Senin, 29 Agustus 2016

Ending Story

"Saya mau jujur... tapi jangan marah ya?..."
"Lagi semester kemarin.. saya bicara tentangmu pada keluarga saya... tapi mereka ndak setuju.. dengan alasan bla..bla.. jadi dulu saya sempat bicara tidak untuk dilanjutkan. Saya takut sampean berharap.. saya yang paling takut ucapan orangtua dan kyaiku.. Aku disarankan sama orangtuaku untuk bersama orang pilihan mereka. Mohon untuk tidak memutus silaturrahim. Setelah disarankan oleh orangtuaku.. saat idul fitri saya ketemu sama dia.. dengan orangtuanya dia.. mohon maaf.. tapi saya juga sudah bilang mau S2 dulu.. Alhamdulillaah saling mau nunggu. Mohon untuk tidak memutus silaturrahim..."

---

Sudah dua minggu, aku melakukan shalat istikharah untuk mengambil sebuah keputusan. Dan hari ini, semua itu terjawab dengan gamblang. Ternyata, apa yang waktu itu kau tuliskan adalah sebuah kesalahan. Nyatanya, aku yang terlalu berharap dan nggak tahu kalau ternyata itu typo.

Muhammad, saat kau memberitahu berita ini, anehnya, hatiku tidak sakit. Mataku tidak berair. Inginnya, memaksakan diri menangis atau baper seperti yang pernah aku lakukan. Saat berpisah dengan Helmiy, aku menangis sejadi-jadinya, tapi denganmu? Ya mungkin ini jawaban terindah dari Tuhan. :)

Sebab, selama dua minggu ini, aku berdoa, "Ya Allah, jika Mamad Muhammad Fauzil Abad adalah jodohku, baik bagi agamaku, duniaku, akhiratku, keluargaku, dekatkanlah. Segerakanlah. Mantapkanlah hatinya dan hati keluarganya. Mantapkanlah hati hamba dan hati keluarga hamba. Jika Mamad Muhammad Fauzil Abad bukan jodohku, jauhkanlah segera, dan jadikan hatiku ikhlas serta ridho menerima keputusan-Mu. Sembuhkanlah hatiku. Gantikanlah dengan yang lebih baik darinya, dan sekufu denganku. Karena sesungguhnya, Habibah ingin jodoh yang cinta kepada-Mu, kepada rasul-Mu, kepada al Quran-Mu, kepada Sunnah Nabi-Mu, dan mengajak hamba menikah untuk meraih keridhaan-Nya."

Ternyata, doa itu dikabulkan oleh-Nya. Allah menjauhkanmu dariku dengan segera. Seperti kabar yang ku dengar hari ini. Tanpa rasa sakit yang berlebihan, tetapi keikhlasan yang menenangkan. Kamu, bukanlah jodohku. Sekalipun baik sekali bagi kehidupanku.

Kamu takut ya saya berharap berlebihan? Apalagi jika kau membaca surat-surat sebelum akhir kisah ini? Hahaha. Ya wajarlah, saya perempuan. Mana mungkin saya tidak punya harapan?

Sebenarnya, saya ingin bertanya mengapa keluargamu tidak setuju dengan saya? Apakah karena ajaran kita yang berbeda? Berbeda dalam hal apa? Hahaha. Tapi, aku tak bernafsu untuk menanyakan ini. Karena sekali tidak disetujui, yasudah. Selesai. Setidaknya, aku bersyukur akhirnya Tuhan memberiku jawaban terbaik-Nya untukku. Ini sama seperti dulu saat aku istikharah tentang pindah sekolah. Tepat dua minggu, Allah memberiku jawaban. Tambahannya, aku harus menyelesaikan nadzar puasa Daud sampai akad.

Kamu orang baik, makanya kamu dijodohkan dengan yang lebih baik. Saya juga percaya saya orang baik dan akan dijodohkan dengan orang yang baik pula. Jodoh itu memang tetap di tangan Tuhan. ;)

Kesalahan saya adalah, saya terlalu memakai hati saat kamu melancarkan banyak pertanyaan tentang pernikahan. Kamu, tidak pernah salah. Kamu, orang baik yang pernah saya kenal. Terimakasih karena telah mengajariku banyak hal ya.

Muhammad, hari ini, dengan niat karena Allah, aku mengikhlaskanmu kepada-Nya. Aku memilih untuk mengikuti pilihan orangtuaku yang dapat mendatangkan keridhoan orangtuaku.

Sampai di sini kisah kita.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. ^_^

Selasa, 23 Agustus 2016

Ku fikir, aku tak punya lagi kaa-kata yang akan ku sampaikan setelah perjalanan terakhir kita kemarin di candi gedung songo, tanggal 14 Agustus 2016 lalu. Ternyata, anggapan perpisahan kita tidak pernah terjadi.

Termasuk tentang screenshoot status kamu di facebook. Sebenarnya, ada banyak yang ingin ku tanyakan. Tetapi, aku takut kau menganggapku terlalu agresif.
aku hanya ingin bertanya, mengapa kau menulis status tegas seperti itu setelah ku katakan tentang tanggapan positif Ayahku terhadapmu? Apakah status itu untukku? Atau, kau sudah punya calon?
Saat di rumah kemarin, aku sedih melihat statusmu. Ku fikir itu untukku, dan itu tanda bahwa kau sudah tidak ingin memilihku lagi. Tapi, benarkah?
Aku bercerita soal ini ke Ayah-Ibuku. Ibuku bilang, 4 tahun kelamaan. Tetapi Ayahku terlanjur suka padamu. Muhammad, apa yang membuatmu mengambil keputusan seperti itu?

Apakah kau sudah tidak bingung lagi memilih calon istri? Apakah aku ada dalam pilihanmu? Apakah 4 tahun lagi, kau akan mengakhiri masa lajangmu denganku?

Aku, mengadukanmu pada Tuhan kita, Allah. Sebab, dg-Nya lah aku dapat meminta petunjuk apakah kita berjodoh atau tidak. Memang, belum ada jawaban yang jelas dari-Nya. Tetapi, aku takkan berhenti meminta petunjuk itu.

Jujur, Muhammad. Interaksi kita tentang keluarga di tahun lalu, seperti prosesi taaruf, dan dari situ, aku mulai berfikir untuk memilih.

Aku, memilihmu. Sekarang, aku tidak dekat dengan laki-laki manapun. Helmiy, Edy, aku sudah tidak lagi membuka pintu untuk mereka. Apalagi, Ayah dan Ibuku setuju denganmu.

Aku memilihmu berdasarkan kriteria dari nabi. Dan yang paling ku pilih adalah agamamu. Aku yakin kau bisa mendidikku. Kita bisa membangun rumah tangga dengan dasar takwa kita kepada Allah. Kita bisa berjalan bersama menuju Allah. Membangun generasi yg cinta Allah, cinta nabi, cinta Quran, dan cinta hikmah. Kita bisa saling melengkapi dan menguatkan. Apakah kamu juga mau memilihku?

Kalau iya, aku ingin sekali mengajakmu sama-sama istikharah. Meminta petunjuk Allah apakah pilihan kita benar? Karena dengan istikharah, Allah pasti akan memberikan jalan keluar dari kesulitan kesulitan yang ada pada kita. Kalau misal kita berjodoh, Allah asti akan membuka rezeki untuk kita, Allah kuatkan kita, Allah mantapkan hati kita dan keluarga kita, dan Allah permudah semuanya.

Itu, kalau kau juga telah memilihku.

Sebab aku takut melanggar janji dan prinsipku pada Allah. Aku hanya ingin mencintai di bawah naungan ridha Allah.

Muhammad, kata Ayah, kita selesaikan dulu S1 ini. Setelah S1, kau diperkenankan untuk berkenalan dengan Ayah Ibuku. Itu, kalau kau memang telah memilihku. Kita bisa sama-sama melanjutkan S2 kalau kita sama-sama mendapat beasiswa. Bukan tergesa-gesa, tetapi Ayah Ibuku takut kita terjerumus dalam dosa.

Mungkin kau akan marah dan menganggap aku tak berlogika berkata spt itu. Soal materi kan yang sulit? Apa ini yang membuatmu mengambil keputusan untuk menikah 4 tahun lagi? dengan rencana selama 4 tahun kau akan persiapkan materi? Tapi, apakah tidak sejak dulu kau menabung? Allah Maha Kaya.. Ingat surah An Nur ttg Allah yg akan memberi kekayaan kepada pemuda-pemudi yang mengambil jalan halal?

Aku tidak akan berhenti istikharah. Aku meminta petunjuk pada Allah. Aku percaya, kalau kita berjodoh, Allah pasti akan memberi jawaban lewat banyak kemudahan dan kemantapan hati. Kalau kita tidak berjodoh, aku yakin Allah akan memberiku jodoh yang lebih baik darimu dan sekufu denganku.

Di sini.. Ku utarakan niat suciku. Aku siap hidup denganmu dari nol, berjuang bersama, karena Allah. Kita bisa menjalankan peran masing-masing sebagai suami-istri nanti dengan menegakkan hukum Allah. Soal rezeki, aku percaya kata-katamu dulu, bahwa kau akan berusaha keras. Kalau kita sama-sama melanjutkan S2, kita bisa sama-sama belajar dan berjuang. Kita bisa meraih mimpi bersama. Aku yakin, pengetahuanmu soal pernikahan sudah cukup untuk membangun pondasinya. Materialmu, dari pekerjaanmu menjadi seorang ustadz juga cukup, dan kita bisa mengelola pesantren bersama kelak. aku juga bisa menjadi pengasuh santri rumah tahfidz, dan kita bisa saling berbagi. Taqwa? Bukankah menikah adalah jalan kita bertakwa kepada Allah? Kau lebih tahu bahwa taqwa artinya menjaga dari sesuatu yg tdk disukainya. Menikah adalah jalan itu. agama kita selamat separuhnya. Separuh lagi, bisa kita perjuangkan bersama, jika dasar rumah tangga kita adalah meraih keridhaan Allah.

Semoga Allah memberi jawaban terbaik atas persoalan ini. aku bertawakkal pada-Nya, Muhammad. Ku harap kau juga.

Rabu, 03 Agustus 2016

PENUTUP

"Tapi, kemarin ada yang ketinggalan.."

"Apa?" Tanyaku.

"Maaf... dulu lagi pas kita bahas tentang perkenalan keluarga dan karakter..memang saya punya rasa suka untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan.. namun saya takut kualat dengan prinsipku, jadi bagaimana saya bisa ndak memikirkan perempuan walaupun itu juga terpikirkan.. maaf yah udah bikin resah."

"Saya ingin belajar dulu... sehingga hasilnya bisa maksimal"

"Jadi, itu bukan sekedar kamu menganggap saya temen? Soal kamu dulu bilang rindu, suka, dan cemburu, itu bukan main-main?" tanyaku, memastikan.

"Ngapain suka dipermainkan.. tapi saya ingin fokus belajar dulu. Saya hanya kagum sama kamu. Semoga orang yang mendapatkanmu orang yang sekufu. Karena orang baik sepertimu insyaa' Allah mendapatkan yang baik pula."

"Bila suatu saat tidak berjodoh, semoga dijodohkan oleh Allah dengan yang lebih baik. Saya takut akhirnya kecewa... karena jodoh hanya Allah yang tahu."

"Kita jalani hidup ini dengan kata 'sahabat sejati' atau 'saudara' aja.. jangan dengan kata 'pacaran'... biar suatu saat ndak ada yang kecewa..."

* * *

Hari ini, aku merasakan perasaan saat kau menuliskan kalimat-kalimat itu dua bulan yang lalu. Aku ingin, kalimat-kalimat itu yang menjadi penutup surat-suratku ini. Meskipun, sepuluh surat ini sama sekali tak mungkin kau baca.

Kau tahu perasaan apa itu?

Aku menangis, Muhammad. Menangis lagi. Bukan karena kau menjauh, bukan karena kau menyakitiku. Aku menangis karena menyadari hal-hal menakjubkan yang baru ku tahu, yang ada dalam dirimu. Hal-hal yang ku ketahui itu membuatku merasa jatuh terhempas, merasa tak pantas.

Muhammad..
Aku kini sadar betul siapa aku. Hari ini, sempurna sudah ku dengar keistimewaan dari dalam dirimu sendiri.
Selamat yaa. Selamat karena pasti di semester ini, kau akan menjadi mahasiswa terbaik di FUHUM. Semoga, kau juga terbaik se-universitas. Kau akan mendapat beasiswa lagi di sini. Kita positif akan berpisah.

3,90 dan 3,87 .. itu selisih IPK kita semester ini.

Muhammad..
Aku kagum denganmu. Baru ku temukan lelaki hebat sepertimu. Pintar, cerdas, sholih. Selalu istiqomah.

Seperti kata-katamu di awal tahun ini:
"Aku kagum denganmu. Baru ku temukan perempuan hebat sepertimu. Pintar, cerdas, sholihah. Selalu istiqomah."

Apa yang kau katakan padaku, apa yang menjadi pujianmu padaku, apa yang menjadi perasaanmu, ternyata menjadi apa yang ingin ku katakan padamu, apa yang menjadi pujianku padamu, dan apa yang menjadi perasaanku.

Muhammad..
Aku menyimpanmu dalam kenangan. Sembilan puluh empat halaman percakapan kita di Black Berry Messenger selama satu tahun ini, ku simpan rapi dalam komputerku. Tak ada yang terlewatkan, dan percakapan di atas adalah penutup dari kenangan yang tersimpan itu.

Ada banyak. Bukan hanya percakapan di situ saja. Semua yang ada di pesan singkat (SMS), inbox (Messenger-Facebook), bahkan peristiwa yang kita alami, semua ku tulis kembali dan ku simpan dengan baik di sini. Foto-foto yang dikirim temanku tentangmu, yang dikirim sepupumu, dan foto-foto kita yang tanpa sengaja. Musik, lagu, yang menjadi kenangan antara kau dan aku. Ku simpan semua.

Muhammad..
Aku tidak tahu, apakah ini maksudku untuk menyerah? Yang ku tahu, setiap kali aku mencobanya, tak pernah bisa. Tuhan lebih berkuasa menjadikan kita lagi dan lagi, terus dan terus, bertemu tanpa disengaja.

Tak ada yang bisa ku perbuat, selain menunggu. Bukan menunggumu untuk memilihku, tapi menunggu Tuhan apakah berkenan menghapus rasaku? Meskipun ada sedikit bisikan hati yang ingin jika Tuhan memberikan keputusan agar kau untukku, dan aku untukmu. Bisikan tentang harapan dimana rasa-rasa sendu ini berubah menjadi rasa yang paling indah.

Tetapi... sekali lagi ku ulangi: aku merasa tak pantas untukmu, sekalipun perasaan itu sama besarnya dengan perasaan ingin Tuhan menakdirkanku bersamamu.

Aku juga sadar, cintaku salah.
Aku merasa pedih dengan hatiku yang terbang tinggi karena mendapati kesempurnaan yang Tuhan berikan padamu.

Kamu...memang lelaki hebat. Lelaki sholih. Pintar. Cerdas.

Aku tidak tahu kapan kita akan berakhir? Kapan aku dan kamu berpisah? Yang aku tahu, lima bulan lagi, kita akan segera diwisuda.. lalu melanjutkan hidup masing-masing.

Kenangan-kenangan kita hari ini memang kembali lagi. Kenangan dimana kau menjadi guruku, mengajariku banyak hal, me-review semua pelajaran di kuliah kita selama tiga tahun ini, untuk ujian nanti. Kenangan di mana pertama kalinya kau memakan apa yang ku buat dengan tanganku sendiri.

Jika kau lupa apa nama kuenya, biar ku ingatkan: itu namanya KUE RAMBUTAN. Itu kue kesukaanku.
Aku senang kau menikmatinya. Bahkan kau yang menjadi penikmat terakhir dari satu butir cookies yang tersisa.

Mungkin, selama dua minggu ke depan, kita akan bertemu setiap hari untuk belajar bersama lagi. Bahkan mungkin kita akan piknik bersama, mengunjungi tempat pariwisata bersama teman-teman kita. Tetapi, aku akan menikmatinya sebagai seorang sahabat, seorang saudara, sebagaimana perasaanku ketika bersama sepupumu, atau teman-temanmu Mba Fida, Uci, dan kawan-kawan.

Ku anggap, inilah kenangan-kenangan terakhir kita, sebelum kita PPL, KKN, KKL.
Mungkin, kita akan bertemu lagi di ujian Munaqosah. Juga mungkin, di wisuda bulan Januari 2017 nanti, akan menjadi pertemuan terakhir kita. Aku tidak pernah tahu skenario Tuhan kecuali setelah kita mengalaminya.

Aku menerima semua ini, Muhammad.
Aku sadar aku tak pantas berharap menjadi pilihan terakhirmu.
Aku sadar aku tak pantas berimajinasi mendidik generasi qur'ani bersamamu.
Aku sadar aku tak pantas bermimpi meraih cita-cita bersamamu.
Sekalipun ada banyak hal yang sama di antara kita. Sekalipun ada banyak suara yang mendukung kita.

Aku serahkan ini pada Tuhan. Bukan padamu. Sebab, jika Tuhan berkehendak memerintahkanku memilihmu, maka pasti Dia yang akan menggerakkan dan memantapkan hatimu untuk bertemu Ayahku, orang yang paling mirip denganmu.

Mamad Muhammad Fauzil Abad, aku berharap ini terakhir kalinya aku jatuh cinta. Sekalipun aku tidak tahu apakah Tuhan menjadikanmu cinta terakhir yang dapat ku miliki?
Aku...terlalu trauma untuk jatuh cinta. Kini aku tahu bagaimana caranya untuk tidak jatuh cinta lagi. Jadi, sekalipun nanti ternyata kau bukan jodohku, meski nanti aku menangis, aku tetap bisa menjalani hidupku, meraih impian-impianku.

Karena masa laluku sebelum bertemu denganmu terlalu suram, dan masa sekarang bersamamu terlalu menggetarkan.

Aku tidak menyesal mengenalmu. Justru aku bersyukur, dengan mengenalmu, aku tahu betapa indahnya mencintai karena Allah, bagaimana menjaga diri karena-Nya, bagaimana mempertahankan prinsip demi keimanan dan agama kita.

Muhammad..
Aku, tidak akan mengejarmu, dan tidak akan lagi berbuat hal yang mempermalukanku sendiri.
Kenangan-kenangan itu akan ku simpan meski mungkin tak ingin ku kenang kembali. Tetapi, jangan berprasangka yang tidak-tidak, karena kenangan bersamamu semuanya indah, bermanfaat, dan penuh berkah.

Akhirnya, surat ini ku akhiri dengan sempurna.
Aku tak berharap kau membacanya. Karena, cukup menuliskan hal-hal ini, hatiku merasa lega. Karena, sebenarnya, masih banyak hal yang ingin ku utarakan, namun tak sanggup tanganku merangkainya.

Muhammad..
Saat ini, aku ingin mengalihkan duniaku dengan mimpi-mimpiku. Aku bermimpi menjadi seorang penghafal Quran yang tidak hanya hafal lafadz dan makna, tetapi hidup di dalamnya. Aku punya mimpi mengajar anak-anak yang ada di sekitarku nanti untuk cinta pada al Quran. Makanya setelah lulus ini, aku ingin ke Bandung, mencari lowongan menjadi pengasuh di pesantren Quran sambil belajar lebih dalam. Aku ingin menirumu yang tak pernah lelah memperbaiki diri dengan ilmu.

Jika ternyata kau tidak memilihku, tak apa. Bagiku, sudah cukup untuk mencintai. Sudah cukup untuk tahu rasanya dicintai. Aku menunggu 'saat' itu tiba. 'Saat' dimana aku dapat memberikan hadiahku pada Sang Cahaya.

Semangaat ya, Muhammad. :)
Ku akhiri surah ini dengan ungkapan maafku yang sebesar-besarnya, dan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.
Sampai jumpa lagi.

Habibah.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

"Aku pulang dulu ya, Habibah.."


"Iya, Muhammad. Hati-hati."

Jumat, 29 Juli 2016

Surat Terakhirku untukmu, Muhammad.

Tak perduli seberapa miripnya kehidupanmu, cara hidupmu, keluargamu, dengan orang yang paling ku cintai ini, jika kau bukan yg ditakdirkan Tuhan untukku, aku akan mencoba ikhlas kok.

Ya meski harus baper di saat terakhir mendengar kisah tentang keluargamu dari sepupumu. Rumahmu, apa yang kau lakukan di sana, bagaimana ayah-ibumu, kakekmu, saudaramu. Meski jadi tahu apa yg akan kau lakukan nanti jika melanjutkan di Bandung. Dimana tempatnya.

Mengapa kau begitu istimewa? Mengapa aku menemukanmu di tengah impianku yg besar terhadap kota Bandung, dan mengapa kau membuatku terbawa perasaan yang amat sangat parah?

Apa aku harus mengurungkan diri pergi ke sana seperti Rania yang enggan pergi ke Korea supaya tdk bertemu Hyun Gun?

Kau curang. Memang curang. Kenapa kau ambil mimpi-mimpiku.😢 Aku punya mimpi melanjutkan ke Bandung, dan aku takut dianggap bahwa aku yg mengikutimu, aku yg mengambil mimpimu.

Impianku sejak kecil, jika aku gagal di al Azhar, aku ingin sekali membangun masa depan di Jabar, khususnya di kota Bandung.. Sblm merantau ke kota ini, sblm brtmu dgmu, aku gagal mewujudkan impianku ke kota Mesir. Apakah aku juga harus kehilangan mimpiku yg sangat sederhana ini?😢

aku senang sekaligus sedih mendengar kau mau melanjutkan di bandung. Katanya, kau akan tinggal di masjid dan mengajar di lembaga pendidikan itu dekat Cibiru-hilir. Tempat saudaramu. Mengapa mimpi kita sama? Aku senang sebenarnya. Tapi aku takut dibilang mengikutimu. Aku juga takut semakin mengagumimu kalau kita sama-sama di sana.

Ayahku saja sempat berkata,"Apa karena Muhammad mau ke Bandung jadi kamu ikut ke sana juga?"

Aku tidak suka dianggap begini. Aku tidak ingin kembali menjadi gadis agresif seperti di masa laluku dulu. Bandung memang impianku sejak dulu. Sebelum bertemu denganmu. Hanya saja, Ayah berkata begitu setelah mendengarku hampir menolak tawarannya. Ayah ingin aku mengambil kelas weekend S2 nanti kemudian mengelola rumah tahfidz di Pekalongan. Dan hari ini, ketika aku mendapati kenyataan betapa aku tidak pantas mengharapkanmu, aku berpikir untuk memilih tawaran Ayah. Aku berpikir untuk menerima beasiswa di Semarang.

Baiklah, entah mengapa aku berpikir untuk melanjutkan di kota Semarang mengikuti kemauan Ayahku. Mungkin bisa jadi karena kamu. Karena hanya ingin agar tidak bertemu denganmu lagi. Karena aku tak bisa memilihmu.

Bukan tidak bisa. Tapi aku merasa tidak pantas mengharapkanmu. 😢

Apa yang ku dengar semalam, membuatku menyadari betapa besarnya rasa cintaku padamu. Tetapi, semakin ku sadari besarnya cinta itu, semakin ku merasa putus asa terhadapmu.

Baiklah, akan ku ceritakan terakhir kalinya, apa yang ku tahu tentangmu selama dua tahun terakhir ini.

Pertama kali kenal denganmu, penampilanmu mirip sekali dengan penampilan ayahku dulu saat muda. Bahkan ayahku mengatakannya sendiri. 😢

Saat aku mulai tahu tentangmu, semakin yakin kau mirip dengannya. Masa mudamu, yg diisi dg mengajar bahasa Arab, mengajar anak-anak. Ibuku bilang, kau mirip sekali dengan Ayah.

Saat kau mulai mendekatiku, dan kita berbicara soal karakter calon suami-istri, pernikahan, keluarga, aku merasa kaulah yang ku cari selama ini. Kau yang ku inginkan. Ada hal yang ku yakini bahwa kau dapat membawaku dan mengajakku ke surga. aku merasa kita benar-benar cocok membangun keluarga. Prinsip kita sama. Kita sama-sama ingin mendidik anak seperti didikan generasi salaf dulu. Kau bisa bekerja sama denganku untuk mewujudkan keluarga penghafal Quran. Aku senang mendengar saat kita berbicara tentang hal ini. Saat kita masih dekat.

Seiring berjalannya waktu, aku mengenal sepupumu. Dia bercerita banyak tentang kebenaran yang kau ceritakan bahwa kau memang anak kyai. Dia jg bercerita bagaimana keadaanmu di rumah, bagaimana orangtuamu. Katanya, di rumah, Ibumu hanya suka menyetel quran atau sholawat. Ayahmu mengisi kajian. Waktu itu, aku terlalu terbawa perasaan karena kondisi keluarga kita sama. Ayahku mengisi kajian, dan Ibuku tidak trllu suka barang elektronik. TV di rumah hanya distel di dalam kamar orangtua. Persis sepertimu bukan?

Aku juga mendengar bagaimana kakekmu. Kakekmu adalah orang yang dulu punya pesantren, yang membangun lembaga pendidikan. Ayahmu yang melanjutkan. Sama denganku. Kakekku juga mendirikan pesantren dan menggaji banyak guru agama di Palu, Sulawesi Tengah, dan Ayahku yang melanjutkannya.

Saat kita tidak dekat lagi, saat ada seorang wanita yang menanyakan perihal kamu padaku, aku mengetahui banyak hal darimu tentang kehidupanmu di sini. Kau banyak yang suka. Orang-orang tahu kau siapa. Sedangkan aku tidak tahu kau seistimewa itu. Untuk itulah, aku pernah mengirimkan surat panjangku padamu, menyatakan bagaimana kondisi keluargaku. Aku bukan anak kyai. Aku hanya anak ustadz. Hanya kadang-kadang orang menganggap Ayahku kyai. Tapi Ayahku enggan dibilang kyai..

Mulai saat itu aku merasa minder. Kamu, apakah aku pantas mengharapkanmu? Kau sembunyikan semua keistimewaanmu, dan aku mengetahuinya di belakang. Tidak sptku yg bercerita sendiri dg mulutku. Betapa rendah hatinya kau, mendekatiku tanpa menampakkan kau siapa. Padahal orang-orang sudah tahu kau siapa. Maafkan aku yang tak bisa mengenalimu dengan baik.

Dan sekarang, semalam, ku dengar lagi cerita yang lebih lengkap tentangmu, tentang keluargamu, dan tentang rumahmu di Majalengka. Hatiku tak sanggup mendengar semuanya. Aku seolah merasa sama seperti wanita-wanita lain yang mengagumimu. Meskipun telah kau katakan kau suka padaku dulu untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan.

Sepupumu bilang, Ayahmu seorang yang hebat dan terkenal. Ayahmu tidak memperbolehkan kamu pacaran sebelum S2 dan kerja. Persis sepertiku. Ibumu sangat sayang padamu karena kau anak bungsu. Keluargamu punya lembaga pendidikan, dan kau ikut mengajar di sana. Sepupumu saja kadang-kadang disuruh ceramah. aku? Jauh di bawahmu. Jauh sekali. Ini hal terkeren yang pernah ku dengar, dan aku takut menjadi sangat mengagumimu dengan kondisi bahwa aku punya banyak kekurangan.

Meskipun aku senang saat sepupumu bilang, Ibu dan kakak-kakakkmu suka bikin cookies sepertiku, kakakku, dan Ibuku. Saat aku takut keluargamu tak menerimaku ketika sepupumu bicara soal kasih sayang ibumu yang amat besar, sepupumu menyampaikan hal ini seolah menenangkan.

Aku teringat kisah Ibuku ketika baru menikah dengan Ayah. Ibu dari Ayahku ikut mereka saking sayangnya dengan Ayah. Mengapa kehidupanmu harus sama dengan Ayah sehingga hatiku makin teruji?

Iya ini kabar baik kalau kita memiliki latar belakang, prinsip, karakter, dan cara hidup yang sama. Kita juga sama-sama pernah tahu isi hati masing-masing. Tapi, apa kamu masih bertahan dengan perasaan itu? Kalaupun iya, apa kau tahu kekuranganku? Kalau kau tahu, apa kau dapat menerimanya?

Setelah mengetahui banyak hal istimewa darimu, aku sulit menemukan kekuranganmu agar aku dapat melupakanmu. Justru, semakin ku lihat keistimewaanmu, semakin dalam ku lihat kekuranganku.

Kamu twadhu', benar-benar menyembunyikan semuanya. Aku tidak.
Kamu tampan, bersih, aku tidak.
Kamu anak kyai, orang kaya, nasabmu mulia. Sedangkan aku hanya anak ustadz, keluarga orang sederhana, nasabku juga tidak setenar kamu. Ayahku dulu hanya seorang petani yang mengasuh pesantren dan mendirikan madrasah. Tapi ini tidak sehebat seperti keluargamu yang sudah ku dengar sendiri dari Cucu, sepupumu.

Maaf, aku wanita..aku seperti ini..terbawa perasaan..

Hari ini aku sangat sedih karena menyadari betapa besar kekagumanku terhadapmu, lebih besar dari kekagumanmu padaku. Aku sedih mengapa aku merasa menjadi pihak yang paling punya rasa dan menganggap perasaanmu biasa-biasa saja untukku.

Aku tidak ingin pacaran. Aku ingin cinta ini untuk suamiku di masa depan. Tapi mengapa kini hatiku tak bisa ku jaga? Apakah cinta adalah tanda siap untuk menikah? Tapi kan itu hanya aku.

Ada satu hal lagi perbedaan di antara kita. Kalau suatu saat nanti ternyata kau masih menyimpan niatmu, apa kau bisa menerima keadaanku dan keluargaku seperti yang pernah ku ceritakan?

Ayahku seorang imam masjid, guru bahasa Arab, pengajar tafsir di pesantren tahfidz putra dekat rumah, dosen terbang di universitas swasta, dan pengisi kajian tafsir di Pekalongan-Batang-Wiradesa-Kabupaten. Kami tinggal di lingkungan Muhammadiyah, dan juga di lingkungan seperti NU, Salafi, Al Irsyad. Golongan aswaja. Tapi kami bukan termasuk salah satu yang fanatik di antara mereka. Ayah-ibuku adalah kader dari Al Khairat Palu, guru di sana dulu. Ayahku membawa kami dari satu perubahan ke perubahan di setiap ia belajar satu hal ke hal yang lain tentang al Quran, Hadits, dan Fiqh. Ayahku lama menjadi santri hingga mengabdi ke berbagai daerah di Indonesia. Sempat 7 semester kuliah Ahwal Syakhsiyah, sarjana ilmu hukum di Pekalongan, dan magister studi Islam di Semarang. Ibuku dulu 3 semester kuliah kedokteran UI, 5 semester kuliah syari'ah di sulawesi, sarjana ekonomi di Pekalongan, dan lulusan pendidikan keahlian herbalis. Ibuku seorang pedagang pakaian muslimah dan dokter herbal. Keluarga pihak ibuku beda dg ayah. Rata-rata berpendidikan umum. Ibuku asli Palembang yang lama hidup di Bandung. Ibu dari Ibuku sarjana agama. Ayah dari Ibuku sekolah umum. Kakek dari Ibuku di Palembang seorang tokoh agama di Lahat. Tapi keturunannya berpendidikan umum semua. Tidak seperti Ibumu yang bahkan keturunan dari Iran dan berpendidikan agama semua sampai anak-anaknya. Hanya keluarga Ayahku yang punya keturunan dari Hadrmaut dan Baghdad. Ibuku keturunan indo-cina. Tidak sepertimu yang Ayah-Ibu juga keluarga besarmu sempurna dan jelas. Asli seluruhnya Jawa Barat.

Ini perbedaan kita. Dunia kita yang tak sama. Kamu lebih istimewa dariku. Dan kenyataan ini membuatku berpikir apakah kau dapat menerimaku?

Ah, terlalu jauh. Apa kau masih menyimpan harapan itu?

Kita sama-sama takut kecewa dan dikecewakan.
Kita sama-sama takut sedih kalau tak berjodoh.

Tapi, perbedaan ini, dan prasangkaku tentangmu, membuatku ingin pergi. Mengapa aku merasa kau tak lagi berpikir soal ini? Apa kau tak penasaran bagaimana hatiku? Atau kau sudah tahu tapi tak mau memikirkannya?

Inilah yang membuatku ingin menulis surat terakhirku.
Kau benar, aku harus fokus menimba ilmu, dan kalau kita tidak berjodoh, semoga kita mendapat yang sekufu. Aamiin.

Terimakasih atas segalanya.
Aku tak pernah menyesal mengenalmu.
Justru banyak pelajaran yang dapat ku ambil dan ku teladani darimu.

Aku minta maaf.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh .

Selasa, 19 Juli 2016

Assalaamu'alaikum, Helmiy

Tak ada kekuatanku untuk memaksamu menjadi sepertiku yang dahulu. Antara cinta dan tidak cinta, itu tak bisa disamakan.

Baiklah, aku memang tak menyukai sifatmu, cara hidupmu, dan tak bisa bangga hidup denganmu. Tapi, apakah pernikahan hanya tentang itu?

Baiklah, silahkan jika ingin menyerah. Ada beban dalam hatiku yang sulit sekali orang tahu.

Tapi tak mengapa. Aku bisa mencoba dan mencoba lagi untuk terbiasa tanpamu. Ini hanya karena aku kurang konsisten meski telah berlalu satu tahun.

Satu-satunya jalanku adalah..pergi dari kota ini.

Selamat tinggal, Helmiy. Semoga bahagia dengan pilihanmu.

Wassalaam.

Senin, 18 Juli 2016

Surat ke-9: Aku Bimbang

Menemukan fakta memang menyakitkan. Tapi itu lebih baik dari pada terus-menerus hidup dalam Ilusi.

Aku bimbang. Ya, bimbang di saat kau lama tak menyapaku. Memang, kau Muhammad, memberiku ucapan doa dan selamat. Tapi, tidak terjadi interaksi di antara kita. Terlebih di pagi ini, aku menemukan fakta masa lalumu. Bersama mba Atus.

Tidak, aku tidak marah. Aku hanya kesal dengan diriku. Pada akhirnya, aku kembali bimbang dengan kalian berdua. Helmiy, dan Muhammad.

Helmiy, aku tidak tahu mengapa kembali mengharapkan usahamu. Padahal setahun ini aku sadar bahwa aku tidak punya alasan apapun untuk mempertahankanmu.

Kau mengakui bahwa tak ada yang dapat ku banggakan jika kau jadi suamiku, hidup denganmu. Tapi, apakah pernikahan itu soal bangga membanggakan?

Bukan. Bukan aku meminta kembali. Aku hanya ingin melihat dimana Tuhan menempatkan jodohku. Apakah dalam dirimu atau dalam diri Muhammad?

Masalahnya, Ayah tidak merestuimu. Malah memilih kau Muhammad. Tapi, apa kau Muhammad masih punya niat dan rasa suka itu padaku?

Entahlah, aku bimbang. Kau Helmiy juga membuatku bimbang. Kau bilang kau tak mau kembali, tetapi kau bilang kau masih berharap dan suka padaku.

Ibuku tidak merestuimu karena kamu tidak bisa baca quran. Juga karena kamu bergaul dengan lawan jenis tanpa batas. Ibuku pun tahu kau pernah selingkuh. Begitu juga dengan Ayah. Ayah tidak pernah mau menyebut dengan bangga dirimu di hadapan adik atau ipar-iparnya. Setahun ini, sempat aku melupakanmu karena hal ini. Karena alasan logis mereka.

Tetapi semalam, sepasang muda-mudi bertamu dan curhat dengan ayah-ibuku bahwa ayah si wanita tidak direstui. Ayah Ibuku justru menyuport mereka agar jangan menyerah. Tapi kau? Kau menyerah. Tanpa pernah berusaha. Kau seolah menerima dan memang berharap ayah-ibuku tidak merestui.

Aku memang senang ketika aku bertanya "menurut perasaan Abah, jodohku siapa?" lalu mereka menjawab, "Muhammad".

Tapi, apa benar? Kalau semua keluargaku setuju, apa kau masih menyukaiku. Semua tidak berarti bukan jika tanpa rasa sukamu. Sungguh berbanding terbalik. Ya, kalian berdua yang berbanding terbalik.

Parahnya, aku yang mengejar kalian berdua. Aku egois. apa mungkin aku harus merupakan semuanya?

Siapa diantara kalian yang benar-benar mau memperjuangkanku?


Kamis, 14 Juli 2016

Surat ke-8; Do you know my Birthday?

Lama sekali aku tak menulis surat lagi untukmu. Hari ini aku ulang tahun yang ke-21. Aku ingin menulis seuatu untukmu. Bercerita tentang hal-hal yang telah ku lewati setelah surat ke-7.

Sepupumu, Cucu, memberitahukan padaku bahwa di hari ketiga setelah lebaran kemarin, kalian berkumpul di rumah nenek di Majalengka. Aku juga, aku sedang berkumpul dengan keluarga kakek di Bandung. Kakekku sudah tiada. Adanya tinggal nenek tiri. Betapa senangnya aku mendapat kabar dari sepupumu. Katanya, kau telah menceritakan tentangku ke Mamahmu. Aku penasaran, apa yang kau ceritakan? Apakah kau menceritakanku yang pernah mengungkapkan perasaanku padamu? Atau, kau ceritakan suratku yang pernah ku kirim padamu? Aku malu.. tapi sayang, sepupumu pun tidak tahu apa yang kau ceritakan ke Mamahmu. Dia hanya tahu bahwa Mamahmu tahu namaku, tahu tentangmu.

Katanya, itu berawal dari kakakmu yang ada di facebook bertanya tentangku di tengah-tengah antara kau, sepupumu, kakakmu, dan mamahmu. Saat dia hendak bercerita, ternyata dia bilang, Mamahnya sudah tahu semua, dan kau diledekin dengan namaku di sana. Tapi kau tersenyum malu. Apakah itu tanda bahwa perasaanmu masih ada? Tapi, mengapa sampai di hari itu kau tak ada kabar?

Namun aku lega, karena sehari kemudian, kau membalas pesanku, meski hanya balasan permohonan maaf lahir-batin lebaran dan satu like statusku yang, "Bukan kamu yang mencuri mimpi-mimpiku. Aku yang mencuri mimpi-mimpimu. Tapi nggak sengaja. Gimana coba??". Haha, apa kau menyadarinya jika aku menulis status ini untukmu? Status ini pun terinspirasi dari menonton film Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea yang ku tonton bersama bibiku di Bandung.

Meski hanya itu responmu. Tak apa. Setidaknya aku masih bisa menganggapmu ada dan dekat. Ah iya, hari Ahad lalu (10 Juli 2016), aku berhenti di dekat daerah tempat tinggalmu, Majalengka. Daerahnya masih asri ya. Selama hampir satu minggu di sana, aku merasa kau seperti dekat dengan jiwaku. Karena kita sama-sama berada di Jawa Barat. Ayah dan Ibuku juga suka meledekku dengan namamu saat kami berhenti di rest area sana.

Hmm, tapi aku sedih setelah sampai di rumah. Karena akhirnya kita jauh lagi. Apa kita akan bertemu lagi tanpa disengaja saat di Semarang nanti? Entahlah. Tapi, bukankah itu sering terjadi dalam kisah kita? Katanya, di film Koala Kumal karya Raditya Dika, pertemuan tanpa sengaja yang lebih dari tiga kali itu miseri. Bukankah kita mengalaminya? Hahaha. Aku mungkin bermimpi.

Terlepas dari cerita itu semua, sebenarnya aku merindu. Meski rindu itu tidak sebesar rindu di surat yang ke-7. Cintaku padamu penuh dengan alasan logika. Kau, satu arah, satu prinsip, dan satu karakter denganku. Bagaimana dengan rasa sukamu padaku dulu, apakah ia adalah cinta tanpa alasan?

Muhammad, memang ada harapan agar kau ingat tanggal ulang tahunku hari ini. Tapi, itu tidak begitu berarti. Karena, aku takut kenangan yang kau buat akan mengecewakanku jika kita nantinya tak bisa bersama. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa cinta yang kita inginkan akan menjadi jodoh. Aku tahu perasaanmu saat mengatakan, "Aku takut menyesal dan kecewa jika tidak berjodoh". Aku takut menyebut namamu dalam doaku, Muhammad. Aku hanya bisa terus bertanya pada Tuhan apakah kau boleh menjadi jodohku?

Muhammad, hari ini usiaku duapuluh satu tahun. Kalau suatu saat nanti kau ingin tahu tanggal lahirku, atau kau lupa dan ingin mengingatnya lagi, catat baik-baik: 14 JULI 1995. Aku tak meminta apa-apa. Suatu ucapan sekalipun. Aku diingat tetapi bukan semacam ingatan semu.

Ya, aku ingin selalu diingat sebagai bidadari surgamu. Tapi, apakah aku bidadari surgamu?

Aku punya banyak mimpi di usiaku yang sudah setua ini. Kau tahu apa?

1. HAFAL QURAN SECARA DHABITH
2. WISUDA DENGAN NILAI MEMUASKAN DAN BERKAH
3. MENGAJAR AL QURAN (TAHFIDZ)
4. MASUK PASCASARJANA UIN BANDUNG PRODI ILMU AL QURAN DAN TAFSIR

Selasa, 05 Juli 2016

Surat ke-7: Memendam Rindu untukmu, Muhammad

Hari ini, sehari sebelum idul fitri, aku mudik bersama keluarga adik dari Ibuku. Kami pergi mudik ke daerah asalmu; Jawa Barat. Kalau kau Majalengka, maka aku akan pergi ke Bandung.

Muhammad, sudah beberapa hari ini aku merindukanmu. Tak ada kabar darimu sejak terakhir kali kita bertemu. Apa kau sudah pulang ke rumahmu? Sedang apa? Apa yang kau lakukan sekarang? Aku menyapamu, tapi kau tetap tak ada. Dua orang dari masa lalu datang dan mereka hampir membuat hatiku ragu. Membuatku ingin menyerah tentangmu lalu memilih salah satu di antara mereka.
Aku merindukanmu, Muhammad. Salahkah aku berharap pada Tuhan untuk memberikan jalan terbaik bagi kita? Bagaimana denganmu? Apa kau masih merindu padaku seperti dulu?

Rabu, 22 Juni 2016

Surat ke-6; Kenangan yang Baru Terulang Lagi

Foto di Simpang Lima, setelah acara Jurnalistik menjelang buka puasa

Hari ini, hari di mana pertama kalinya kita dapat berjalan jauh bersama. Meski dengan teman-teman seangkatan. Tetapi, tetap saja bagiku istimewa. Kau tahu mengapa? Karena bukankah selama semester enam ini kita jarang bertemu dengan sengaja?

Satu hal lagi, foto ini, bukankah pertama kalinya kita ada di foto yang sama? Kau ingat foto pertama kita yang hanya berdua? Ku rasa, ini lebih spesial dari itu. Karena foto pertama kita adalah hasil curian yang dilakukan temanmu. Sedangkan ini? Murni kesengajaan.
Aku tidak tahu mengapa kau bisa tepat berada di belakangku. Apa kau sengaja? Tapi, aku memang berharap kau ada di dekatku sebagai kenang-kenangan di akhir studi kita.

Aku terkejut saat berbalik setelah pemottretan karena wajahku tiba-tiba berada di depan dadamu. Meski aku dalam keadaan tertunduk. Ya, aku tahu kau ada di sana saat kita berfoto. Tapi, aku tidak tahu kau belum pergi saat aku hendak berbalik arah.

Di situ, rasanya dadaku bergemuruh. Ada cinta di sana. Lagi. Setelah sekian lama. Ingin ku runtuti pandanganku yang menuju arah dadamu, naik sedikit untuk menatap senyummu. Tapi aku tak mampu. Aku hanya dapat terus tertunduk dan berjalan. Sebenarnya aku berharap kau mengajakku makan bersama. Tetapi, aku tahu itu tak mungkin. Atau kau sebenarnya mau seperti itu tapi malu mengutarakannya? Ah aku terlalu berimajinasi!
Dengan angle muka kita yang sama
Muhammad, setidaknya, meski aku tak tahu apakah perasaanmu masih ada atau tidak untukku, aku bahagia karena memiliki kenangan ini. Aku mungkin belum tahu apakah Tuhan menakdirkanmu untukku dan menakdirkanku untukmu. Aku tahu betul itu. Tetapi, aku tidak ingin memaksakan diri melupakanmu. Sebab itu hanya akan menyakiti diriku. Ku biarkan ia mengalir seperti air. Ku biarkan juga untuk tidak terlalu berkomunikasi denganmu. Aku tidak ingin yang pertama memulai. Aku tidak ingin mengejar, juga tidak ingin melupakan.  Hanya belajar mengikhlaskan segalanya pada Tuhan.

Muhammad, jujur rasa ini masih ada. Kenangan itu masih teringat dalam benakku. Sehingga aku tahu seolah semua terulang kembali. Tetapi, aku tidak ingin tertipu meski aku merindu. Aku ingin tetap berlaku seperti biasa sampai Tuhan mengatakan "Ya" untukku.

Muhammad, jaga dirimu baik-baik. Mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bisa bersama. Setelah ini tak ada waktu yang bisa menyengajakan kita kembali bertemu. Semoga sukses.

Dari,
Yang ingin menjadi makmummu..
Yang ingin menjadi ibu dari anak-anakmu..
Yang ingin menjadi istrimu..
Yang ingin menjadi teman surgamu..
Yang ingin menjadi teman hidup dunia-akhiratmu, teman dakwahmu..

Habibah.

Rabu, 15 Juni 2016

Surat ke-5; Cinta Tidak Sesederhana itu..


"Tidak ada yang bisa menebak kapan seseorang akan jatuh cinta. Karena cinta tidak sesederhana itu. Cinta, bukan hanya sekedar kau melihat wajahnya, lalu kau tergila-gila. Cinta, bukan hanya sekedar kau mengetahui kebaikannya, lalu kau jatuh terpana. Cinta, adalah ketika kau telah terbenam jauh dalam waktu yang lama. Cinta, adalah ketika kau tak mampu menyebutkan apa dan bagaimana rasa itu terjadi. Cinta, adalah ketika kau hanya tahu tentangnya, tanpa pernah tahu apa alasannya. Karena cinta memang tidak sesederhana itu."

- HS -

Seperti itulah aku memiliki rasa ini. Tak bisa ku tebak kapan aku mulai menyukaimu. Ku akui, aku pun tak langsung jatuh cinta padamu di kali pertama kita bertemu. Kebaikan-kebaikan yang dulu orang ceritakan, tak ada pengaruhnya bagiku. Tak bisa ku jelaskan apa dan bagaimana perasaan itu terjadi, kapan dan di mana rasa itu bermula. Aku hanya mampu menyadarinya, di saat aku hanya tahu tentangmu. Di saat kau menghambur padaku.

Tahun lalu, berawal dari candaanku bersama Zuma, tentangmu. Di saat aku sama sekali tak ingin mengakui perasaan yang ternyata telah jatuh terlalu dalam sejak setahun sebelumnya. Kau ingat kan ketika Zuma menyampaikan salamku padamu? Ku kira, ia hanya akan tetap menganggap salamku adalah sebuah gurauan. Aku tak pernah menyangka, Zuma benar-benar menyampaikan padamu. Aku mengetahuinya sebulan kemudian, setelah liburan panjang. Dia yang mengatakan padaku. Katanya, dia menyampaikan salamku di tempat wudhu' langsung di hadapanmu.

Salam yang tersampaikan padamu akhirnya bersambut. Menjelang lebaran tahun 2015, aku senang kau mendatangiku. Kita bertukar cerita tentang kuliah kita. Kita bertukar cerita tentang kriteria pasangan masing-masing. Bahkan bertukar cerita tentang masa depan. Masih ingat ketika kau tanyakan padaku ke mana aku akan pergi setelah lulus dari sini, dan dengan mantapnya, aku menjawab kota Bandung, yang telah menjadi impianku sejak lama. Kau juga bertanya target menikah yang ku rencanakan. Jawaban yang sama antara Ayahku dan Ayahmu; setelah lulus S2.

Kisah itu berlanjut ketika kau bertanya padaku tentang alasan mengapa aku tak berpacaran. Saat itu aku menjawab, bahwa pacaran itu hanya main-main, sedangkan aku ingin memiliki sepenuhnya, dan aku tidak bisa terjun dalam hubungan yang seperti itu. Kau juga menjawab dengan hal yang sama. Kau bahkan bercerita tentang masa lalumu di usia 17 tahun, saat kau khilaf berpacaran dengan seseorang. Katamu, kau putus dengannya karena dia selalu minta dibelikan boneka di pasar minggu. Juga, karena dia marah-marah setiap kali kau sibuk di pesantren dan tak membalas pesannya. Kau bilang, kau tak suka gadis pemarah. Karena itulah katamu, kau melepasnya.

Satu hal yang membuatku terkejut saat itu, ketika kau bertanya dengan kalimat yang ambigu. Ketika kau bilang, "Kamu mau kalau pacaran tapi serius?" Tapi aku tak berani menganggap itu adalah ajakan darimu. Aku hanya mengira bahwa kau bertanya tentang pendapatku soal pacaran tapi serius. Agak menyesal baru menyadarinya. Tetapi, Tuhan menyadarkanku, bahwa hikmah dari lambatnya kesadaranku, kita tidak terjerumus dalam hubungan yang tidak diinginkan Tuhan.

Di lain hari, kau bilang, kau menganggapku sahabat. Pernyataanmu saat itu juga menggetarkan hatiku. Anggapan sepihak darimu, itu lebih dari luar biasa. Karena kita sebelumnya tidak pernah sedekat itu. Tetapi, mengapa kau bisa merasa seolah-olah kita telah bersahabat sejak lama? Sejak pernyataan ini muncul, aku selalu mendengar ceritamu. Keadaanmu yang telah mendahului kembali ke pesantrenmu setelah lebaran. Bahkan kau tidak segan bertanya, "Kapan kamu kembali ke Semarang?" Baru kali ini, ada yang menantiku di Semarang sepertimu, Muhammad.

Kedekatan kita terus terjalin, dengan aktifnya kita di media sosial. Sering, kau menyukai statusku, bahkan berkomentar di foto yang ku bagikan, yang saat itu aku sedang dalam perjalanan dan rekreasi di Jepara bersama keluarga besar dari Jawa Barat. Aku tak ingin kau melakukan hal yang bertepuk sebelah tangan, sehingga aku juga turut hadir di foto yang kau bagikan di sana. Begitu juga setiap status yang kau buat. Itu menjadi kebiasaanku hingga sekarang.

Permintaanmu yang ingin agar kita sekelas bersama, ternyata bukan hanya harapan palsu yang kau ungkapkan. Aku dapat melihat betapa janjimu tak teringkari. Kau datang di waktu yang kau janjikan, di saat kita KRS-an, untuk memulai semester lima. Sebelumnya, kau meminta agar empat sks tambahan, kita mengambil mata kuliah yang sama. Bahkan, kau juga meminta agar aku mengambil kelas D semuanya. Ku turuti permintaanmu. Hanya tiga kelas yang ku ambil di kelasku sendiri. Sisanya, aku mengambil di kelasmu, dan dua kelas di kelas tambahan bersamamu.

Itu pertama kalinya, laki-laki mengejar dan menghargaiku. Aku suka keagresifan itu. Saat kau tak sabar karena aku tak kunjung membalas semua pesanmu, hingga berulang kali kau kirim, "PING!!!". Sikapmu ini yang membuatku percaya bahwa ada harapan yang bisa ku tanam sedikit dalam hatiku tentangmu. Aku bahagia akhirnya, kita benar-benar sepakat untuk setiap hari belajar di kelas yang sama, dan kembali berdiskusi bersama. Saat itu, aku tak sabar untuk segera bertemu denganmu. Saat itu, seperti ada biru yang memancar dalam hatiku, yang rasanya lebih bahagia dari biasanya.

Aku menantikan hari itu, hari di mana pertama kali kita akan bertemu sebagai sahabat. Tetapi, ternyata saat itu kau tidak masuk, dengan alasan, kau menghadiri undangan pernikahan teman. Di hari berikutnya, akhirnya kita bertemu. Bahkan kau menantikanku. Kau menghampiriku di depan kelas. Rapih sekali penampilanmu. Itu, pertama kalinya aku melihat dirimu benar-benar jelas. Sebelumnya, aku hanya dapat melihatmu sembunyi-sembunyi, dari kejauhan. Itu, pertama kalinya, kita duduk di bangku yang berseberangan. Bahkan kau mengajakku berbicara secara langsung, yang selama setahun tidak pernah kita lakukan lagi. Terakhir kali, hanya saat pertama kita berkenalan di tahun sebelumnya.

Aku menyembunyikan rahasia tentang kelas yang ku ambil bersamamu. Aku sengaja membuat kejutan untukmu. Hingga di hari berikutnya, aku sengaja berangkat sebelum waktu kuliah tiba. Di sana, aku melihat ekspresi bahagiamu. "Yee, ngambil kelasku lagi.." begitu ucapmu.

Itulah, awal kisah kita. Awal biru yang terbentuk di hatiku. Saat semua prasangkaku seolah terjawab lewat tanya hati kita.

Ini baru awal, Muhammad. Ada hal-hal mengharukan lain yang membuat hati ini terasa sangat membiru. Takdir yang tak pernah ku sangka-sangka.

---

to be continued.

Selasa, 14 Juni 2016

Surat ke-4; MAAF

Tidak ada kata yang paling ingin ku ucapkan hari ini selain kata "MAAF", yang (pasti) kau sering mendengarnya.

Entah mengapa perasaan dalam hatiku yang mulai kembali bersemi seperti dahulu membuatku merasa bersalah terhadapmu. Takut sekali rasanya menyadari seberapa obsesifnya aku.

Sebenarnya, bukan hal obsesif atau tidak, agresif atau tidak. Tapi perihal rasa malu ketika orang lain melihat perasaanku. Kadang kala, aku tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka yang kembali mulai menjodohkan nama kita. Sebab, aku selalu merasa itu semua karena aku. Aku takut mempermalukanmu. Aku takut kau menganggap seolah-olah aku telah memilikimu.

Muhammad.. Sungguh aku minta maaf.

Aku minta maaf atas perasaan yang selama ini tidak pernah berhasil untuk ku tepiskan. Setiap kali aku mencoba melupakanmu, pasti ada saja takdir-Nya yang terjadi di antara kita. Entah itu teman-teman yang menyebut namamu atau bertemu dan berpapasan tanpa sengaja denganmu.

Muhammad.. Sungguh aku minta maaf.

Aku minta maaf karena merasa senang setiap kali aku menyadari betapa menakjubkannya pertemuan kita yang tanpa sengaja. Maaf karena hari ini merasa sangat bahagia ketika Mbah Ali mengatakan bahwa kau melihatku sedang makan di area kuliner pujasera. Aku tahu itu hal yang biasa. Tetapi sekali lagi aku minta maaf, karena menganggap hal itu adalah hal yang luar biasa. Mengetahui bahwa kau mengintipku diam-diam tanpa ku sadari. Mengetahui bahwa matamu peka menemukanku di keramaian hari ini. Mengetahui bahwa kau memutuskan untuk terdiam dan memilih tempat lain agar aku tetap tidak menyadari. Semua hal itu membuat hatiku terbawa suasana yang membiru.

Saat aku menyadari keadaanku setelah itu (yang senyam-senyum sendiri setelah mengetahui berita itu dari Mbah Ali), rasanya sangat memalukan. Terlebih ketika aku tak mampu menahan untuk tidak bercerita pada Mba Fida, Mba Mun, juga Uci yang bersamaku hari ini.

Muhammad.. Aku tidak menghendaki kau melihat perasaan ini. Apalagi di depan keramaian. Tidak. Aku selalu berusaha menutupinya agar tak mempermalukanmu. Aku takut sekali kau menganggapku terlalu terobsesif padamu. Aku pun takut untuk sekedar menjadi wanita yang telalu mengagumimu.

Muhammad.. Aku hanya ingin mencurahkan perasaanku lewat sini. Tempat yang sulit kau jangkit, bersama teman-temanmu atau teman-temanku. Tempat di mana hanya aku dan koneksi internet ini yang tahu. Aku tak pernah ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Sebab mengetahui bahwa hati ini sulit menepismu saja, membuatku agak frustrasi.

Dulu, aku pernah merasa sangat bahagia setiap kali memergokimu sedang memperhatikanku dari kejauhan. Aku juga sangat bahagia setiap kali teman-teman di sampingku berkata bahwa kau selalu memperhatikan gerak-gerikku ketika kita berada di kelas yang sama. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Aku takut melanggar prinsipku. Karena perasaan ini ku anggap belum sah di mata ilahi.

Meski pernah aku mencari jawabannya, tetapi hatiku tetap resah setiap kali menyadari. Apalagi ketika aku mengetahui keadaan yang membelengguku. Keadaan di mana aku ingin menyalurkan perasaan fithrah ini di jalur yang semestinya. Proses taaruf misalnya. Tapi, setiap kali menginginkan hal itu, aku menyadari semua tak mungkin. Sikapmu yang membuatku merasa tak yakin kau mau dengan proses syar'i yang relatif singkat ini. Sebab Ayah kita sama-sama menginginkan kita untuk melanjutkan S2 terlebih dahulu. Apalagi, kau memang tidak merasa payah untuk tetap melajang hingga tamat S2. Aku pun merasa kau belum yakin untuk memilihku. Memang siapa aku hingga kau nekad memilihku? Seberapa pantasnya diriku bersanding dengan putra Kyai sepertimu?

Ah sudahlah.

Aku hanya ingin minta maaf, dan aku berharap kau memaafkanku atas segala peristiwa yang terjadi karena aku. Sungguh, aku pun menanggung malu karena Uci menyebut namamu di salah satu status yang dibuat semalam. Tetapi, apa yang dapat ku lakukan? Aku tak dapat menghapusnya. Meminta dia menghapuskan namamu pun dia tak mau. Jadi, aku hanya dapat meminta maaf di sini. Meski rasanya tak mungkin kau dapat membaca permintaan maaf ini.

Setidaknya, dari sini aku berniat untuk tidak melakukan hal-hal yang memalukan lagi. Semampuku, meski aku belum dapat melupakanmu, aku akan berusaha untuk menyembunyikannya rapat-rapat darimu. Meski kau pernah tahu tentang perasaanku.

Aku bersyukur sekali jika pada akhirnya kau berani untuk memilihku, sehingga aku tak  perlu sekhawatir ini.

Usiamu 25 tahun, bukankah itu sudah waktunya?

Aku, siap jika kau mau memilihku. Mungkin aku tidak punya harta melimpah, kecantikan fisik yang "wah", atau segala kelebihan lain yang dapat membuatmu bangga denganku. Tapi, aku memiliki niat murni untuk menjadi perhiasan dunia paling indah, semampuku. Jika kau mengajakku ke surga, mengajakku untuk menuju-Nya, aku tak segan-segan untuk menerimamu. Aku bersedia untuk kau didik dengan caramu. Aku bersedia untuk menerima segala tentangmu, jika itu adalah jalan yang halal. Aku siap untuk tidak hanya bersatu denganmu, tapi bersatu dengan keluargamu.

Maaf, jika aku tak berani menyampaikan hal ini secara langsung. Aku tak seberani Khadijah yang melamar Muhammad. Aku memilih untuk mengikuti cara Tuhan, sembari tetap mencoba melupakan. Kalau pun setengah mati ku coba dan terus ku coba tapi tetap tak bisa, maka ku biarkan Tuhan yang menanganinya.

Aku tak berani menganggap takdir-takdir kita yang tanpa sengaja ini sebagai tanda bahwa kita berjodoh. Aku juga tak berani menganggap bahwa perasaanku yang sulit ku lupakan ini adalah tanda bahwa kita akan bersama. Aku juga tidak bisa menganggap bahwa karakter, prinsip, dan jiwa yang sama di antara kita adalah tanda bahwa kita adalah "pasangan" itu, yang cocok satu sama lain. Tidak.

Aku hanya sedang belajar ikhlas menerima anugerah ini, dan belajar sabar menghadapi musibah ini.

Cinta itu... memang begini adanya. Seperti dua sisi mata uang logam; di satu sisi ia menjadi anugerah, di sisi yang lain ia menjadi musibah.

Muhammad.. maaf jika harus kesekian kalinya aku meminta maaf seperti ini, bahkan tak dapat ku pastikan ini tak terulang lagi.

Setidaknya, aku tetap ingin minta maaf atas peristiwa yang mungkin mempermalukanmu di hari-hari terakhir ini. Sampai jumpa lagi di takdir yang lain, Muhammad. Aku berharap Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik untuk hatiku, untukmu, dan untukku.

---

-HS-

Senin, 13 Juni 2016

Surat ke-3; Terimakasih untuk Senyummu Hari Ini


Bagaimana bisa mataku se"awas" ini ketika ku sadari langkah kakimu di belakangku? Sepatu putihmu itu yang membuatku dapat mengenalinya tanpa perlu bertanya. Tapi, hey, dimana benda keramat yang selalu menutup kepalamu itu?

Dalam tanda tanya, kau melempar senyum, Ahh. Meleleh. Ku lempar juga senyum termanisku untukmu, namun buru-buru ku palingkan muka. Siapa sangka kau berhenti di depan kami, bertanya, "Lagi pada ngapain? Ngerjain tugas?"

"Enggak. Cuma ngumpul aja." jawabku. Ingin ku bertanya apa yang sedang kau lakukan. Menunggu ujian kah? Mengapa lewat di sini? Di gedung F tempatku dan Suci sedang berbincang berdua sambil streaming-an di pinggir mading koridornya? Mungkin karena hatiku mengingatkan bahwa aku sudah tahu apa yang akan kau lakukan; menunggu ujian akhir mata kuliah Orientalisme dan Hadits kan? Hmm..

"Cieee cieee yang bajunya kembaran.." si Suci meledek kita. Haha, aku tersipu malu, namun aku senang kau tak keberatan dengan candaannya. Tapi.....

"Memed, kapan kau mau melamar Habibah?" Suci melempar senjata ampuhnya. Oh tidaaaaaak! Maafkan atas kelakuan temanku ini..."Sekarang" hey, mengapa kau segera menjawabnya lalu pergi begitu saja sebelum aku sempat meminta maaf padamu? Tapi, sontak aku tertawa mendengar candaanmu. Kau pintar sekali menyahut ledekan temanku ini.

Iya aku tahu kau bercanda. Tapi, saat mendengar ketegasanmu itu, hatiku berdebar-debar. Kata "sekarang" yang kau ucapkan membuat imajinasiku terbang melayang ke hari-hari sebelumnya saat kau mengungkapkan, "Saya punya rasa suka tuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan", aaaaa, Muhammad!

Ku fikir kau tak akan melewati kami lagi. Tapi aku salah sangka. Lima menit, kau kembali. Berhenti lagi di hadapan kami saat Suci berkata, "Hey Med theatring-in hatimu ke hati Bibah dong!", O Allah! Aku malu sekali, sungguh. Kau malah tertawa saat aku hendak menyerang Suci dengan pukulan kecil.

"Udah ngerjain tugas foto jurnalistik?" Tanyaku mengalihkan. "O iya ya, belum ih. moto apa ya?", belum sempatku menjawab, Suci menggoda lagi, "Foto Bibah aja dong..hehehe" Untung saja kau hanya tertawa lalu pamit pergi. Karena, satu temanku ini bisa terus-terusan menggoda kita. Tapi, kau tidak marah kan? Kau tidak keheranan kan mengapa Suci bisa meledek kita? Atau, kau mengira bahwa aku telah menceritakan semuanya ke Suci tentang perasaanmu? Ah, jujur, aku memang bercerita padanya. Tapi aku tidak meminta dia meledekku. Maafkan aku, Muhammad. :(

Terlepas dari itu semua, terimakasih telah membuatku bahagia hari ini. Terimakasih atas senyum yang kau beri hari ini. Apalagi, ternyata kau muncul lagi di hadapanku, mengenakan pecimu, sambil sibuk memotret beberapa peristiwa yang ada di depanku. Meski Suci berulah lagi, "Woy Med! Jangan moto-moto situ terus..Sini dong fotoin kita,, fotoin Bibah." Aaaaaaa! Maafkan kekurangajaran termanku ini ya, Muhammad.

"Ini moto gedung yang ga kepake, lumayan bisa jadi berita." jawabmu, dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahmu. Aku tersenyum memperhatikanmu. Senang sekali bertemu denganmu hari ini.

well, kau terlihat kurus kalau memakai peci. Tapi gemuk dengan gaya rambutmu sekarang.

Hal yang paling membuatku tak bisa berhenti tersenyum adalah...ketika ku menyadari baju kita sama; MERAH. Sering kah kau menyadari ini bahwa bukan satu kali ini saja kita tanpa sengaja memakai baju yang berwarna sama? Lengkap dengan sejuta senyumanmu, membuat hariku hari ini kembali membiru.

Terimakasih, Muhammad. Aku bahagia, dengan senyummu hari ini. Aku tidak tahu apakah Tuhan mengizinkannya? Tapi, aku berharap, Tuhan mengampuniku jika perasaan ini salah. Sungguh, tak ada yang dapat ku lakukan untuk menghentikan senyum ini.

Senyummu..tetap seperti dulu. Tak pernah berubah. Bahkan selalu membahagiakanku.

sekali lagi, terimakasih Muhammad.

Minggu, 12 Juni 2016

Surat Ke-2; Maaf, Aku Mengujimu.


"PING!!!"
"Boleh saya bertanya?"

Hari itu, 28 Mei 2016, dalam perjalanan dari Semarang ke Pekalongan, aku sedang membaca buku yang judulnya, "Keseharian Rasulullaah", dan terlalu baper dengan isinya. Apalagi, minggu-minggu sebelumnya, aku juga baru saja melihat film pendek ini:

https://www.youtube.com/watch?v=7BjtYgWPAbI

Itulah yang menjadi alasan tiba-tiba ingin datang dan bertanya padamu tentang satu hal. Ajaibnya, hari itu, kau cepat sekali membalas pesanku. Saat itu juga.

"PING!!!"
"Boleh..."

Jawabmu.

"Tapi hal pribadi?"
"Gpp?"

"Gpp... santai aja"

"Di dunia ini, siapa orang yang paling kamu cintai?"

Ini pertanyaanku, Muhammad. Aku berharap, kau menjawab dengan hal yang sama seperti harapanku, seperti jawabanku jika aku ditanya dengan pertanyaan ini, dan kau menjawabnya:

"Saya selama ini berusaha untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya..walaupun itu sulit"
"Kedua orangtuaku dan guru-guruku..."
"Ketiga calon istriku dan keempat teman-temanku dan kaum muslimin dan muslimat..."

Jawaban terlengkap. Tapi sebenarnya, aku hanya ingin satu jawaban saja. Untuk itulah aku kembali bertanya:

"Berarti satu manusia yang paling kamu cintai di dunia ini adalah?"

Bukannya kau langsung menjawab, tapi malah curhat: "Saya masih belum bisa menentukan calon istriku", baru kemudian kau bilang, "Orangtuaku"

Dari jawaban ini, aku bingung, di awal, kau bilang Allah dan Rasul-Nya, tapi kemudian kau bilang orangtuamu. Sempat aku berspekulasi, "Kalau Muhammad jawab yang lain, aku akan melupakannya!" Tapi ternyata, kau malah membuatku bingung. Sebenarnya, siapa yang paling kau cintai di dunia ini? Mengapa kau harus memberikan jawaban yang membuatku bimbang untuk mengambil keputusan. Lantas, aku kembali bertanya: "Alasannya apa?", tapi kau malah menangkapnya lain. Mengapa kau menjawab, "Saya takut kalo nggak jadi.. malah ngecewain orang lain... gitu aja"

Apa kau menangkap maksud pertanyaanku adalah "alasan mengapa kau belum menentukan calon istrimu?" Sebenarnya bukan itu yang ku maksud, Muhammad. Tapi aku tak berani meng-interupsimu. Karena aku tak ingin membuatmu hilang muka di hadapanku. Aku ingin kau tetap memiliki kelapangan hati, sehingga aku tak menegurmu. Biarlah kau menganggapku penasaran dan seolah membutuhkan kepastian. Sebenarnya tidak, Muhammad.

Tapi lagi-lagi, dari kesalahpahaman inilah, kau memberiku inspirasi. Ya, seakan-akan kau memberi isyarat agar aku jangan terlalu berharap. Agar aku jangan terlalu menganggap bahwa kau telah memilihku hanya karena aku telah mendengar kau pernah berkata, "Aku memiliki rasa suka untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan".

Tenang, Muhammad. Aku hanya penasaran, apakah kau seperti yang ada dalam sangkaanku, bahwa kau sangat mencintai sosok yang dikenal di seluruh alam ini? Sosok yang juga sangat ku cintai? Maaf, aku hanya sedang mengujimu.

Hmm, mungkin jawabanmu, perkataanu, tidak bisa menjadi akhir dari caraku menyimpulkan tentangmu. Tapi, sekali lagi, aku hanya penasaran. Yap, aku ingin menguak kebenaran tentang, "Apakah kau memiliki visi-misi yang sama denganku?"

Aku tahu kau belum memilih siapapun untuk menjadi calon istrimu. Aku juga, aku juga belum memilih siapa calon imamku. Sama sepertimu, aku juga ketakutan mengecewakan dan dikecewakan orang lain. Pertanyaanku ini sebagai caraku mengenalmu. Pertanyaanku ini tidak hanya akan ku lontarkan padamu. Tapi pada siapapun yang nanti ingin ku pilih dan ingin memilihku.

Kamu, ku tanyai hal ini, bukan karena aku menyangka kau telah memilihku. Tidak. Karena aku tahu betul bahwa kau belum berani memastikan masa depanmu. Kamu, ku tanyai hal ini, bukan juga karena aku telah memilihmu. Tidak.

Aku, menanyaimu hal-hal seperti ini, karena ada sesuatu yang ingin ku pastikan. Kau memang belum tentu seorang imamku di masa depan. Tapi,  beginilah caraku untuk memilih dan menemukan kehendak Tuhan. Aku berharap ditemukan dan menemukan seseorang yang benar-benar memiliki visi-misi yang sama denganku. Bukan visi-misi harta, kecantikan, jabatan, keturunan, atau sekedar pernikahan semata. Bukan.

Aku berharap pasangan surga. Tidak perlu sempurna, karena aku juga tidak sempurna. Hanya perlu saling melengkapi dan berkeyakinan bahwa kita mampu dan bisa mengarungi gelombang kehidupan dengan satu tujuan; masa depan bersama Tuhan. Aku mengharapkan cinta sejati itu. Cinta yang membawaku ke surga. Cinta yang tak memalingkanku dari Cinta pada Tuhan Yang Maha Esa. Aku belum bisa menentukan apakah itu kamu?

Aku hanya bisa bertanya dan mencuri kesempatan di sela-sela Tuhan mempertemukanku denganmu. Ya, aku tidak mencarimu. Juga tidak mencarinya. Tapi aku mencari di mana ketetapan Tuhan itu, mencari dimana kehendak-Nya. Agar aku dapat mengendalikan rasa ini. Ya, rasa yang seharusnya hanya ku labuhkan pada seseorang yang telah Tuhan tetapkan untukku.

---

Dua hari yang lalu, aku kembali melontarkan pertanyaan padamu seperti ini:

"Menurut pengetahuanmu, kenapa di al Quran dan Hadits, apa yang didapatkan laki-laki di surga lebih jelas daripada apa yang didapatkan perempuan?"

Pesan itu ku kirim sekitar pukul 10.05 WIB, lewat BBM. Tidak ada maksud apa-apa selain (lagi-lagi) ingin tahu bagaimana logika dan pemahamanmu tentang perempuan. Entah mengapa aku sering mengujimu dengan berbagai pertanyaan? Akan tetapi, di minggu pertama bulan Ramadhan ini, kau sering terlambat membalas pesan. Aku tidak marah, karena aku tahu dan bisa melacakmu. Lewat facebook messenger dan what's up. Di sana aku dapat mengetahui kapan kau memegang ponselmu. Karena dalam dua media sosial itu, tertera muncul "Aktif 1 hari yang lalu" atau "Dilihat kemarin pukul 00.59", jadi aku tahu, kau tidak sibuk dengan ponselmu. Mungkin di pesantren tempat tinggalmu banyak kegiatan. Lagipula, aku telah terbiasa dengan hal ini. Justru aku menyukainya. Bahkan, itulah yang menjadi alasanku untuk terus mengenalmu.

Jujur, tidak ada rasa kesal karena kau tak membalasnya sampai waktu berbuka tiba. Aku tak berharap apa-apa karena telah terbiasa. Pun, karena aku tahu, kau tak mungkin menganggapku lebih. Meski kau pernah utarakan semua perasaanmu. Tapi, maafkan aku yang belum bisa berhenti memikirkan dan mengujimu. Maafkan aku yang masih menjadikanmu pilihan di hidupku. Meski pernah ku katakan bahwa aku telah lupa. Bukan. Bukan salahmu. Ini salahku, yang tetap saja kesulitan mengendalikan hati yang terlanjur diisi dengan kehadiranmu.

Semakin teringat tentangmu, ketika Mba Lailis, seseorang yang kita temui di awal bulan Mei lalu di taman Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), ketika membahas masalah kita bertiga, tiba-tiba kemarin datang dan membahas lagi tentangmu. Dia datang baik-baik, bahkan mengajakku buka bersama. Membicarakanmu pun dengan emoji yang bahagia dan penuh canda. Meski ada rasa sesal di sana ketika aku tak bisa menahan untuk berkata padanya, "Yah..gara-gara mba Lailis gagal move on lagi."

Sebentar, sebelum Mba Lailis datang lewat BBM, ternyata kau membalas pesanku. Malah dari pukul 01.57 WIB. Tetapi aku tidak membukanya, meski dapat membacanya: "Contohnya?"

Hmm, kau memintaku memberi contoh dari pertanyaanku, tetapi aku tidak memiliki hasrat lagi untuk menjawabnya. Aku tak berani membuka pesan itu. Ingin ku biarkan agar di ponselmu terus tertanda D, bukan R. Toh, sebenarnya aku sedang mengujimu. Aku mengurungkan niat itu karena tersadar bahwa seharusnya aku tidak mengganggumu. Sempat memang di siang hari ku ingin lanjutkan pertanyaan itu, bahkan akhirnya ku buka pesanmu. Terlihat tanda R kan? Tapi ku fikir, kau tidak sedih meski aku tak membalasnya.

Kau memang sempat mengakui rasa sukamu. Tapi, apa memang masih ada sampai detik ini? Karena alasan inilah, aku berprasangka bahwa kau tidak penasaran mengapa aku tak menjawab pesanmu lagi. Aku hanya berharap kau tak berprasangka bahwa aku marah. Tidak. Aku tidak akan pernah marah padamu, karena aku tahu alasannya dengan jelas, dengan mata kepalaku sendiri. Tidak seperti dulu saat bersama calon suamiku, Helmiy. Dulu, aku penuh curiga dan prasangka karena dia jarang menghubungiku. Dia bahkan tidak terbuka mengapa bersikap seperti itu, dan setiap ku selidiki, apa yang dia katakan berbeda dengan apa yang dia lakukan. Entah, apa yang membuatku mempercayaimu?

Sampai aku terlelap malam tadi, aku tetap teguh pada prinsip untuk tidak membalasmu apa-apa. Untuk mengalihkan hasrat yang meluap itu, aku berbincang lama dengan teman lamaku sejak SMP lewat what's up (WA). Dia yang mengajakku ngobrol duluan. Namanya Edy. Dia orang yang pernah jatuh cinta padaku, bahkan aku adalah cinta pertamanya. Tetapi saat ini, kami hanya berteman biasa, walau masih dapat ku lihat beberapa "kode" darinya. Kami berbicara tentang masa remaja kami, hingga ujung-ujungnya berbicara tentang cinta dan jodoh. Satu kalimat yang dapat ku petik darinya, dia bilang, kalau kamu bener-bener cinta, pasti nggak akan cepet ilang.

Muhammad, apakah ini cinta? Mengapa aku sulit sekali melupakanmu? Bahkan ini sudah berlangsung selama 2 tahun. Meski aku tak pernah menerima kenyataan bahwa hatiku memiliki rasa untukmu. Sampai saat ini aku belum berani untuk mengatakan, "Ya, aku ikhlas mencintaimu", bahkan hanya kata-kata, "Ya, aku ikhlas mengagumimu" tidak mampu ku akui. Tidak juga dapat ku akui itu di hadapan Mba Lailis. Aku selalu mengelak tentang perasaanku. Apakah kalau aku mengakui dan menerima semuanya, maka aku dapat melupakanmu? Asumsi inilah yang menjadikanku untuk menuliskan kembali kisah dalam novel yang ku tulis di akhir tahun lalu menjadi surat sepanjang ini. Aku ingin mencari kebenaran, apakah aku mencintaimu dan apakah aku dapat menerima semua perasaan yang dianugerahkan Tuhan untukku?

Pukul 00.00 tepat, aku tak bisa tidur karena terus terpikirkan tentangmu. Makanya, di sela-sela usahaku menutup mata, ku buka alamat blogmu yang biasa dijadikan sebagai tugas Jurnalistik Online. Banyak sekali tulisanmu di sana. Aku menyukainya. Ternyata kau juga pintar menulis. Jadi, tanpa pikir panjang, aku menambahkanmu dalam lingkaran pertemanan di akun google-ku. Setelah puas men-stalk blog dan tulisan-tulisanmu, aku kembali tersadar dan menulis status, "Jangan menunggu mau mati baru beramal, tapi beramallah sembari menunggu mati. Karena hidup itu nggak cuma satu kali. Jadi jangan mumpung masih hidup lantas mau habiskan waktu untuk bahagia di sini, lalu tidak memikirkan bahagia di akhirat nanti. Allah tidak melarang kita bahagia dan gembira di dunia ini kok. Hanya saja, Dia yang Maha Berbelas Asih, memperingatkan kita agar jangan bahagia di satu kesempatan saja, tapi juga bahagia selamanya." lalu tertidur. Ya, hanya dengan mengingat mati, menulis status tentang mati, dapat membuatku nyaman dan tenang untuk pergi terlelap ke alam mimpi. Hanya kematian yang dapat mengalihkan pikiranku tentangmu. Hanya kematian yang dapat membuatku kuat untuk terus mempertahankan prinsipku.

Kalaupun aku tak mendapatkanmu di dunia ini, setidaknya Tuhan telah mempersiapkan yang terbaik untukku di surga nanti. bisikku, sebelumku pergi ke alam bawah sadarku.

Tiga jam kemudian, sesaat setelah Tuhan membangunkanku dari mimpi indah, aku membuka akun medsosku. Hanya sekedar ingin membaca kembali status itu. Tapi, yang mencengangkan, ada namamu di pemberitahuan facebook-ku. Aku terkejut bukan main. Tumben, begitu pikirku. Apa karena kau melihat notifikasi di gmailmu? Atau karena kau sedang memberi "kode" seolah bertanya padaku mengapa aku hanya membaca pesan BBM-mu? Tetapi kemudian, aku buka akun profilmu, dan kau baru saja membagikan salah satu tulisan artikelmu di sana. Ah, apa karena itu ya? Karena aku menyukai blog-mu?

hmm, yasudah. Akhirnya ku putuskan sampai sekarang untuk tidak menghubungimu. Aku lebih suka berbicara padamu di sini. Karena aku dapat mengatakan apa saja tanpa harus menunggu balasanmu. Aku dapat menjelaskan apa saja tanpa menunggu persetujuanmu. Mungkin jiwaku sedang sakit. Tapi, bukankah jatuh cinta memang diderita oleh orang-orang yang sakit?

Hanya saja, inilah caraku mengujimu, Muhammad. Juga, inilah caraku melepaskan segala harapan tentangmu.

---

to be continued.

- HS -

Surat Pertama; Muhammad, Boleh Aku Bertanya?

Foto ini diambil di hari ketika beberapa jam setelah kita ujian bahasa. Kau berbuka bersama dengan teman sekelasmu, dan aku berbuka dengan teman sekelasku.


Muhammad, aku teringat satu kenangan pertama kita. Satu kenangan pertama yang entah mengapa kau dan aku berani memulai untuk melukiskan semuanya. Kalau teringat tentang ini, aku masih belum bisa percaya tentang semua respon itu.

Kebetulan, ini bulan Juni bukan? Masih teringat jelas di mataku, hal di mana siang tahun lalu aku mengetik sebuah pesan yang isinya permintaan maaf. Ada sedikit rasa baper saat itu. Ya, aku yang menganggapmu memiliki perasaan yang sama, tiba-tiba sadar diri bahwa hatimu tidak sama denganku. Bahkan, aku merasa bersalah karena telah menjadi objek dari isu-isu percintaan yang muncul di kalangan teman-teman kita. Aku takut kau tidak suka dengan candaan teman-teman yang menjodohkan kita. Aku takut dengan kehadiranku selama semester itu, menjadi pengganggu dalam studimu. Hingga ku tuliskan pesan yang panjang dengan akhir kata; Maaf karena telah mengganggumu, aku janji tidak akan mengambil kelasmu lagi!

Semakin membuatku yakin bahwa kau kesal padaku adalah ketika kau tak membalas pesanku. Ya, aku tahu, kau selalu seperti ini. Tak pernah yang namanya cepat dalam membalas pesan. Tetapi, meski aku mengerti alasannya, entah mengapa aku tetap bersuudzan bahwa aku memang benar-benar pengganggumu. Hingga malam itu, aku tertidur dengan kesedihan yang amat mendalam. Aku sering berkomat-kamit dalam hati, menyesal karena telah hadir di hidupmu.

Namun, semua itu sirna, saat mentari pagi menyinari, dan satu smsmu menyambut awal hariku;  “Hahaha,... kalo ada kamu tuh rame, jadi seru. Seharusnya aku yang minta maaf. Tak tunggu di semester depan di kelasku lagi”

Koreksi aku jika aku salah: di sini, aku merasakan hatimu lagi. Aku merasakan sesuatu yang tersirat dari tulisan dan permintaan itu, meski ku coba untuk menepisnya berkali-kali. Saat itu, ingin sekali ku tanyakan padamu. Tetapi, aku tidak seberani itu. Sebab ku tahu, pasti banyak wanita di sekitarmu, penggemarmu, yang pernah merasa sepertiku ini. Maka di sinilah Muhammad, aku berlatih untuk menganggap semua hanyalah karena tinggi dan besarnya harapanku padamu. Bukan kau yang memberi banyak harapan padaku, meski sempat ku katakan: "Ah kau ini terlalu memberi harapan!"

---

Dua minggu setelah itu, aku sempat memandangimu dari kejauhan. Saat itu, tanggal 30 Juni 2015, hari di mana kita berada dalam satu ruangan yang sama untuk ujian bahasa. Ruang Auditorium II kampus III. Aku berjarak beberapa baris kursi di depanmu. Sesekali, ku tengok ke belakang mencari sosokmu, dan sesekali pula aku merasa, pandangan kita bertemu. Apakah saat itu kau menyadarinya?

Tidak hanya di dalam ruangan saat ujian, di luar ruangan pun, sembunyi-sembunyi aku menatapmu yang bersliweran di depanku bersama Irfan dan teman-teman sekelasmu. Hari itu, ku dengar kau akan ikut buka bersama dengan teman-teman sekelasmu di kampus. Aku juga. Saat itu, aku buka bersama dengan teman-teman sekelasku di rumah Bahri, depan pasar Ngaliyan.

Sepulang buka bersama, aku mengintip foto-fotomu di grup The History De Better. Itu pertama kalinya aku melihatmu memakai sarung. Aku senang melihatmu tersenyum bahagia bersama mereka. Di sini, aku menyadari, ternyata aku menyukaimu diam-diam. Iya, hal itu baru ku sadari sekarang, Muhammad.
Ini fotomu yang aku maksud


---

Di luar ekspektasiku, satu bulan kemudian, untuk pertama kalinya, kita berbincang lama di obrolan Black Berry Messenger (BBM). Koreksi jika aku salah: kau memulainya dengan basa-basi membeli pulsa dariku, dengan pembayaran yang akan dilakukan di awal perkuliahan nanti. Dari sini, kau mulai mengajakku banyak berbicara. Termasuk tentang rasa penasaranmu yang tak bertemu denganku di matakuliah Madzahibut Tafassir di kelas yang sama. Padahal, aku sama-sama mengambil mata kuliah itu. Dosennya pun sama; pak Iing. Bolehkah aku menganggap bahwa kau telah terobsesi padaku sejak awal kita bertemu?

Yang paling bikin aku terbawa perasaan, ketika semua pembicaraan itu berlanjut ke arah pembicaraan tentang keluarga. Terulang kembali hal dimana aku mengungkapkan lagi daerah asal Ibuku; Bandung. Aku heran, mengapa kau juga mengatakan, "Aku juga punya keluarga di Bandung, keluarga dari adiknya kakekku." Saat itu aku tertawa loh. Tertawa karena kau selalu ingin memiliki hal yang sama denganku. Atau, ini hanya perasaanku saja?

Dari perbincangan itu, kau bawa anganku melayang lebih jauh lagi, ketika kau bertanya, "Calon imam seperti apa yang kamu inginkan? Apakah harus hafal Quran juga?", dan pertanyaan yang penuh dengan debaran-debaran ini kau awali dengan kata: "Boleh aku bertanya?"

Jujur, prasangkaku tentangmu semakin kuat saat itu. Ya, aku merasa, kau memiliki hal dalam hatimu yang tak mampu kau utarakan padaku. Kau hanya sedang berhati-hati dan mengenal jauh tentangku. Benar begitu, Muhammad?

Sebenarnya, saat itu ingin sekali ku katakan, "Calon imam yang aku inginkan itu...seperti kamu."

Aku sempat menuliskannya di layar obrolan kita. Tapi kemudian ku hapus lagi, karena tak mungkin secepat itu ku buka perasaanku padamu. Aku lebih suka dengan diam-diam seperti ini. Hingga akhirnya ku katakan, "Ya nggak harus sih. Calon imam yang aku inginkan itu..yang bisa mendidikku dan anak-anakku ke jalan-Nya."

Mau kah kau mendengarku mengulang jawaban dari pertanyaanmu ini?

Muhammad, aku berharap calon imam yang menjadikan Allah sebagai orientasi hidupnya, nabi Muhammad sebagai teladan sehari-harinya, yang dapat mencintaiku karena Allah. Muhammad, sosok sepertimulah yang secara dzahir (karena aku belum melihat watak aslimu), sesuai dengan kriteriaku. Kau pintar bahasa Arab, kau hidup karena-Nya, meneladani rasul-Nya, dan kau sholeh, pintar. Pergaulanmu bagus, dan akhlakmu mulia. Aku yakin kau bisa membimbingku, mendidiku, dan mengajakku untuk selalu berorientasi kepada-Nya.

Akan tetapi, kau mengajariku satu hal dari jawaban kedua ini, dengan satu jawabanmu: "Aku hanya berharap calon istri yang dapat menerimaku apa adaya..nggak neko-neko."

Muhammad, inilah inspirasi pertama darimu, yang akan terus membawaku pada inspirasi-inspirasi selanjutnya. Dari sini, aku mulai berfikir dengan menimbang ulang caraku memasang kriteria tinggi-tinggi. Mulai saat itu, ada ruang dalam hati yang ingin selalu mengutarakan; Muhammad, boleh aku bertanya?

Sebab aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku ingin bertaaruf, untuk mengambil pelajaran berharga darimu, meski aku tak dapat terlalu banyak berharap. Setidaknya, izinkanku berharap dapat memetik dari setiap pertanyaan yang ku lontarkan.

Jadi Muhammad, bolehkah aku lebih sering bertanya?

---

to be continued.

- HS -

Sabtu, 11 Juni 2016

Pengantar Surat untuk Muhammad


Ilustrasi: semester empat saat kita berjalan seperti ini di perjalanan ke kampus saat senja

Hari ini, aku ingin memulainya kembali. Bercerita tentang suratan cinta yang telah digariskan Tuhan untukku. Sebenarnya, ada sedikit keraguan untuk berbagi cerita ini. Tapi, aku tak ingin kehilangan kenangan-kenangan indah yang telah terjadi selama dua tahun bersamamu. Kenangan yang tidak bisa direkayasa. Seolah-olah memang begitulah Tuhan telah menuliskan skenario-Nya untukku. Meskipun mungkin, akan ada bagian-bagian yang menyedihkan, yang menyingkap tentang cerita masa lalu, yang memang ingin ku ceritakan secara jujur padamu.

Sebenarnya, cerita ini adalah improvisasi dari novel yang telah ku tulis di akhir tahun lalu. Aku hanya ingin sejenak memunculkan biruku yang sempat hilang hingga di pertengahan tahun ini. Ingin ku lukiskan kembali biruku, tentang sosok yang telah menginspirasi, sosok yang bernama Muhammad, tetapi ia bukan Muhammad yang lahir 1400 tahun lalu. Sosok itu adalah sahabat sejati dan saudaraku yang lahir duapuluh lima tahun lalu. Yes, you!

Well, usiamu tidak sebanding dengan usiaku. Terpaut hampir lima tahun. Baru beranjak dewasa, dan inilah usia-usia dimana seorang wanita mulai bermimpi tentang pernikahan. Makanya, banyak teman-teman seusiaku yang kini sudah memiliki belahan jiwa 'halal'-nya masing-masing. Bahkan, ada yang sudah punya anak. Adapun bagi mereka yang belum menikah, rata-rata sudah memiliki calon dan tambatan hati yang telah diikat sedemikian rupa.

Berbeda denganku. Justru, di usia yang bertambah dewasa, aku kehilangan sosok yang selama ini selalu ku impikan menjadi masa depanku. Sosok yang dulu sangat menjanjikan. Aku tak pernah menyangka akan kehilangan dirinya di saat target usia pernikahanku semakin dekat. Aku tak mengerti mengapa Tuhan menakdirkanku seperti ini. Padahal, hubungan itu telah ku jalin selama hampir enam tahun.

Masalahnya klise; tidak direstui. Entah bagaimana bisa baru ku sadari jika Ayah dan Ibu tidak merestuinya. Padahal, kalau ku ingat-ingat kembali, isyarat penolakan mereka telah terungkap sejak tahun 2011 lalu, sekitar setahun setelah penyatuan kami. Tetapi, karena terlalu buta dengan cinta, aku memaksakan diri menganggap bahwa semua akan baik-baik saja. Semua akan berjalan sesuai rencana. Cepat atau lambat, Ayah Ibu pasti merestui.

Nyatanya, sejak akhir tahun lalu, setiap kali aku bertanya pada Ibu, "Mi, kalau Helmiy melamar, apa Abah-Umi akan nerima dia?"

Kau tahu apa yang dijawab Ibuku? Ia mengungkap semua sikap dan kehidupan laki-laki bernama Helmiy, yang dulu sangat ku cintai. Ibuku mengingatkanku tentang segala penghianatan yang pernah dia lakukan padaku. Ibuku paling tahu tentang tangisanku.Satu kalimat bercabang yang paling menusuk jantungku, "Memangnya kamu mau menjadi makmum dari laki-laki yang tidak menjaga pergaulannya dengan wanita? Memang dia punya hafalan berapa juz? Ilmu agamanya ada? Ngajinya bisa?"

Mungkin aku masih memiliki sedikit harapan tentangnya, hingga ku tanyakan lagi hal itu beberapa waktu lalu. Padahal, aku sudah memutuskan hubunganku sejak lama. Akan tetapi, jawabannya hampir sama. Bahkan Ibuku menjawabnya dengan kalimat penegasan yang sangat jelas dan lugas, dengan tambahan kalimat, "Kau ini kenapa Habibah masih terus menyebut namanya?"

Hmm, bukannya aku masih cinta. Aku telah melupakannya, tidak lagi berkomunikasi dengannya. Tetapi, aku hanya merasa takut. Usiaku sudah setua ini, dan aku kehilangan tambatan hati. Terlebih ketika salah satu teman lamaku berkata, "Usia segini harusnya kamu udah punya pandangan.."

Padahal, tinggal sedikit lagi. Dia pernah berjanji akan melamarku secara resmi setelah wisuda nanti. Sekitar awal tahun 2017 ini. Tapi semua hanya tinggal rencana. Kalau orangtua sudah tidak merestui, apa yang dapat ku lakukan?

Memang, ada kau di sisiku. Tetapi, apa arti dari komunikasi yang terjalin di antara kita? Apakah kita punya masa depan? Kalau punya, di mana letak masa depan itu ada sedangkan kau, beberapa waktu lalu berkata: "Saya masih belum bisa menentukan calon istriku". Padahal, di awal bulan lalu kau bilang: "Maaf... dulu lagi pas kita bahas tentang perkenalan keluarga dan karakter.. memang saya punya rasa suka tuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan.."

Apa rasa suka itu telah berakhir? Apa kau belum bisa menjadikanku masa depanmu?

"Saya takut kalau tidak jadi.. malah mengecewakan orang lain.. gitu aja."

Apa yang ada dalam pikiranmu hingga kau sering mengucapkan kata ini padaku, tapi di sisi lain kau menunjukkan perasaanmu? Apa kau ingin agar aku tak banyak berharap, tetapi aku harus tahu bahwa kau menyukaiku?

Di sini, aku ingin mengajakmu menyelam dalam biru yang telah tanpa sengaja kita lukis bersama. Di sini, ingin ku tunjukkan betapa luar biasa skenario-Nya. Agar aku dan kau dapat mencari jawabannya. Meski mungkin, kau tak pernah membaca cerita ini. Kalau kau baca cerita ini, maka renungkanlah. Jangan bicarakan dan tanyakan mengapa ku kisahkan kamu di sini. Bisa jadi, inilah suratku. Surat terpanjang yang penuh dengan harapan masa depanku bersamamu. Meski ku tak tahu, akankah Tuhan memilihkanmu untukku dan memilihkanku untukmu.

Surat ini...hanya surat terakhir yang ingin ku tuliskan untukmu. Surat terakhir sebelum ku pergi. Surat terakhir sebelum aku menutup pintu hati ini. Izinkan aku menuliskan semuanya. Karena aku menyimpan semuanya tentangmu. Di sini.

Semarang, 2016.

- HS -