak akan lagi berbuat hal yang mempermalukanku sendiri.
Kenangan-kenangan itu akan ku simpan meski mungkin tak ingin ku kenang kembali. Tetapi, jangan berprasangka yang tidak-tidak, karena kenangan bersamamu semuanya indah, bermanfaat, dan penuh berkah.
Akhirnya, surat ini ku akhiri dengan sempurna.
Aku tak berharap kau membacanya. Karena, cukup menuliskan hal-hal ini, hatiku merasa lega. Karena, sebenarnya, masih banyak hal yang ingin ku utarakan, namun tak sanggup tanganku merangkainya.
Muhammad..
Saat ini, aku ingin mengalihkan duniaku dengan mimpi-mimpiku. Aku bermimpi menjadi seorang penghafal Quran yang tidak hanya hafal lafadz dan makna, tetapi hidup di dalamnya. Aku punya mimpi mengajar anak-anak yang ada di sekitarku nanti untuk cinta pada al Quran. Makanya setelah lulus ini, aku ingin ke Bandung, mencari lowongan menjadi pengasuh di pesantren Quran sambil belajar lebih dalam. Aku ingin menirumu yang tak pernah lelah memperbaiki diri dengan ilmu.
Jika ternyata kau tidak memilihku, tak apa. Bagiku, sudah cukup untuk mencintai. Sudah cukup untuk tahu rasanya dicintai. Aku menunggu 'saat' itu tiba. 'Saat' dimana aku dapat memberikan hadiahku pada Sang Cahaya.
Semangaat ya, Muhammad. :)
Ku akhiri surah ini dengan ungkapan maafku yang sebesar-besarnya, dan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.
Sampai jumpa lagi.
Habibah.
Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
"Aku pulang dulu ya, Habibah.."
"Iya, Muhammad. Hati-hati."
"Apa?" Tanyaku.
"Maaf... dulu lagi pas kita bahas tentang perkenalan keluarga dan karakter..memang saya punya rasa suka untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan.. namun saya takut kualat dengan prinsipku, jadi bagaimana saya bisa ndak memikirkan perempuan walaupun itu juga terpikirkan.. maaf yah udah bikin resah."
"Saya ingin belajar dulu... sehingga hasilnya bisa maksimal"
"Jadi, itu bukan sekedar kamu menganggap saya temen? Soal kamu dulu bilang rindu, suka, dan cemburu, itu bukan main-main?" tanyaku, memastikan.
"Ngapain suka dipermainkan.. tapi saya ingin fokus belajar dulu. Saya hanya kagum sama kamu. Semoga orang yang mendapatkanmu orang yang sekufu. Karena orang baik sepertimu insyaa' Allah mendapatkan yang baik pula."
"Bila suatu saat tidak berjodoh, semoga dijodohkan oleh Allah dengan yang lebih baik. Saya takut akhirnya kecewa... karena jodoh hanya Allah yang tahu."
"Kita jalani hidup ini dengan kata 'sahabat sejati' atau 'saudara' aja.. jangan dengan kata 'pacaran'... biar suatu saat ndak ada yang kecewa..."
* * *
Hari ini, aku merasakan perasaan saat kau menuliskan kalimat-kalimat itu dua bulan yang lalu. Aku ingin, kalimat-kalimat itu yang menjadi penutup surat-suratku ini. Meskipun, sepuluh surat ini sama sekali tak mungkin kau baca.
Kau tahu perasaan apa itu?
Aku menangis, Muhammad. Menangis lagi. Bukan karena kau menjauh, bukan karena kau menyakitiku. Aku menangis karena menyadari hal-hal menakjubkan yang baru ku tahu, yang ada dalam dirimu. Hal-hal yang ku ketahui itu membuatku merasa jatuh terhempas, merasa tak pantas.
Muhammad..
Aku kini sadar betul siapa aku. Hari ini, sempurna sudah ku dengar keistimewaan dari dalam dirimu sendiri.
Selamat yaa. Selamat karena pasti di semester ini, kau akan menjadi mahasiswa terbaik di FUHUM. Semoga, kau juga terbaik se-universitas. Kau akan mendapat beasiswa lagi di sini. Kita positif akan berpisah.
3,90 dan 3,87 .. itu selisih IPK kita semester ini.
Muhammad..
Aku kagum denganmu. Baru ku temukan lelaki hebat sepertimu. Pintar, cerdas, sholih. Selalu istiqomah.
Seperti kata-katamu di awal tahun ini:
"Aku kagum denganmu. Baru ku temukan perempuan hebat sepertimu. Pintar, cerdas, sholihah. Selalu istiqomah."
Apa yang kau katakan padaku, apa yang menjadi pujianmu padaku, apa yang menjadi perasaanmu, ternyata menjadi apa yang ingin ku katakan padamu, apa yang menjadi pujianku padamu, dan apa yang menjadi perasaanku.
Muhammad..
Aku menyimpanmu dalam kenangan. Sembilan puluh empat halaman percakapan kita di Black Berry Messenger selama satu tahun ini, ku simpan rapi dalam komputerku. Tak ada yang terlewatkan, dan percakapan di atas adalah penutup dari kenangan yang tersimpan itu.
Ada banyak. Bukan hanya percakapan di situ saja. Semua yang ada di pesan singkat (SMS), inbox (Messenger-Facebook), bahkan peristiwa yang kita alami, semua ku tulis kembali dan ku simpan dengan baik di sini. Foto-foto yang dikirim temanku tentangmu, yang dikirim sepupumu, dan foto-foto kita yang tanpa sengaja. Musik, lagu, yang menjadi kenangan antara kau dan aku. Ku simpan semua.
Muhammad..
Aku tidak tahu, apakah ini maksudku untuk menyerah? Yang ku tahu, setiap kali aku mencobanya, tak pernah bisa. Tuhan lebih berkuasa menjadikan kita lagi dan lagi, terus dan terus, bertemu tanpa disengaja.
Tak ada yang bisa ku perbuat, selain menunggu. Bukan menunggumu untuk memilihku, tapi menunggu Tuhan apakah berkenan menghapus rasaku? Meskipun ada sedikit bisikan hati yang ingin jika Tuhan memberikan keputusan agar kau untukku, dan aku untukmu. Bisikan tentang harapan dimana rasa-rasa sendu ini berubah menjadi rasa yang paling indah.
Tetapi... sekali lagi ku ulangi: aku merasa tak pantas untukmu, sekalipun perasaan itu sama besarnya dengan perasaan ingin Tuhan menakdirkanku bersamamu.
Aku juga sadar, cintaku salah.
Aku merasa pedih dengan hatiku yang terbang tinggi karena mendapati kesempurnaan yang Tuhan berikan padamu.
Kamu...memang lelaki hebat. Lelaki sholih. Pintar. Cerdas.
Aku tidak tahu kapan kita akan berakhir? Kapan aku dan kamu berpisah? Yang aku tahu, lima bulan lagi, kita akan segera diwisuda.. lalu melanjutkan hidup masing-masing.
Kenangan-kenangan kita hari ini memang kembali lagi. Kenangan dimana kau menjadi guruku, mengajariku banyak hal, me-review semua pelajaran di kuliah kita selama tiga tahun ini, untuk ujian nanti. Kenangan di mana pertama kalinya kau memakan apa yang ku buat dengan tanganku sendiri.
Jika kau lupa apa nama kuenya, biar ku ingatkan: itu namanya KUE RAMBUTAN. Itu kue kesukaanku.
Aku senang kau menikmatinya. Bahkan kau yang menjadi penikmat terakhir dari satu butir cookies yang tersisa.
Mungkin, selama dua minggu ke depan, kita akan bertemu setiap hari untuk belajar bersama lagi. Bahkan mungkin kita akan piknik bersama, mengunjungi tempat pariwisata bersama teman-teman kita. Tetapi, aku akan menikmatinya sebagai seorang sahabat, seorang saudara, sebagaimana perasaanku ketika bersama sepupumu, atau teman-temanmu Mba Fida, Uci, dan kawan-kawan.
Ku anggap, inilah kenangan-kenangan terakhir kita, sebelum kita PPL, KKN, KKL.
Mungkin, kita akan bertemu lagi di ujian Munaqosah. Juga mungkin, di wisuda bulan Januari 2017 nanti, akan menjadi pertemuan terakhir kita. Aku tidak pernah tahu skenario Tuhan kecuali setelah kita mengalaminya.
Aku menerima semua ini, Muhammad.
Aku sadar aku tak pantas berharap menjadi pilihan terakhirmu.
Aku sadar aku tak pantas berimajinasi mendidik generasi qur'ani bersamamu.
Aku sadar aku tak pantas bermimpi meraih cita-cita bersamamu.
Sekalipun ada banyak hal yang sama di antara kita. Sekalipun ada banyak suara yang mendukung kita.
Aku serahkan ini pada Tuhan. Bukan padamu. Sebab, jika Tuhan berkehendak memerintahkanku memilihmu, maka pasti Dia yang akan menggerakkan dan memantapkan hatimu untuk bertemu Ayahku, orang yang paling mirip denganmu.
Mamad Muhammad Fauzil Abad, aku berharap ini terakhir kalinya aku jatuh cinta. Sekalipun aku tidak tahu apakah Tuhan menjadikanmu cinta terakhir yang dapat ku miliki?
Aku...terlalu trauma untuk jatuh cinta. Kini aku tahu bagaimana caranya untuk tidak jatuh cinta lagi. Jadi, sekalipun nanti ternyata kau bukan jodohku, meski nanti aku menangis, aku tetap bisa menjalani hidupku, meraih impian-impianku.
Karena masa laluku sebelum bertemu denganmu terlalu suram, dan masa sekarang bersamamu terlalu menggetarkan.
Aku tidak menyesal mengenalmu. Justru aku bersyukur, dengan mengenalmu, aku tahu betapa indahnya mencintai karena Allah, bagaimana menjaga diri karena-Nya, bagaimana mempertahankan prinsip demi keimanan dan agama kita.
Muhammad..
Aku, tidak akan mengejarmu, dan tidak akan lagi berbuat hal yang mempermalukanku sendiri.
Kenangan-kenangan itu akan ku simpan meski mungkin tak ingin ku kenang kembali. Tetapi, jangan berprasangka yang tidak-tidak, karena kenangan bersamamu semuanya indah, bermanfaat, dan penuh berkah.
Akhirnya, surat ini ku akhiri dengan sempurna.
Aku tak berharap kau membacanya. Karena, cukup menuliskan hal-hal ini, hatiku merasa lega. Karena, sebenarnya, masih banyak hal yang ingin ku utarakan, namun tak sanggup tanganku merangkainya.
Muhammad..
Saat ini, aku ingin mengalihkan duniaku dengan mimpi-mimpiku. Aku bermimpi menjadi seorang penghafal Quran yang tidak hanya hafal lafadz dan makna, tetapi hidup di dalamnya. Aku punya mimpi mengajar anak-anak yang ada di sekitarku nanti untuk cinta pada al Quran. Makanya setelah lulus ini, aku ingin ke Bandung, mencari lowongan menjadi pengasuh di pesantren Quran sambil belajar lebih dalam. Aku ingin menirumu yang tak pernah lelah memperbaiki diri dengan ilmu.
Jika ternyata kau tidak memilihku, tak apa. Bagiku, sudah cukup untuk mencintai. Sudah cukup untuk tahu rasanya dicintai. Aku menunggu 'saat' itu tiba. 'Saat' dimana aku dapat memberikan hadiahku pada Sang Cahaya.
Semangaat ya, Muhammad. :)
Ku akhiri surah ini dengan ungkapan maafku yang sebesar-besarnya, dan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.
Sampai jumpa lagi.
Habibah.
Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
"Aku pulang dulu ya, Habibah.."
"Iya, Muhammad. Hati-hati."
Langganan:
Komentar (Atom)