Senin, 29 Agustus 2016

Ending Story

"Saya mau jujur... tapi jangan marah ya?..."
"Lagi semester kemarin.. saya bicara tentangmu pada keluarga saya... tapi mereka ndak setuju.. dengan alasan bla..bla.. jadi dulu saya sempat bicara tidak untuk dilanjutkan. Saya takut sampean berharap.. saya yang paling takut ucapan orangtua dan kyaiku.. Aku disarankan sama orangtuaku untuk bersama orang pilihan mereka. Mohon untuk tidak memutus silaturrahim. Setelah disarankan oleh orangtuaku.. saat idul fitri saya ketemu sama dia.. dengan orangtuanya dia.. mohon maaf.. tapi saya juga sudah bilang mau S2 dulu.. Alhamdulillaah saling mau nunggu. Mohon untuk tidak memutus silaturrahim..."

---

Sudah dua minggu, aku melakukan shalat istikharah untuk mengambil sebuah keputusan. Dan hari ini, semua itu terjawab dengan gamblang. Ternyata, apa yang waktu itu kau tuliskan adalah sebuah kesalahan. Nyatanya, aku yang terlalu berharap dan nggak tahu kalau ternyata itu typo.

Muhammad, saat kau memberitahu berita ini, anehnya, hatiku tidak sakit. Mataku tidak berair. Inginnya, memaksakan diri menangis atau baper seperti yang pernah aku lakukan. Saat berpisah dengan Helmiy, aku menangis sejadi-jadinya, tapi denganmu? Ya mungkin ini jawaban terindah dari Tuhan. :)

Sebab, selama dua minggu ini, aku berdoa, "Ya Allah, jika Mamad Muhammad Fauzil Abad adalah jodohku, baik bagi agamaku, duniaku, akhiratku, keluargaku, dekatkanlah. Segerakanlah. Mantapkanlah hatinya dan hati keluarganya. Mantapkanlah hati hamba dan hati keluarga hamba. Jika Mamad Muhammad Fauzil Abad bukan jodohku, jauhkanlah segera, dan jadikan hatiku ikhlas serta ridho menerima keputusan-Mu. Sembuhkanlah hatiku. Gantikanlah dengan yang lebih baik darinya, dan sekufu denganku. Karena sesungguhnya, Habibah ingin jodoh yang cinta kepada-Mu, kepada rasul-Mu, kepada al Quran-Mu, kepada Sunnah Nabi-Mu, dan mengajak hamba menikah untuk meraih keridhaan-Nya."

Ternyata, doa itu dikabulkan oleh-Nya. Allah menjauhkanmu dariku dengan segera. Seperti kabar yang ku dengar hari ini. Tanpa rasa sakit yang berlebihan, tetapi keikhlasan yang menenangkan. Kamu, bukanlah jodohku. Sekalipun baik sekali bagi kehidupanku.

Kamu takut ya saya berharap berlebihan? Apalagi jika kau membaca surat-surat sebelum akhir kisah ini? Hahaha. Ya wajarlah, saya perempuan. Mana mungkin saya tidak punya harapan?

Sebenarnya, saya ingin bertanya mengapa keluargamu tidak setuju dengan saya? Apakah karena ajaran kita yang berbeda? Berbeda dalam hal apa? Hahaha. Tapi, aku tak bernafsu untuk menanyakan ini. Karena sekali tidak disetujui, yasudah. Selesai. Setidaknya, aku bersyukur akhirnya Tuhan memberiku jawaban terbaik-Nya untukku. Ini sama seperti dulu saat aku istikharah tentang pindah sekolah. Tepat dua minggu, Allah memberiku jawaban. Tambahannya, aku harus menyelesaikan nadzar puasa Daud sampai akad.

Kamu orang baik, makanya kamu dijodohkan dengan yang lebih baik. Saya juga percaya saya orang baik dan akan dijodohkan dengan orang yang baik pula. Jodoh itu memang tetap di tangan Tuhan. ;)

Kesalahan saya adalah, saya terlalu memakai hati saat kamu melancarkan banyak pertanyaan tentang pernikahan. Kamu, tidak pernah salah. Kamu, orang baik yang pernah saya kenal. Terimakasih karena telah mengajariku banyak hal ya.

Muhammad, hari ini, dengan niat karena Allah, aku mengikhlaskanmu kepada-Nya. Aku memilih untuk mengikuti pilihan orangtuaku yang dapat mendatangkan keridhoan orangtuaku.

Sampai di sini kisah kita.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar