Selasa, 23 Agustus 2016

Ku fikir, aku tak punya lagi kaa-kata yang akan ku sampaikan setelah perjalanan terakhir kita kemarin di candi gedung songo, tanggal 14 Agustus 2016 lalu. Ternyata, anggapan perpisahan kita tidak pernah terjadi.

Termasuk tentang screenshoot status kamu di facebook. Sebenarnya, ada banyak yang ingin ku tanyakan. Tetapi, aku takut kau menganggapku terlalu agresif.
aku hanya ingin bertanya, mengapa kau menulis status tegas seperti itu setelah ku katakan tentang tanggapan positif Ayahku terhadapmu? Apakah status itu untukku? Atau, kau sudah punya calon?
Saat di rumah kemarin, aku sedih melihat statusmu. Ku fikir itu untukku, dan itu tanda bahwa kau sudah tidak ingin memilihku lagi. Tapi, benarkah?
Aku bercerita soal ini ke Ayah-Ibuku. Ibuku bilang, 4 tahun kelamaan. Tetapi Ayahku terlanjur suka padamu. Muhammad, apa yang membuatmu mengambil keputusan seperti itu?

Apakah kau sudah tidak bingung lagi memilih calon istri? Apakah aku ada dalam pilihanmu? Apakah 4 tahun lagi, kau akan mengakhiri masa lajangmu denganku?

Aku, mengadukanmu pada Tuhan kita, Allah. Sebab, dg-Nya lah aku dapat meminta petunjuk apakah kita berjodoh atau tidak. Memang, belum ada jawaban yang jelas dari-Nya. Tetapi, aku takkan berhenti meminta petunjuk itu.

Jujur, Muhammad. Interaksi kita tentang keluarga di tahun lalu, seperti prosesi taaruf, dan dari situ, aku mulai berfikir untuk memilih.

Aku, memilihmu. Sekarang, aku tidak dekat dengan laki-laki manapun. Helmiy, Edy, aku sudah tidak lagi membuka pintu untuk mereka. Apalagi, Ayah dan Ibuku setuju denganmu.

Aku memilihmu berdasarkan kriteria dari nabi. Dan yang paling ku pilih adalah agamamu. Aku yakin kau bisa mendidikku. Kita bisa membangun rumah tangga dengan dasar takwa kita kepada Allah. Kita bisa berjalan bersama menuju Allah. Membangun generasi yg cinta Allah, cinta nabi, cinta Quran, dan cinta hikmah. Kita bisa saling melengkapi dan menguatkan. Apakah kamu juga mau memilihku?

Kalau iya, aku ingin sekali mengajakmu sama-sama istikharah. Meminta petunjuk Allah apakah pilihan kita benar? Karena dengan istikharah, Allah pasti akan memberikan jalan keluar dari kesulitan kesulitan yang ada pada kita. Kalau misal kita berjodoh, Allah asti akan membuka rezeki untuk kita, Allah kuatkan kita, Allah mantapkan hati kita dan keluarga kita, dan Allah permudah semuanya.

Itu, kalau kau juga telah memilihku.

Sebab aku takut melanggar janji dan prinsipku pada Allah. Aku hanya ingin mencintai di bawah naungan ridha Allah.

Muhammad, kata Ayah, kita selesaikan dulu S1 ini. Setelah S1, kau diperkenankan untuk berkenalan dengan Ayah Ibuku. Itu, kalau kau memang telah memilihku. Kita bisa sama-sama melanjutkan S2 kalau kita sama-sama mendapat beasiswa. Bukan tergesa-gesa, tetapi Ayah Ibuku takut kita terjerumus dalam dosa.

Mungkin kau akan marah dan menganggap aku tak berlogika berkata spt itu. Soal materi kan yang sulit? Apa ini yang membuatmu mengambil keputusan untuk menikah 4 tahun lagi? dengan rencana selama 4 tahun kau akan persiapkan materi? Tapi, apakah tidak sejak dulu kau menabung? Allah Maha Kaya.. Ingat surah An Nur ttg Allah yg akan memberi kekayaan kepada pemuda-pemudi yang mengambil jalan halal?

Aku tidak akan berhenti istikharah. Aku meminta petunjuk pada Allah. Aku percaya, kalau kita berjodoh, Allah pasti akan memberi jawaban lewat banyak kemudahan dan kemantapan hati. Kalau kita tidak berjodoh, aku yakin Allah akan memberiku jodoh yang lebih baik darimu dan sekufu denganku.

Di sini.. Ku utarakan niat suciku. Aku siap hidup denganmu dari nol, berjuang bersama, karena Allah. Kita bisa menjalankan peran masing-masing sebagai suami-istri nanti dengan menegakkan hukum Allah. Soal rezeki, aku percaya kata-katamu dulu, bahwa kau akan berusaha keras. Kalau kita sama-sama melanjutkan S2, kita bisa sama-sama belajar dan berjuang. Kita bisa meraih mimpi bersama. Aku yakin, pengetahuanmu soal pernikahan sudah cukup untuk membangun pondasinya. Materialmu, dari pekerjaanmu menjadi seorang ustadz juga cukup, dan kita bisa mengelola pesantren bersama kelak. aku juga bisa menjadi pengasuh santri rumah tahfidz, dan kita bisa saling berbagi. Taqwa? Bukankah menikah adalah jalan kita bertakwa kepada Allah? Kau lebih tahu bahwa taqwa artinya menjaga dari sesuatu yg tdk disukainya. Menikah adalah jalan itu. agama kita selamat separuhnya. Separuh lagi, bisa kita perjuangkan bersama, jika dasar rumah tangga kita adalah meraih keridhaan Allah.

Semoga Allah memberi jawaban terbaik atas persoalan ini. aku bertawakkal pada-Nya, Muhammad. Ku harap kau juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar