Rabu, 22 Juni 2016

Surat ke-6; Kenangan yang Baru Terulang Lagi

Foto di Simpang Lima, setelah acara Jurnalistik menjelang buka puasa

Hari ini, hari di mana pertama kalinya kita dapat berjalan jauh bersama. Meski dengan teman-teman seangkatan. Tetapi, tetap saja bagiku istimewa. Kau tahu mengapa? Karena bukankah selama semester enam ini kita jarang bertemu dengan sengaja?

Satu hal lagi, foto ini, bukankah pertama kalinya kita ada di foto yang sama? Kau ingat foto pertama kita yang hanya berdua? Ku rasa, ini lebih spesial dari itu. Karena foto pertama kita adalah hasil curian yang dilakukan temanmu. Sedangkan ini? Murni kesengajaan.
Aku tidak tahu mengapa kau bisa tepat berada di belakangku. Apa kau sengaja? Tapi, aku memang berharap kau ada di dekatku sebagai kenang-kenangan di akhir studi kita.

Aku terkejut saat berbalik setelah pemottretan karena wajahku tiba-tiba berada di depan dadamu. Meski aku dalam keadaan tertunduk. Ya, aku tahu kau ada di sana saat kita berfoto. Tapi, aku tidak tahu kau belum pergi saat aku hendak berbalik arah.

Di situ, rasanya dadaku bergemuruh. Ada cinta di sana. Lagi. Setelah sekian lama. Ingin ku runtuti pandanganku yang menuju arah dadamu, naik sedikit untuk menatap senyummu. Tapi aku tak mampu. Aku hanya dapat terus tertunduk dan berjalan. Sebenarnya aku berharap kau mengajakku makan bersama. Tetapi, aku tahu itu tak mungkin. Atau kau sebenarnya mau seperti itu tapi malu mengutarakannya? Ah aku terlalu berimajinasi!
Dengan angle muka kita yang sama
Muhammad, setidaknya, meski aku tak tahu apakah perasaanmu masih ada atau tidak untukku, aku bahagia karena memiliki kenangan ini. Aku mungkin belum tahu apakah Tuhan menakdirkanmu untukku dan menakdirkanku untukmu. Aku tahu betul itu. Tetapi, aku tidak ingin memaksakan diri melupakanmu. Sebab itu hanya akan menyakiti diriku. Ku biarkan ia mengalir seperti air. Ku biarkan juga untuk tidak terlalu berkomunikasi denganmu. Aku tidak ingin yang pertama memulai. Aku tidak ingin mengejar, juga tidak ingin melupakan.  Hanya belajar mengikhlaskan segalanya pada Tuhan.

Muhammad, jujur rasa ini masih ada. Kenangan itu masih teringat dalam benakku. Sehingga aku tahu seolah semua terulang kembali. Tetapi, aku tidak ingin tertipu meski aku merindu. Aku ingin tetap berlaku seperti biasa sampai Tuhan mengatakan "Ya" untukku.

Muhammad, jaga dirimu baik-baik. Mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bisa bersama. Setelah ini tak ada waktu yang bisa menyengajakan kita kembali bertemu. Semoga sukses.

Dari,
Yang ingin menjadi makmummu..
Yang ingin menjadi ibu dari anak-anakmu..
Yang ingin menjadi istrimu..
Yang ingin menjadi teman surgamu..
Yang ingin menjadi teman hidup dunia-akhiratmu, teman dakwahmu..

Habibah.

Rabu, 15 Juni 2016

Surat ke-5; Cinta Tidak Sesederhana itu..


"Tidak ada yang bisa menebak kapan seseorang akan jatuh cinta. Karena cinta tidak sesederhana itu. Cinta, bukan hanya sekedar kau melihat wajahnya, lalu kau tergila-gila. Cinta, bukan hanya sekedar kau mengetahui kebaikannya, lalu kau jatuh terpana. Cinta, adalah ketika kau telah terbenam jauh dalam waktu yang lama. Cinta, adalah ketika kau tak mampu menyebutkan apa dan bagaimana rasa itu terjadi. Cinta, adalah ketika kau hanya tahu tentangnya, tanpa pernah tahu apa alasannya. Karena cinta memang tidak sesederhana itu."

- HS -

Seperti itulah aku memiliki rasa ini. Tak bisa ku tebak kapan aku mulai menyukaimu. Ku akui, aku pun tak langsung jatuh cinta padamu di kali pertama kita bertemu. Kebaikan-kebaikan yang dulu orang ceritakan, tak ada pengaruhnya bagiku. Tak bisa ku jelaskan apa dan bagaimana perasaan itu terjadi, kapan dan di mana rasa itu bermula. Aku hanya mampu menyadarinya, di saat aku hanya tahu tentangmu. Di saat kau menghambur padaku.

Tahun lalu, berawal dari candaanku bersama Zuma, tentangmu. Di saat aku sama sekali tak ingin mengakui perasaan yang ternyata telah jatuh terlalu dalam sejak setahun sebelumnya. Kau ingat kan ketika Zuma menyampaikan salamku padamu? Ku kira, ia hanya akan tetap menganggap salamku adalah sebuah gurauan. Aku tak pernah menyangka, Zuma benar-benar menyampaikan padamu. Aku mengetahuinya sebulan kemudian, setelah liburan panjang. Dia yang mengatakan padaku. Katanya, dia menyampaikan salamku di tempat wudhu' langsung di hadapanmu.

Salam yang tersampaikan padamu akhirnya bersambut. Menjelang lebaran tahun 2015, aku senang kau mendatangiku. Kita bertukar cerita tentang kuliah kita. Kita bertukar cerita tentang kriteria pasangan masing-masing. Bahkan bertukar cerita tentang masa depan. Masih ingat ketika kau tanyakan padaku ke mana aku akan pergi setelah lulus dari sini, dan dengan mantapnya, aku menjawab kota Bandung, yang telah menjadi impianku sejak lama. Kau juga bertanya target menikah yang ku rencanakan. Jawaban yang sama antara Ayahku dan Ayahmu; setelah lulus S2.

Kisah itu berlanjut ketika kau bertanya padaku tentang alasan mengapa aku tak berpacaran. Saat itu aku menjawab, bahwa pacaran itu hanya main-main, sedangkan aku ingin memiliki sepenuhnya, dan aku tidak bisa terjun dalam hubungan yang seperti itu. Kau juga menjawab dengan hal yang sama. Kau bahkan bercerita tentang masa lalumu di usia 17 tahun, saat kau khilaf berpacaran dengan seseorang. Katamu, kau putus dengannya karena dia selalu minta dibelikan boneka di pasar minggu. Juga, karena dia marah-marah setiap kali kau sibuk di pesantren dan tak membalas pesannya. Kau bilang, kau tak suka gadis pemarah. Karena itulah katamu, kau melepasnya.

Satu hal yang membuatku terkejut saat itu, ketika kau bertanya dengan kalimat yang ambigu. Ketika kau bilang, "Kamu mau kalau pacaran tapi serius?" Tapi aku tak berani menganggap itu adalah ajakan darimu. Aku hanya mengira bahwa kau bertanya tentang pendapatku soal pacaran tapi serius. Agak menyesal baru menyadarinya. Tetapi, Tuhan menyadarkanku, bahwa hikmah dari lambatnya kesadaranku, kita tidak terjerumus dalam hubungan yang tidak diinginkan Tuhan.

Di lain hari, kau bilang, kau menganggapku sahabat. Pernyataanmu saat itu juga menggetarkan hatiku. Anggapan sepihak darimu, itu lebih dari luar biasa. Karena kita sebelumnya tidak pernah sedekat itu. Tetapi, mengapa kau bisa merasa seolah-olah kita telah bersahabat sejak lama? Sejak pernyataan ini muncul, aku selalu mendengar ceritamu. Keadaanmu yang telah mendahului kembali ke pesantrenmu setelah lebaran. Bahkan kau tidak segan bertanya, "Kapan kamu kembali ke Semarang?" Baru kali ini, ada yang menantiku di Semarang sepertimu, Muhammad.

Kedekatan kita terus terjalin, dengan aktifnya kita di media sosial. Sering, kau menyukai statusku, bahkan berkomentar di foto yang ku bagikan, yang saat itu aku sedang dalam perjalanan dan rekreasi di Jepara bersama keluarga besar dari Jawa Barat. Aku tak ingin kau melakukan hal yang bertepuk sebelah tangan, sehingga aku juga turut hadir di foto yang kau bagikan di sana. Begitu juga setiap status yang kau buat. Itu menjadi kebiasaanku hingga sekarang.

Permintaanmu yang ingin agar kita sekelas bersama, ternyata bukan hanya harapan palsu yang kau ungkapkan. Aku dapat melihat betapa janjimu tak teringkari. Kau datang di waktu yang kau janjikan, di saat kita KRS-an, untuk memulai semester lima. Sebelumnya, kau meminta agar empat sks tambahan, kita mengambil mata kuliah yang sama. Bahkan, kau juga meminta agar aku mengambil kelas D semuanya. Ku turuti permintaanmu. Hanya tiga kelas yang ku ambil di kelasku sendiri. Sisanya, aku mengambil di kelasmu, dan dua kelas di kelas tambahan bersamamu.

Itu pertama kalinya, laki-laki mengejar dan menghargaiku. Aku suka keagresifan itu. Saat kau tak sabar karena aku tak kunjung membalas semua pesanmu, hingga berulang kali kau kirim, "PING!!!". Sikapmu ini yang membuatku percaya bahwa ada harapan yang bisa ku tanam sedikit dalam hatiku tentangmu. Aku bahagia akhirnya, kita benar-benar sepakat untuk setiap hari belajar di kelas yang sama, dan kembali berdiskusi bersama. Saat itu, aku tak sabar untuk segera bertemu denganmu. Saat itu, seperti ada biru yang memancar dalam hatiku, yang rasanya lebih bahagia dari biasanya.

Aku menantikan hari itu, hari di mana pertama kali kita akan bertemu sebagai sahabat. Tetapi, ternyata saat itu kau tidak masuk, dengan alasan, kau menghadiri undangan pernikahan teman. Di hari berikutnya, akhirnya kita bertemu. Bahkan kau menantikanku. Kau menghampiriku di depan kelas. Rapih sekali penampilanmu. Itu, pertama kalinya aku melihat dirimu benar-benar jelas. Sebelumnya, aku hanya dapat melihatmu sembunyi-sembunyi, dari kejauhan. Itu, pertama kalinya, kita duduk di bangku yang berseberangan. Bahkan kau mengajakku berbicara secara langsung, yang selama setahun tidak pernah kita lakukan lagi. Terakhir kali, hanya saat pertama kita berkenalan di tahun sebelumnya.

Aku menyembunyikan rahasia tentang kelas yang ku ambil bersamamu. Aku sengaja membuat kejutan untukmu. Hingga di hari berikutnya, aku sengaja berangkat sebelum waktu kuliah tiba. Di sana, aku melihat ekspresi bahagiamu. "Yee, ngambil kelasku lagi.." begitu ucapmu.

Itulah, awal kisah kita. Awal biru yang terbentuk di hatiku. Saat semua prasangkaku seolah terjawab lewat tanya hati kita.

Ini baru awal, Muhammad. Ada hal-hal mengharukan lain yang membuat hati ini terasa sangat membiru. Takdir yang tak pernah ku sangka-sangka.

---

to be continued.

Selasa, 14 Juni 2016

Surat ke-4; MAAF

Tidak ada kata yang paling ingin ku ucapkan hari ini selain kata "MAAF", yang (pasti) kau sering mendengarnya.

Entah mengapa perasaan dalam hatiku yang mulai kembali bersemi seperti dahulu membuatku merasa bersalah terhadapmu. Takut sekali rasanya menyadari seberapa obsesifnya aku.

Sebenarnya, bukan hal obsesif atau tidak, agresif atau tidak. Tapi perihal rasa malu ketika orang lain melihat perasaanku. Kadang kala, aku tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka yang kembali mulai menjodohkan nama kita. Sebab, aku selalu merasa itu semua karena aku. Aku takut mempermalukanmu. Aku takut kau menganggap seolah-olah aku telah memilikimu.

Muhammad.. Sungguh aku minta maaf.

Aku minta maaf atas perasaan yang selama ini tidak pernah berhasil untuk ku tepiskan. Setiap kali aku mencoba melupakanmu, pasti ada saja takdir-Nya yang terjadi di antara kita. Entah itu teman-teman yang menyebut namamu atau bertemu dan berpapasan tanpa sengaja denganmu.

Muhammad.. Sungguh aku minta maaf.

Aku minta maaf karena merasa senang setiap kali aku menyadari betapa menakjubkannya pertemuan kita yang tanpa sengaja. Maaf karena hari ini merasa sangat bahagia ketika Mbah Ali mengatakan bahwa kau melihatku sedang makan di area kuliner pujasera. Aku tahu itu hal yang biasa. Tetapi sekali lagi aku minta maaf, karena menganggap hal itu adalah hal yang luar biasa. Mengetahui bahwa kau mengintipku diam-diam tanpa ku sadari. Mengetahui bahwa matamu peka menemukanku di keramaian hari ini. Mengetahui bahwa kau memutuskan untuk terdiam dan memilih tempat lain agar aku tetap tidak menyadari. Semua hal itu membuat hatiku terbawa suasana yang membiru.

Saat aku menyadari keadaanku setelah itu (yang senyam-senyum sendiri setelah mengetahui berita itu dari Mbah Ali), rasanya sangat memalukan. Terlebih ketika aku tak mampu menahan untuk tidak bercerita pada Mba Fida, Mba Mun, juga Uci yang bersamaku hari ini.

Muhammad.. Aku tidak menghendaki kau melihat perasaan ini. Apalagi di depan keramaian. Tidak. Aku selalu berusaha menutupinya agar tak mempermalukanmu. Aku takut sekali kau menganggapku terlalu terobsesif padamu. Aku pun takut untuk sekedar menjadi wanita yang telalu mengagumimu.

Muhammad.. Aku hanya ingin mencurahkan perasaanku lewat sini. Tempat yang sulit kau jangkit, bersama teman-temanmu atau teman-temanku. Tempat di mana hanya aku dan koneksi internet ini yang tahu. Aku tak pernah ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Sebab mengetahui bahwa hati ini sulit menepismu saja, membuatku agak frustrasi.

Dulu, aku pernah merasa sangat bahagia setiap kali memergokimu sedang memperhatikanku dari kejauhan. Aku juga sangat bahagia setiap kali teman-teman di sampingku berkata bahwa kau selalu memperhatikan gerak-gerikku ketika kita berada di kelas yang sama. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Aku takut melanggar prinsipku. Karena perasaan ini ku anggap belum sah di mata ilahi.

Meski pernah aku mencari jawabannya, tetapi hatiku tetap resah setiap kali menyadari. Apalagi ketika aku mengetahui keadaan yang membelengguku. Keadaan di mana aku ingin menyalurkan perasaan fithrah ini di jalur yang semestinya. Proses taaruf misalnya. Tapi, setiap kali menginginkan hal itu, aku menyadari semua tak mungkin. Sikapmu yang membuatku merasa tak yakin kau mau dengan proses syar'i yang relatif singkat ini. Sebab Ayah kita sama-sama menginginkan kita untuk melanjutkan S2 terlebih dahulu. Apalagi, kau memang tidak merasa payah untuk tetap melajang hingga tamat S2. Aku pun merasa kau belum yakin untuk memilihku. Memang siapa aku hingga kau nekad memilihku? Seberapa pantasnya diriku bersanding dengan putra Kyai sepertimu?

Ah sudahlah.

Aku hanya ingin minta maaf, dan aku berharap kau memaafkanku atas segala peristiwa yang terjadi karena aku. Sungguh, aku pun menanggung malu karena Uci menyebut namamu di salah satu status yang dibuat semalam. Tetapi, apa yang dapat ku lakukan? Aku tak dapat menghapusnya. Meminta dia menghapuskan namamu pun dia tak mau. Jadi, aku hanya dapat meminta maaf di sini. Meski rasanya tak mungkin kau dapat membaca permintaan maaf ini.

Setidaknya, dari sini aku berniat untuk tidak melakukan hal-hal yang memalukan lagi. Semampuku, meski aku belum dapat melupakanmu, aku akan berusaha untuk menyembunyikannya rapat-rapat darimu. Meski kau pernah tahu tentang perasaanku.

Aku bersyukur sekali jika pada akhirnya kau berani untuk memilihku, sehingga aku tak  perlu sekhawatir ini.

Usiamu 25 tahun, bukankah itu sudah waktunya?

Aku, siap jika kau mau memilihku. Mungkin aku tidak punya harta melimpah, kecantikan fisik yang "wah", atau segala kelebihan lain yang dapat membuatmu bangga denganku. Tapi, aku memiliki niat murni untuk menjadi perhiasan dunia paling indah, semampuku. Jika kau mengajakku ke surga, mengajakku untuk menuju-Nya, aku tak segan-segan untuk menerimamu. Aku bersedia untuk kau didik dengan caramu. Aku bersedia untuk menerima segala tentangmu, jika itu adalah jalan yang halal. Aku siap untuk tidak hanya bersatu denganmu, tapi bersatu dengan keluargamu.

Maaf, jika aku tak berani menyampaikan hal ini secara langsung. Aku tak seberani Khadijah yang melamar Muhammad. Aku memilih untuk mengikuti cara Tuhan, sembari tetap mencoba melupakan. Kalau pun setengah mati ku coba dan terus ku coba tapi tetap tak bisa, maka ku biarkan Tuhan yang menanganinya.

Aku tak berani menganggap takdir-takdir kita yang tanpa sengaja ini sebagai tanda bahwa kita berjodoh. Aku juga tak berani menganggap bahwa perasaanku yang sulit ku lupakan ini adalah tanda bahwa kita akan bersama. Aku juga tidak bisa menganggap bahwa karakter, prinsip, dan jiwa yang sama di antara kita adalah tanda bahwa kita adalah "pasangan" itu, yang cocok satu sama lain. Tidak.

Aku hanya sedang belajar ikhlas menerima anugerah ini, dan belajar sabar menghadapi musibah ini.

Cinta itu... memang begini adanya. Seperti dua sisi mata uang logam; di satu sisi ia menjadi anugerah, di sisi yang lain ia menjadi musibah.

Muhammad.. maaf jika harus kesekian kalinya aku meminta maaf seperti ini, bahkan tak dapat ku pastikan ini tak terulang lagi.

Setidaknya, aku tetap ingin minta maaf atas peristiwa yang mungkin mempermalukanmu di hari-hari terakhir ini. Sampai jumpa lagi di takdir yang lain, Muhammad. Aku berharap Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik untuk hatiku, untukmu, dan untukku.

---

-HS-

Senin, 13 Juni 2016

Surat ke-3; Terimakasih untuk Senyummu Hari Ini


Bagaimana bisa mataku se"awas" ini ketika ku sadari langkah kakimu di belakangku? Sepatu putihmu itu yang membuatku dapat mengenalinya tanpa perlu bertanya. Tapi, hey, dimana benda keramat yang selalu menutup kepalamu itu?

Dalam tanda tanya, kau melempar senyum, Ahh. Meleleh. Ku lempar juga senyum termanisku untukmu, namun buru-buru ku palingkan muka. Siapa sangka kau berhenti di depan kami, bertanya, "Lagi pada ngapain? Ngerjain tugas?"

"Enggak. Cuma ngumpul aja." jawabku. Ingin ku bertanya apa yang sedang kau lakukan. Menunggu ujian kah? Mengapa lewat di sini? Di gedung F tempatku dan Suci sedang berbincang berdua sambil streaming-an di pinggir mading koridornya? Mungkin karena hatiku mengingatkan bahwa aku sudah tahu apa yang akan kau lakukan; menunggu ujian akhir mata kuliah Orientalisme dan Hadits kan? Hmm..

"Cieee cieee yang bajunya kembaran.." si Suci meledek kita. Haha, aku tersipu malu, namun aku senang kau tak keberatan dengan candaannya. Tapi.....

"Memed, kapan kau mau melamar Habibah?" Suci melempar senjata ampuhnya. Oh tidaaaaaak! Maafkan atas kelakuan temanku ini..."Sekarang" hey, mengapa kau segera menjawabnya lalu pergi begitu saja sebelum aku sempat meminta maaf padamu? Tapi, sontak aku tertawa mendengar candaanmu. Kau pintar sekali menyahut ledekan temanku ini.

Iya aku tahu kau bercanda. Tapi, saat mendengar ketegasanmu itu, hatiku berdebar-debar. Kata "sekarang" yang kau ucapkan membuat imajinasiku terbang melayang ke hari-hari sebelumnya saat kau mengungkapkan, "Saya punya rasa suka tuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan", aaaaa, Muhammad!

Ku fikir kau tak akan melewati kami lagi. Tapi aku salah sangka. Lima menit, kau kembali. Berhenti lagi di hadapan kami saat Suci berkata, "Hey Med theatring-in hatimu ke hati Bibah dong!", O Allah! Aku malu sekali, sungguh. Kau malah tertawa saat aku hendak menyerang Suci dengan pukulan kecil.

"Udah ngerjain tugas foto jurnalistik?" Tanyaku mengalihkan. "O iya ya, belum ih. moto apa ya?", belum sempatku menjawab, Suci menggoda lagi, "Foto Bibah aja dong..hehehe" Untung saja kau hanya tertawa lalu pamit pergi. Karena, satu temanku ini bisa terus-terusan menggoda kita. Tapi, kau tidak marah kan? Kau tidak keheranan kan mengapa Suci bisa meledek kita? Atau, kau mengira bahwa aku telah menceritakan semuanya ke Suci tentang perasaanmu? Ah, jujur, aku memang bercerita padanya. Tapi aku tidak meminta dia meledekku. Maafkan aku, Muhammad. :(

Terlepas dari itu semua, terimakasih telah membuatku bahagia hari ini. Terimakasih atas senyum yang kau beri hari ini. Apalagi, ternyata kau muncul lagi di hadapanku, mengenakan pecimu, sambil sibuk memotret beberapa peristiwa yang ada di depanku. Meski Suci berulah lagi, "Woy Med! Jangan moto-moto situ terus..Sini dong fotoin kita,, fotoin Bibah." Aaaaaaa! Maafkan kekurangajaran termanku ini ya, Muhammad.

"Ini moto gedung yang ga kepake, lumayan bisa jadi berita." jawabmu, dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahmu. Aku tersenyum memperhatikanmu. Senang sekali bertemu denganmu hari ini.

well, kau terlihat kurus kalau memakai peci. Tapi gemuk dengan gaya rambutmu sekarang.

Hal yang paling membuatku tak bisa berhenti tersenyum adalah...ketika ku menyadari baju kita sama; MERAH. Sering kah kau menyadari ini bahwa bukan satu kali ini saja kita tanpa sengaja memakai baju yang berwarna sama? Lengkap dengan sejuta senyumanmu, membuat hariku hari ini kembali membiru.

Terimakasih, Muhammad. Aku bahagia, dengan senyummu hari ini. Aku tidak tahu apakah Tuhan mengizinkannya? Tapi, aku berharap, Tuhan mengampuniku jika perasaan ini salah. Sungguh, tak ada yang dapat ku lakukan untuk menghentikan senyum ini.

Senyummu..tetap seperti dulu. Tak pernah berubah. Bahkan selalu membahagiakanku.

sekali lagi, terimakasih Muhammad.

Minggu, 12 Juni 2016

Surat Ke-2; Maaf, Aku Mengujimu.


"PING!!!"
"Boleh saya bertanya?"

Hari itu, 28 Mei 2016, dalam perjalanan dari Semarang ke Pekalongan, aku sedang membaca buku yang judulnya, "Keseharian Rasulullaah", dan terlalu baper dengan isinya. Apalagi, minggu-minggu sebelumnya, aku juga baru saja melihat film pendek ini:

https://www.youtube.com/watch?v=7BjtYgWPAbI

Itulah yang menjadi alasan tiba-tiba ingin datang dan bertanya padamu tentang satu hal. Ajaibnya, hari itu, kau cepat sekali membalas pesanku. Saat itu juga.

"PING!!!"
"Boleh..."

Jawabmu.

"Tapi hal pribadi?"
"Gpp?"

"Gpp... santai aja"

"Di dunia ini, siapa orang yang paling kamu cintai?"

Ini pertanyaanku, Muhammad. Aku berharap, kau menjawab dengan hal yang sama seperti harapanku, seperti jawabanku jika aku ditanya dengan pertanyaan ini, dan kau menjawabnya:

"Saya selama ini berusaha untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya..walaupun itu sulit"
"Kedua orangtuaku dan guru-guruku..."
"Ketiga calon istriku dan keempat teman-temanku dan kaum muslimin dan muslimat..."

Jawaban terlengkap. Tapi sebenarnya, aku hanya ingin satu jawaban saja. Untuk itulah aku kembali bertanya:

"Berarti satu manusia yang paling kamu cintai di dunia ini adalah?"

Bukannya kau langsung menjawab, tapi malah curhat: "Saya masih belum bisa menentukan calon istriku", baru kemudian kau bilang, "Orangtuaku"

Dari jawaban ini, aku bingung, di awal, kau bilang Allah dan Rasul-Nya, tapi kemudian kau bilang orangtuamu. Sempat aku berspekulasi, "Kalau Muhammad jawab yang lain, aku akan melupakannya!" Tapi ternyata, kau malah membuatku bingung. Sebenarnya, siapa yang paling kau cintai di dunia ini? Mengapa kau harus memberikan jawaban yang membuatku bimbang untuk mengambil keputusan. Lantas, aku kembali bertanya: "Alasannya apa?", tapi kau malah menangkapnya lain. Mengapa kau menjawab, "Saya takut kalo nggak jadi.. malah ngecewain orang lain... gitu aja"

Apa kau menangkap maksud pertanyaanku adalah "alasan mengapa kau belum menentukan calon istrimu?" Sebenarnya bukan itu yang ku maksud, Muhammad. Tapi aku tak berani meng-interupsimu. Karena aku tak ingin membuatmu hilang muka di hadapanku. Aku ingin kau tetap memiliki kelapangan hati, sehingga aku tak menegurmu. Biarlah kau menganggapku penasaran dan seolah membutuhkan kepastian. Sebenarnya tidak, Muhammad.

Tapi lagi-lagi, dari kesalahpahaman inilah, kau memberiku inspirasi. Ya, seakan-akan kau memberi isyarat agar aku jangan terlalu berharap. Agar aku jangan terlalu menganggap bahwa kau telah memilihku hanya karena aku telah mendengar kau pernah berkata, "Aku memiliki rasa suka untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan".

Tenang, Muhammad. Aku hanya penasaran, apakah kau seperti yang ada dalam sangkaanku, bahwa kau sangat mencintai sosok yang dikenal di seluruh alam ini? Sosok yang juga sangat ku cintai? Maaf, aku hanya sedang mengujimu.

Hmm, mungkin jawabanmu, perkataanu, tidak bisa menjadi akhir dari caraku menyimpulkan tentangmu. Tapi, sekali lagi, aku hanya penasaran. Yap, aku ingin menguak kebenaran tentang, "Apakah kau memiliki visi-misi yang sama denganku?"

Aku tahu kau belum memilih siapapun untuk menjadi calon istrimu. Aku juga, aku juga belum memilih siapa calon imamku. Sama sepertimu, aku juga ketakutan mengecewakan dan dikecewakan orang lain. Pertanyaanku ini sebagai caraku mengenalmu. Pertanyaanku ini tidak hanya akan ku lontarkan padamu. Tapi pada siapapun yang nanti ingin ku pilih dan ingin memilihku.

Kamu, ku tanyai hal ini, bukan karena aku menyangka kau telah memilihku. Tidak. Karena aku tahu betul bahwa kau belum berani memastikan masa depanmu. Kamu, ku tanyai hal ini, bukan juga karena aku telah memilihmu. Tidak.

Aku, menanyaimu hal-hal seperti ini, karena ada sesuatu yang ingin ku pastikan. Kau memang belum tentu seorang imamku di masa depan. Tapi,  beginilah caraku untuk memilih dan menemukan kehendak Tuhan. Aku berharap ditemukan dan menemukan seseorang yang benar-benar memiliki visi-misi yang sama denganku. Bukan visi-misi harta, kecantikan, jabatan, keturunan, atau sekedar pernikahan semata. Bukan.

Aku berharap pasangan surga. Tidak perlu sempurna, karena aku juga tidak sempurna. Hanya perlu saling melengkapi dan berkeyakinan bahwa kita mampu dan bisa mengarungi gelombang kehidupan dengan satu tujuan; masa depan bersama Tuhan. Aku mengharapkan cinta sejati itu. Cinta yang membawaku ke surga. Cinta yang tak memalingkanku dari Cinta pada Tuhan Yang Maha Esa. Aku belum bisa menentukan apakah itu kamu?

Aku hanya bisa bertanya dan mencuri kesempatan di sela-sela Tuhan mempertemukanku denganmu. Ya, aku tidak mencarimu. Juga tidak mencarinya. Tapi aku mencari di mana ketetapan Tuhan itu, mencari dimana kehendak-Nya. Agar aku dapat mengendalikan rasa ini. Ya, rasa yang seharusnya hanya ku labuhkan pada seseorang yang telah Tuhan tetapkan untukku.

---

Dua hari yang lalu, aku kembali melontarkan pertanyaan padamu seperti ini:

"Menurut pengetahuanmu, kenapa di al Quran dan Hadits, apa yang didapatkan laki-laki di surga lebih jelas daripada apa yang didapatkan perempuan?"

Pesan itu ku kirim sekitar pukul 10.05 WIB, lewat BBM. Tidak ada maksud apa-apa selain (lagi-lagi) ingin tahu bagaimana logika dan pemahamanmu tentang perempuan. Entah mengapa aku sering mengujimu dengan berbagai pertanyaan? Akan tetapi, di minggu pertama bulan Ramadhan ini, kau sering terlambat membalas pesan. Aku tidak marah, karena aku tahu dan bisa melacakmu. Lewat facebook messenger dan what's up. Di sana aku dapat mengetahui kapan kau memegang ponselmu. Karena dalam dua media sosial itu, tertera muncul "Aktif 1 hari yang lalu" atau "Dilihat kemarin pukul 00.59", jadi aku tahu, kau tidak sibuk dengan ponselmu. Mungkin di pesantren tempat tinggalmu banyak kegiatan. Lagipula, aku telah terbiasa dengan hal ini. Justru aku menyukainya. Bahkan, itulah yang menjadi alasanku untuk terus mengenalmu.

Jujur, tidak ada rasa kesal karena kau tak membalasnya sampai waktu berbuka tiba. Aku tak berharap apa-apa karena telah terbiasa. Pun, karena aku tahu, kau tak mungkin menganggapku lebih. Meski kau pernah utarakan semua perasaanmu. Tapi, maafkan aku yang belum bisa berhenti memikirkan dan mengujimu. Maafkan aku yang masih menjadikanmu pilihan di hidupku. Meski pernah ku katakan bahwa aku telah lupa. Bukan. Bukan salahmu. Ini salahku, yang tetap saja kesulitan mengendalikan hati yang terlanjur diisi dengan kehadiranmu.

Semakin teringat tentangmu, ketika Mba Lailis, seseorang yang kita temui di awal bulan Mei lalu di taman Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), ketika membahas masalah kita bertiga, tiba-tiba kemarin datang dan membahas lagi tentangmu. Dia datang baik-baik, bahkan mengajakku buka bersama. Membicarakanmu pun dengan emoji yang bahagia dan penuh canda. Meski ada rasa sesal di sana ketika aku tak bisa menahan untuk berkata padanya, "Yah..gara-gara mba Lailis gagal move on lagi."

Sebentar, sebelum Mba Lailis datang lewat BBM, ternyata kau membalas pesanku. Malah dari pukul 01.57 WIB. Tetapi aku tidak membukanya, meski dapat membacanya: "Contohnya?"

Hmm, kau memintaku memberi contoh dari pertanyaanku, tetapi aku tidak memiliki hasrat lagi untuk menjawabnya. Aku tak berani membuka pesan itu. Ingin ku biarkan agar di ponselmu terus tertanda D, bukan R. Toh, sebenarnya aku sedang mengujimu. Aku mengurungkan niat itu karena tersadar bahwa seharusnya aku tidak mengganggumu. Sempat memang di siang hari ku ingin lanjutkan pertanyaan itu, bahkan akhirnya ku buka pesanmu. Terlihat tanda R kan? Tapi ku fikir, kau tidak sedih meski aku tak membalasnya.

Kau memang sempat mengakui rasa sukamu. Tapi, apa memang masih ada sampai detik ini? Karena alasan inilah, aku berprasangka bahwa kau tidak penasaran mengapa aku tak menjawab pesanmu lagi. Aku hanya berharap kau tak berprasangka bahwa aku marah. Tidak. Aku tidak akan pernah marah padamu, karena aku tahu alasannya dengan jelas, dengan mata kepalaku sendiri. Tidak seperti dulu saat bersama calon suamiku, Helmiy. Dulu, aku penuh curiga dan prasangka karena dia jarang menghubungiku. Dia bahkan tidak terbuka mengapa bersikap seperti itu, dan setiap ku selidiki, apa yang dia katakan berbeda dengan apa yang dia lakukan. Entah, apa yang membuatku mempercayaimu?

Sampai aku terlelap malam tadi, aku tetap teguh pada prinsip untuk tidak membalasmu apa-apa. Untuk mengalihkan hasrat yang meluap itu, aku berbincang lama dengan teman lamaku sejak SMP lewat what's up (WA). Dia yang mengajakku ngobrol duluan. Namanya Edy. Dia orang yang pernah jatuh cinta padaku, bahkan aku adalah cinta pertamanya. Tetapi saat ini, kami hanya berteman biasa, walau masih dapat ku lihat beberapa "kode" darinya. Kami berbicara tentang masa remaja kami, hingga ujung-ujungnya berbicara tentang cinta dan jodoh. Satu kalimat yang dapat ku petik darinya, dia bilang, kalau kamu bener-bener cinta, pasti nggak akan cepet ilang.

Muhammad, apakah ini cinta? Mengapa aku sulit sekali melupakanmu? Bahkan ini sudah berlangsung selama 2 tahun. Meski aku tak pernah menerima kenyataan bahwa hatiku memiliki rasa untukmu. Sampai saat ini aku belum berani untuk mengatakan, "Ya, aku ikhlas mencintaimu", bahkan hanya kata-kata, "Ya, aku ikhlas mengagumimu" tidak mampu ku akui. Tidak juga dapat ku akui itu di hadapan Mba Lailis. Aku selalu mengelak tentang perasaanku. Apakah kalau aku mengakui dan menerima semuanya, maka aku dapat melupakanmu? Asumsi inilah yang menjadikanku untuk menuliskan kembali kisah dalam novel yang ku tulis di akhir tahun lalu menjadi surat sepanjang ini. Aku ingin mencari kebenaran, apakah aku mencintaimu dan apakah aku dapat menerima semua perasaan yang dianugerahkan Tuhan untukku?

Pukul 00.00 tepat, aku tak bisa tidur karena terus terpikirkan tentangmu. Makanya, di sela-sela usahaku menutup mata, ku buka alamat blogmu yang biasa dijadikan sebagai tugas Jurnalistik Online. Banyak sekali tulisanmu di sana. Aku menyukainya. Ternyata kau juga pintar menulis. Jadi, tanpa pikir panjang, aku menambahkanmu dalam lingkaran pertemanan di akun google-ku. Setelah puas men-stalk blog dan tulisan-tulisanmu, aku kembali tersadar dan menulis status, "Jangan menunggu mau mati baru beramal, tapi beramallah sembari menunggu mati. Karena hidup itu nggak cuma satu kali. Jadi jangan mumpung masih hidup lantas mau habiskan waktu untuk bahagia di sini, lalu tidak memikirkan bahagia di akhirat nanti. Allah tidak melarang kita bahagia dan gembira di dunia ini kok. Hanya saja, Dia yang Maha Berbelas Asih, memperingatkan kita agar jangan bahagia di satu kesempatan saja, tapi juga bahagia selamanya." lalu tertidur. Ya, hanya dengan mengingat mati, menulis status tentang mati, dapat membuatku nyaman dan tenang untuk pergi terlelap ke alam mimpi. Hanya kematian yang dapat mengalihkan pikiranku tentangmu. Hanya kematian yang dapat membuatku kuat untuk terus mempertahankan prinsipku.

Kalaupun aku tak mendapatkanmu di dunia ini, setidaknya Tuhan telah mempersiapkan yang terbaik untukku di surga nanti. bisikku, sebelumku pergi ke alam bawah sadarku.

Tiga jam kemudian, sesaat setelah Tuhan membangunkanku dari mimpi indah, aku membuka akun medsosku. Hanya sekedar ingin membaca kembali status itu. Tapi, yang mencengangkan, ada namamu di pemberitahuan facebook-ku. Aku terkejut bukan main. Tumben, begitu pikirku. Apa karena kau melihat notifikasi di gmailmu? Atau karena kau sedang memberi "kode" seolah bertanya padaku mengapa aku hanya membaca pesan BBM-mu? Tetapi kemudian, aku buka akun profilmu, dan kau baru saja membagikan salah satu tulisan artikelmu di sana. Ah, apa karena itu ya? Karena aku menyukai blog-mu?

hmm, yasudah. Akhirnya ku putuskan sampai sekarang untuk tidak menghubungimu. Aku lebih suka berbicara padamu di sini. Karena aku dapat mengatakan apa saja tanpa harus menunggu balasanmu. Aku dapat menjelaskan apa saja tanpa menunggu persetujuanmu. Mungkin jiwaku sedang sakit. Tapi, bukankah jatuh cinta memang diderita oleh orang-orang yang sakit?

Hanya saja, inilah caraku mengujimu, Muhammad. Juga, inilah caraku melepaskan segala harapan tentangmu.

---

to be continued.

- HS -

Surat Pertama; Muhammad, Boleh Aku Bertanya?

Foto ini diambil di hari ketika beberapa jam setelah kita ujian bahasa. Kau berbuka bersama dengan teman sekelasmu, dan aku berbuka dengan teman sekelasku.


Muhammad, aku teringat satu kenangan pertama kita. Satu kenangan pertama yang entah mengapa kau dan aku berani memulai untuk melukiskan semuanya. Kalau teringat tentang ini, aku masih belum bisa percaya tentang semua respon itu.

Kebetulan, ini bulan Juni bukan? Masih teringat jelas di mataku, hal di mana siang tahun lalu aku mengetik sebuah pesan yang isinya permintaan maaf. Ada sedikit rasa baper saat itu. Ya, aku yang menganggapmu memiliki perasaan yang sama, tiba-tiba sadar diri bahwa hatimu tidak sama denganku. Bahkan, aku merasa bersalah karena telah menjadi objek dari isu-isu percintaan yang muncul di kalangan teman-teman kita. Aku takut kau tidak suka dengan candaan teman-teman yang menjodohkan kita. Aku takut dengan kehadiranku selama semester itu, menjadi pengganggu dalam studimu. Hingga ku tuliskan pesan yang panjang dengan akhir kata; Maaf karena telah mengganggumu, aku janji tidak akan mengambil kelasmu lagi!

Semakin membuatku yakin bahwa kau kesal padaku adalah ketika kau tak membalas pesanku. Ya, aku tahu, kau selalu seperti ini. Tak pernah yang namanya cepat dalam membalas pesan. Tetapi, meski aku mengerti alasannya, entah mengapa aku tetap bersuudzan bahwa aku memang benar-benar pengganggumu. Hingga malam itu, aku tertidur dengan kesedihan yang amat mendalam. Aku sering berkomat-kamit dalam hati, menyesal karena telah hadir di hidupmu.

Namun, semua itu sirna, saat mentari pagi menyinari, dan satu smsmu menyambut awal hariku;  “Hahaha,... kalo ada kamu tuh rame, jadi seru. Seharusnya aku yang minta maaf. Tak tunggu di semester depan di kelasku lagi”

Koreksi aku jika aku salah: di sini, aku merasakan hatimu lagi. Aku merasakan sesuatu yang tersirat dari tulisan dan permintaan itu, meski ku coba untuk menepisnya berkali-kali. Saat itu, ingin sekali ku tanyakan padamu. Tetapi, aku tidak seberani itu. Sebab ku tahu, pasti banyak wanita di sekitarmu, penggemarmu, yang pernah merasa sepertiku ini. Maka di sinilah Muhammad, aku berlatih untuk menganggap semua hanyalah karena tinggi dan besarnya harapanku padamu. Bukan kau yang memberi banyak harapan padaku, meski sempat ku katakan: "Ah kau ini terlalu memberi harapan!"

---

Dua minggu setelah itu, aku sempat memandangimu dari kejauhan. Saat itu, tanggal 30 Juni 2015, hari di mana kita berada dalam satu ruangan yang sama untuk ujian bahasa. Ruang Auditorium II kampus III. Aku berjarak beberapa baris kursi di depanmu. Sesekali, ku tengok ke belakang mencari sosokmu, dan sesekali pula aku merasa, pandangan kita bertemu. Apakah saat itu kau menyadarinya?

Tidak hanya di dalam ruangan saat ujian, di luar ruangan pun, sembunyi-sembunyi aku menatapmu yang bersliweran di depanku bersama Irfan dan teman-teman sekelasmu. Hari itu, ku dengar kau akan ikut buka bersama dengan teman-teman sekelasmu di kampus. Aku juga. Saat itu, aku buka bersama dengan teman-teman sekelasku di rumah Bahri, depan pasar Ngaliyan.

Sepulang buka bersama, aku mengintip foto-fotomu di grup The History De Better. Itu pertama kalinya aku melihatmu memakai sarung. Aku senang melihatmu tersenyum bahagia bersama mereka. Di sini, aku menyadari, ternyata aku menyukaimu diam-diam. Iya, hal itu baru ku sadari sekarang, Muhammad.
Ini fotomu yang aku maksud


---

Di luar ekspektasiku, satu bulan kemudian, untuk pertama kalinya, kita berbincang lama di obrolan Black Berry Messenger (BBM). Koreksi jika aku salah: kau memulainya dengan basa-basi membeli pulsa dariku, dengan pembayaran yang akan dilakukan di awal perkuliahan nanti. Dari sini, kau mulai mengajakku banyak berbicara. Termasuk tentang rasa penasaranmu yang tak bertemu denganku di matakuliah Madzahibut Tafassir di kelas yang sama. Padahal, aku sama-sama mengambil mata kuliah itu. Dosennya pun sama; pak Iing. Bolehkah aku menganggap bahwa kau telah terobsesi padaku sejak awal kita bertemu?

Yang paling bikin aku terbawa perasaan, ketika semua pembicaraan itu berlanjut ke arah pembicaraan tentang keluarga. Terulang kembali hal dimana aku mengungkapkan lagi daerah asal Ibuku; Bandung. Aku heran, mengapa kau juga mengatakan, "Aku juga punya keluarga di Bandung, keluarga dari adiknya kakekku." Saat itu aku tertawa loh. Tertawa karena kau selalu ingin memiliki hal yang sama denganku. Atau, ini hanya perasaanku saja?

Dari perbincangan itu, kau bawa anganku melayang lebih jauh lagi, ketika kau bertanya, "Calon imam seperti apa yang kamu inginkan? Apakah harus hafal Quran juga?", dan pertanyaan yang penuh dengan debaran-debaran ini kau awali dengan kata: "Boleh aku bertanya?"

Jujur, prasangkaku tentangmu semakin kuat saat itu. Ya, aku merasa, kau memiliki hal dalam hatimu yang tak mampu kau utarakan padaku. Kau hanya sedang berhati-hati dan mengenal jauh tentangku. Benar begitu, Muhammad?

Sebenarnya, saat itu ingin sekali ku katakan, "Calon imam yang aku inginkan itu...seperti kamu."

Aku sempat menuliskannya di layar obrolan kita. Tapi kemudian ku hapus lagi, karena tak mungkin secepat itu ku buka perasaanku padamu. Aku lebih suka dengan diam-diam seperti ini. Hingga akhirnya ku katakan, "Ya nggak harus sih. Calon imam yang aku inginkan itu..yang bisa mendidikku dan anak-anakku ke jalan-Nya."

Mau kah kau mendengarku mengulang jawaban dari pertanyaanmu ini?

Muhammad, aku berharap calon imam yang menjadikan Allah sebagai orientasi hidupnya, nabi Muhammad sebagai teladan sehari-harinya, yang dapat mencintaiku karena Allah. Muhammad, sosok sepertimulah yang secara dzahir (karena aku belum melihat watak aslimu), sesuai dengan kriteriaku. Kau pintar bahasa Arab, kau hidup karena-Nya, meneladani rasul-Nya, dan kau sholeh, pintar. Pergaulanmu bagus, dan akhlakmu mulia. Aku yakin kau bisa membimbingku, mendidiku, dan mengajakku untuk selalu berorientasi kepada-Nya.

Akan tetapi, kau mengajariku satu hal dari jawaban kedua ini, dengan satu jawabanmu: "Aku hanya berharap calon istri yang dapat menerimaku apa adaya..nggak neko-neko."

Muhammad, inilah inspirasi pertama darimu, yang akan terus membawaku pada inspirasi-inspirasi selanjutnya. Dari sini, aku mulai berfikir dengan menimbang ulang caraku memasang kriteria tinggi-tinggi. Mulai saat itu, ada ruang dalam hati yang ingin selalu mengutarakan; Muhammad, boleh aku bertanya?

Sebab aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku ingin bertaaruf, untuk mengambil pelajaran berharga darimu, meski aku tak dapat terlalu banyak berharap. Setidaknya, izinkanku berharap dapat memetik dari setiap pertanyaan yang ku lontarkan.

Jadi Muhammad, bolehkah aku lebih sering bertanya?

---

to be continued.

- HS -

Sabtu, 11 Juni 2016

Pengantar Surat untuk Muhammad


Ilustrasi: semester empat saat kita berjalan seperti ini di perjalanan ke kampus saat senja

Hari ini, aku ingin memulainya kembali. Bercerita tentang suratan cinta yang telah digariskan Tuhan untukku. Sebenarnya, ada sedikit keraguan untuk berbagi cerita ini. Tapi, aku tak ingin kehilangan kenangan-kenangan indah yang telah terjadi selama dua tahun bersamamu. Kenangan yang tidak bisa direkayasa. Seolah-olah memang begitulah Tuhan telah menuliskan skenario-Nya untukku. Meskipun mungkin, akan ada bagian-bagian yang menyedihkan, yang menyingkap tentang cerita masa lalu, yang memang ingin ku ceritakan secara jujur padamu.

Sebenarnya, cerita ini adalah improvisasi dari novel yang telah ku tulis di akhir tahun lalu. Aku hanya ingin sejenak memunculkan biruku yang sempat hilang hingga di pertengahan tahun ini. Ingin ku lukiskan kembali biruku, tentang sosok yang telah menginspirasi, sosok yang bernama Muhammad, tetapi ia bukan Muhammad yang lahir 1400 tahun lalu. Sosok itu adalah sahabat sejati dan saudaraku yang lahir duapuluh lima tahun lalu. Yes, you!

Well, usiamu tidak sebanding dengan usiaku. Terpaut hampir lima tahun. Baru beranjak dewasa, dan inilah usia-usia dimana seorang wanita mulai bermimpi tentang pernikahan. Makanya, banyak teman-teman seusiaku yang kini sudah memiliki belahan jiwa 'halal'-nya masing-masing. Bahkan, ada yang sudah punya anak. Adapun bagi mereka yang belum menikah, rata-rata sudah memiliki calon dan tambatan hati yang telah diikat sedemikian rupa.

Berbeda denganku. Justru, di usia yang bertambah dewasa, aku kehilangan sosok yang selama ini selalu ku impikan menjadi masa depanku. Sosok yang dulu sangat menjanjikan. Aku tak pernah menyangka akan kehilangan dirinya di saat target usia pernikahanku semakin dekat. Aku tak mengerti mengapa Tuhan menakdirkanku seperti ini. Padahal, hubungan itu telah ku jalin selama hampir enam tahun.

Masalahnya klise; tidak direstui. Entah bagaimana bisa baru ku sadari jika Ayah dan Ibu tidak merestuinya. Padahal, kalau ku ingat-ingat kembali, isyarat penolakan mereka telah terungkap sejak tahun 2011 lalu, sekitar setahun setelah penyatuan kami. Tetapi, karena terlalu buta dengan cinta, aku memaksakan diri menganggap bahwa semua akan baik-baik saja. Semua akan berjalan sesuai rencana. Cepat atau lambat, Ayah Ibu pasti merestui.

Nyatanya, sejak akhir tahun lalu, setiap kali aku bertanya pada Ibu, "Mi, kalau Helmiy melamar, apa Abah-Umi akan nerima dia?"

Kau tahu apa yang dijawab Ibuku? Ia mengungkap semua sikap dan kehidupan laki-laki bernama Helmiy, yang dulu sangat ku cintai. Ibuku mengingatkanku tentang segala penghianatan yang pernah dia lakukan padaku. Ibuku paling tahu tentang tangisanku.Satu kalimat bercabang yang paling menusuk jantungku, "Memangnya kamu mau menjadi makmum dari laki-laki yang tidak menjaga pergaulannya dengan wanita? Memang dia punya hafalan berapa juz? Ilmu agamanya ada? Ngajinya bisa?"

Mungkin aku masih memiliki sedikit harapan tentangnya, hingga ku tanyakan lagi hal itu beberapa waktu lalu. Padahal, aku sudah memutuskan hubunganku sejak lama. Akan tetapi, jawabannya hampir sama. Bahkan Ibuku menjawabnya dengan kalimat penegasan yang sangat jelas dan lugas, dengan tambahan kalimat, "Kau ini kenapa Habibah masih terus menyebut namanya?"

Hmm, bukannya aku masih cinta. Aku telah melupakannya, tidak lagi berkomunikasi dengannya. Tetapi, aku hanya merasa takut. Usiaku sudah setua ini, dan aku kehilangan tambatan hati. Terlebih ketika salah satu teman lamaku berkata, "Usia segini harusnya kamu udah punya pandangan.."

Padahal, tinggal sedikit lagi. Dia pernah berjanji akan melamarku secara resmi setelah wisuda nanti. Sekitar awal tahun 2017 ini. Tapi semua hanya tinggal rencana. Kalau orangtua sudah tidak merestui, apa yang dapat ku lakukan?

Memang, ada kau di sisiku. Tetapi, apa arti dari komunikasi yang terjalin di antara kita? Apakah kita punya masa depan? Kalau punya, di mana letak masa depan itu ada sedangkan kau, beberapa waktu lalu berkata: "Saya masih belum bisa menentukan calon istriku". Padahal, di awal bulan lalu kau bilang: "Maaf... dulu lagi pas kita bahas tentang perkenalan keluarga dan karakter.. memang saya punya rasa suka tuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan.."

Apa rasa suka itu telah berakhir? Apa kau belum bisa menjadikanku masa depanmu?

"Saya takut kalau tidak jadi.. malah mengecewakan orang lain.. gitu aja."

Apa yang ada dalam pikiranmu hingga kau sering mengucapkan kata ini padaku, tapi di sisi lain kau menunjukkan perasaanmu? Apa kau ingin agar aku tak banyak berharap, tetapi aku harus tahu bahwa kau menyukaiku?

Di sini, aku ingin mengajakmu menyelam dalam biru yang telah tanpa sengaja kita lukis bersama. Di sini, ingin ku tunjukkan betapa luar biasa skenario-Nya. Agar aku dan kau dapat mencari jawabannya. Meski mungkin, kau tak pernah membaca cerita ini. Kalau kau baca cerita ini, maka renungkanlah. Jangan bicarakan dan tanyakan mengapa ku kisahkan kamu di sini. Bisa jadi, inilah suratku. Surat terpanjang yang penuh dengan harapan masa depanku bersamamu. Meski ku tak tahu, akankah Tuhan memilihkanmu untukku dan memilihkanku untukmu.

Surat ini...hanya surat terakhir yang ingin ku tuliskan untukmu. Surat terakhir sebelum ku pergi. Surat terakhir sebelum aku menutup pintu hati ini. Izinkan aku menuliskan semuanya. Karena aku menyimpan semuanya tentangmu. Di sini.

Semarang, 2016.

- HS -