Rabu, 03 Agustus 2016

PENUTUP

"Tapi, kemarin ada yang ketinggalan.."

"Apa?" Tanyaku.

"Maaf... dulu lagi pas kita bahas tentang perkenalan keluarga dan karakter..memang saya punya rasa suka untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan.. namun saya takut kualat dengan prinsipku, jadi bagaimana saya bisa ndak memikirkan perempuan walaupun itu juga terpikirkan.. maaf yah udah bikin resah."

"Saya ingin belajar dulu... sehingga hasilnya bisa maksimal"

"Jadi, itu bukan sekedar kamu menganggap saya temen? Soal kamu dulu bilang rindu, suka, dan cemburu, itu bukan main-main?" tanyaku, memastikan.

"Ngapain suka dipermainkan.. tapi saya ingin fokus belajar dulu. Saya hanya kagum sama kamu. Semoga orang yang mendapatkanmu orang yang sekufu. Karena orang baik sepertimu insyaa' Allah mendapatkan yang baik pula."

"Bila suatu saat tidak berjodoh, semoga dijodohkan oleh Allah dengan yang lebih baik. Saya takut akhirnya kecewa... karena jodoh hanya Allah yang tahu."

"Kita jalani hidup ini dengan kata 'sahabat sejati' atau 'saudara' aja.. jangan dengan kata 'pacaran'... biar suatu saat ndak ada yang kecewa..."

* * *

Hari ini, aku merasakan perasaan saat kau menuliskan kalimat-kalimat itu dua bulan yang lalu. Aku ingin, kalimat-kalimat itu yang menjadi penutup surat-suratku ini. Meskipun, sepuluh surat ini sama sekali tak mungkin kau baca.

Kau tahu perasaan apa itu?

Aku menangis, Muhammad. Menangis lagi. Bukan karena kau menjauh, bukan karena kau menyakitiku. Aku menangis karena menyadari hal-hal menakjubkan yang baru ku tahu, yang ada dalam dirimu. Hal-hal yang ku ketahui itu membuatku merasa jatuh terhempas, merasa tak pantas.

Muhammad..
Aku kini sadar betul siapa aku. Hari ini, sempurna sudah ku dengar keistimewaan dari dalam dirimu sendiri.
Selamat yaa. Selamat karena pasti di semester ini, kau akan menjadi mahasiswa terbaik di FUHUM. Semoga, kau juga terbaik se-universitas. Kau akan mendapat beasiswa lagi di sini. Kita positif akan berpisah.

3,90 dan 3,87 .. itu selisih IPK kita semester ini.

Muhammad..
Aku kagum denganmu. Baru ku temukan lelaki hebat sepertimu. Pintar, cerdas, sholih. Selalu istiqomah.

Seperti kata-katamu di awal tahun ini:
"Aku kagum denganmu. Baru ku temukan perempuan hebat sepertimu. Pintar, cerdas, sholihah. Selalu istiqomah."

Apa yang kau katakan padaku, apa yang menjadi pujianmu padaku, apa yang menjadi perasaanmu, ternyata menjadi apa yang ingin ku katakan padamu, apa yang menjadi pujianku padamu, dan apa yang menjadi perasaanku.

Muhammad..
Aku menyimpanmu dalam kenangan. Sembilan puluh empat halaman percakapan kita di Black Berry Messenger selama satu tahun ini, ku simpan rapi dalam komputerku. Tak ada yang terlewatkan, dan percakapan di atas adalah penutup dari kenangan yang tersimpan itu.

Ada banyak. Bukan hanya percakapan di situ saja. Semua yang ada di pesan singkat (SMS), inbox (Messenger-Facebook), bahkan peristiwa yang kita alami, semua ku tulis kembali dan ku simpan dengan baik di sini. Foto-foto yang dikirim temanku tentangmu, yang dikirim sepupumu, dan foto-foto kita yang tanpa sengaja. Musik, lagu, yang menjadi kenangan antara kau dan aku. Ku simpan semua.

Muhammad..
Aku tidak tahu, apakah ini maksudku untuk menyerah? Yang ku tahu, setiap kali aku mencobanya, tak pernah bisa. Tuhan lebih berkuasa menjadikan kita lagi dan lagi, terus dan terus, bertemu tanpa disengaja.

Tak ada yang bisa ku perbuat, selain menunggu. Bukan menunggumu untuk memilihku, tapi menunggu Tuhan apakah berkenan menghapus rasaku? Meskipun ada sedikit bisikan hati yang ingin jika Tuhan memberikan keputusan agar kau untukku, dan aku untukmu. Bisikan tentang harapan dimana rasa-rasa sendu ini berubah menjadi rasa yang paling indah.

Tetapi... sekali lagi ku ulangi: aku merasa tak pantas untukmu, sekalipun perasaan itu sama besarnya dengan perasaan ingin Tuhan menakdirkanku bersamamu.

Aku juga sadar, cintaku salah.
Aku merasa pedih dengan hatiku yang terbang tinggi karena mendapati kesempurnaan yang Tuhan berikan padamu.

Kamu...memang lelaki hebat. Lelaki sholih. Pintar. Cerdas.

Aku tidak tahu kapan kita akan berakhir? Kapan aku dan kamu berpisah? Yang aku tahu, lima bulan lagi, kita akan segera diwisuda.. lalu melanjutkan hidup masing-masing.

Kenangan-kenangan kita hari ini memang kembali lagi. Kenangan dimana kau menjadi guruku, mengajariku banyak hal, me-review semua pelajaran di kuliah kita selama tiga tahun ini, untuk ujian nanti. Kenangan di mana pertama kalinya kau memakan apa yang ku buat dengan tanganku sendiri.

Jika kau lupa apa nama kuenya, biar ku ingatkan: itu namanya KUE RAMBUTAN. Itu kue kesukaanku.
Aku senang kau menikmatinya. Bahkan kau yang menjadi penikmat terakhir dari satu butir cookies yang tersisa.

Mungkin, selama dua minggu ke depan, kita akan bertemu setiap hari untuk belajar bersama lagi. Bahkan mungkin kita akan piknik bersama, mengunjungi tempat pariwisata bersama teman-teman kita. Tetapi, aku akan menikmatinya sebagai seorang sahabat, seorang saudara, sebagaimana perasaanku ketika bersama sepupumu, atau teman-temanmu Mba Fida, Uci, dan kawan-kawan.

Ku anggap, inilah kenangan-kenangan terakhir kita, sebelum kita PPL, KKN, KKL.
Mungkin, kita akan bertemu lagi di ujian Munaqosah. Juga mungkin, di wisuda bulan Januari 2017 nanti, akan menjadi pertemuan terakhir kita. Aku tidak pernah tahu skenario Tuhan kecuali setelah kita mengalaminya.

Aku menerima semua ini, Muhammad.
Aku sadar aku tak pantas berharap menjadi pilihan terakhirmu.
Aku sadar aku tak pantas berimajinasi mendidik generasi qur'ani bersamamu.
Aku sadar aku tak pantas bermimpi meraih cita-cita bersamamu.
Sekalipun ada banyak hal yang sama di antara kita. Sekalipun ada banyak suara yang mendukung kita.

Aku serahkan ini pada Tuhan. Bukan padamu. Sebab, jika Tuhan berkehendak memerintahkanku memilihmu, maka pasti Dia yang akan menggerakkan dan memantapkan hatimu untuk bertemu Ayahku, orang yang paling mirip denganmu.

Mamad Muhammad Fauzil Abad, aku berharap ini terakhir kalinya aku jatuh cinta. Sekalipun aku tidak tahu apakah Tuhan menjadikanmu cinta terakhir yang dapat ku miliki?
Aku...terlalu trauma untuk jatuh cinta. Kini aku tahu bagaimana caranya untuk tidak jatuh cinta lagi. Jadi, sekalipun nanti ternyata kau bukan jodohku, meski nanti aku menangis, aku tetap bisa menjalani hidupku, meraih impian-impianku.

Karena masa laluku sebelum bertemu denganmu terlalu suram, dan masa sekarang bersamamu terlalu menggetarkan.

Aku tidak menyesal mengenalmu. Justru aku bersyukur, dengan mengenalmu, aku tahu betapa indahnya mencintai karena Allah, bagaimana menjaga diri karena-Nya, bagaimana mempertahankan prinsip demi keimanan dan agama kita.

Muhammad..
Aku, tidak akan mengejarmu, dan tidak akan lagi berbuat hal yang mempermalukanku sendiri.
Kenangan-kenangan itu akan ku simpan meski mungkin tak ingin ku kenang kembali. Tetapi, jangan berprasangka yang tidak-tidak, karena kenangan bersamamu semuanya indah, bermanfaat, dan penuh berkah.

Akhirnya, surat ini ku akhiri dengan sempurna.
Aku tak berharap kau membacanya. Karena, cukup menuliskan hal-hal ini, hatiku merasa lega. Karena, sebenarnya, masih banyak hal yang ingin ku utarakan, namun tak sanggup tanganku merangkainya.

Muhammad..
Saat ini, aku ingin mengalihkan duniaku dengan mimpi-mimpiku. Aku bermimpi menjadi seorang penghafal Quran yang tidak hanya hafal lafadz dan makna, tetapi hidup di dalamnya. Aku punya mimpi mengajar anak-anak yang ada di sekitarku nanti untuk cinta pada al Quran. Makanya setelah lulus ini, aku ingin ke Bandung, mencari lowongan menjadi pengasuh di pesantren Quran sambil belajar lebih dalam. Aku ingin menirumu yang tak pernah lelah memperbaiki diri dengan ilmu.

Jika ternyata kau tidak memilihku, tak apa. Bagiku, sudah cukup untuk mencintai. Sudah cukup untuk tahu rasanya dicintai. Aku menunggu 'saat' itu tiba. 'Saat' dimana aku dapat memberikan hadiahku pada Sang Cahaya.

Semangaat ya, Muhammad. :)
Ku akhiri surah ini dengan ungkapan maafku yang sebesar-besarnya, dan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.
Sampai jumpa lagi.

Habibah.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

"Aku pulang dulu ya, Habibah.."


"Iya, Muhammad. Hati-hati."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar