"PING!!!"
"Boleh saya bertanya?"
Hari itu, 28 Mei 2016, dalam perjalanan dari Semarang ke Pekalongan, aku sedang membaca buku yang judulnya,
"Keseharian Rasulullaah", dan terlalu baper dengan isinya. Apalagi, minggu-minggu sebelumnya, aku juga baru saja melihat film pendek ini:
https://www.youtube.com/watch?v=7BjtYgWPAbI
Itulah yang menjadi alasan tiba-tiba ingin datang dan bertanya padamu tentang satu hal. Ajaibnya, hari itu, kau cepat sekali membalas pesanku. Saat itu juga.
"PING!!!"
"Boleh..."
Jawabmu.
"Tapi hal pribadi?"
"Gpp?"
"Gpp... santai aja"
"Di dunia ini, siapa orang yang paling kamu cintai?"
Ini pertanyaanku, Muhammad. Aku berharap, kau menjawab dengan hal yang sama seperti harapanku, seperti jawabanku jika aku ditanya dengan pertanyaan ini, dan kau menjawabnya:
"Saya selama ini berusaha untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya..walaupun itu sulit"
"Kedua orangtuaku dan guru-guruku..."
"Ketiga calon istriku dan keempat teman-temanku dan kaum muslimin dan muslimat..."
Jawaban terlengkap. Tapi sebenarnya, aku hanya ingin satu jawaban saja. Untuk itulah aku kembali bertanya:
"Berarti satu manusia yang paling kamu cintai di dunia ini adalah?"
Bukannya kau langsung menjawab, tapi malah curhat:
"Saya masih belum bisa menentukan calon istriku", baru kemudian kau bilang,
"Orangtuaku"
Dari jawaban ini, aku bingung, di awal, kau bilang Allah dan Rasul-Nya, tapi kemudian kau bilang orangtuamu. Sempat aku berspekulasi, "Kalau Muhammad jawab yang lain, aku akan melupakannya!" Tapi ternyata, kau malah membuatku bingung. Sebenarnya, siapa yang paling kau cintai di dunia ini? Mengapa kau harus memberikan jawaban yang membuatku bimbang untuk mengambil keputusan. Lantas, aku kembali bertanya: "Alasannya apa?", tapi kau malah menangkapnya lain. Mengapa kau menjawab,
"Saya takut kalo nggak jadi.. malah ngecewain orang lain... gitu aja"
Apa kau menangkap maksud pertanyaanku adalah "alasan mengapa kau belum menentukan calon istrimu?" Sebenarnya bukan itu yang ku maksud, Muhammad. Tapi aku tak berani meng-interupsimu. Karena aku tak ingin membuatmu hilang muka di hadapanku. Aku ingin kau tetap memiliki kelapangan hati, sehingga aku tak menegurmu. Biarlah kau menganggapku penasaran dan seolah membutuhkan kepastian. Sebenarnya tidak, Muhammad.
Tapi lagi-lagi, dari kesalahpahaman inilah, kau memberiku inspirasi. Ya, seakan-akan kau memberi isyarat agar aku jangan terlalu berharap. Agar aku jangan terlalu menganggap bahwa kau telah memilihku hanya karena aku telah mendengar kau pernah berkata,
"Aku memiliki rasa suka untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan".
Tenang, Muhammad. Aku hanya penasaran, apakah kau seperti yang ada dalam sangkaanku, bahwa kau sangat mencintai sosok yang dikenal di seluruh alam ini? Sosok yang juga sangat ku cintai? Maaf, aku hanya sedang mengujimu.
Hmm, mungkin jawabanmu, perkataanu, tidak bisa menjadi akhir dari caraku menyimpulkan tentangmu. Tapi, sekali lagi, aku hanya penasaran. Yap, aku ingin menguak kebenaran tentang, "Apakah kau memiliki visi-misi yang sama denganku?"
Aku tahu kau belum memilih siapapun untuk menjadi calon istrimu. Aku juga, aku juga belum memilih siapa calon imamku. Sama sepertimu, aku juga ketakutan mengecewakan dan dikecewakan orang lain. Pertanyaanku ini sebagai caraku mengenalmu. Pertanyaanku ini tidak hanya akan ku lontarkan padamu. Tapi pada siapapun yang nanti ingin ku pilih dan ingin memilihku.
Kamu, ku tanyai hal ini, bukan karena aku menyangka kau telah memilihku. Tidak. Karena aku tahu betul bahwa kau belum berani memastikan masa depanmu. Kamu, ku tanyai hal ini, bukan juga karena aku telah memilihmu. Tidak.
Aku, menanyaimu hal-hal seperti ini, karena ada sesuatu yang ingin ku pastikan. Kau memang belum tentu seorang imamku di masa depan. Tapi, beginilah caraku untuk memilih dan menemukan kehendak Tuhan. Aku berharap ditemukan dan menemukan seseorang yang benar-benar memiliki visi-misi yang sama denganku. Bukan visi-misi harta, kecantikan, jabatan, keturunan, atau sekedar pernikahan semata. Bukan.
Aku berharap pasangan surga. Tidak perlu sempurna, karena aku juga tidak sempurna. Hanya perlu saling melengkapi dan berkeyakinan bahwa kita mampu dan bisa mengarungi gelombang kehidupan dengan satu tujuan; masa depan bersama Tuhan. Aku mengharapkan cinta sejati itu. Cinta yang membawaku ke surga. Cinta yang tak memalingkanku dari Cinta pada Tuhan Yang Maha Esa. Aku belum bisa menentukan apakah itu kamu?
Aku hanya bisa bertanya dan mencuri kesempatan di sela-sela Tuhan mempertemukanku denganmu. Ya, aku tidak mencarimu. Juga tidak mencarinya. Tapi aku mencari di mana ketetapan Tuhan itu, mencari dimana kehendak-Nya. Agar aku dapat mengendalikan rasa ini. Ya, rasa yang seharusnya hanya ku labuhkan pada seseorang yang telah Tuhan tetapkan untukku.
---
Dua hari yang lalu, aku kembali melontarkan pertanyaan padamu seperti ini:
"Menurut pengetahuanmu, kenapa di al Quran dan Hadits, apa yang didapatkan laki-laki di surga lebih jelas daripada apa yang didapatkan perempuan?"
Pesan itu ku kirim sekitar pukul 10.05 WIB, lewat BBM. Tidak ada maksud apa-apa selain (lagi-lagi) ingin tahu bagaimana logika dan pemahamanmu tentang perempuan. Entah mengapa aku sering mengujimu dengan berbagai pertanyaan? Akan tetapi, di minggu pertama bulan Ramadhan ini, kau sering terlambat membalas pesan. Aku tidak marah, karena aku tahu dan bisa melacakmu. Lewat
facebook messenger dan
what's up. Di sana aku dapat mengetahui kapan kau memegang ponselmu. Karena dalam dua media sosial itu, tertera muncul
"Aktif 1 hari yang lalu" atau
"Dilihat kemarin pukul 00.59", jadi aku tahu, kau tidak sibuk dengan ponselmu. Mungkin di pesantren tempat tinggalmu banyak kegiatan. Lagipula, aku telah terbiasa dengan hal ini. Justru aku menyukainya. Bahkan, itulah yang menjadi alasanku untuk terus mengenalmu.
Jujur, tidak ada rasa kesal karena kau tak membalasnya sampai waktu berbuka tiba. Aku tak berharap apa-apa karena telah terbiasa. Pun, karena aku tahu, kau tak mungkin menganggapku lebih. Meski kau pernah utarakan semua perasaanmu. Tapi, maafkan aku yang belum bisa berhenti memikirkan dan mengujimu. Maafkan aku yang masih menjadikanmu pilihan di hidupku. Meski pernah ku katakan bahwa aku telah lupa. Bukan. Bukan salahmu. Ini salahku, yang tetap saja kesulitan mengendalikan hati yang terlanjur diisi dengan kehadiranmu.
Semakin teringat tentangmu, ketika Mba Lailis, seseorang yang kita temui di awal bulan Mei lalu di taman Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), ketika membahas masalah kita bertiga, tiba-tiba kemarin datang dan membahas lagi tentangmu. Dia datang baik-baik, bahkan mengajakku buka bersama. Membicarakanmu pun dengan emoji yang bahagia dan penuh canda. Meski ada rasa sesal di sana ketika aku tak bisa menahan untuk berkata padanya,
"Yah..gara-gara mba Lailis gagal move on lagi."
Sebentar, sebelum Mba Lailis datang lewat BBM, ternyata kau membalas pesanku. Malah dari pukul 01.57 WIB. Tetapi aku tidak membukanya, meski dapat membacanya:
"Contohnya?"
Hmm, kau memintaku memberi contoh dari pertanyaanku, tetapi aku tidak memiliki hasrat lagi untuk menjawabnya. Aku tak berani membuka pesan itu. Ingin ku biarkan agar di ponselmu terus tertanda
D, bukan
R. Toh, sebenarnya aku sedang mengujimu. Aku mengurungkan niat itu karena tersadar bahwa seharusnya aku tidak mengganggumu. Sempat memang di siang hari ku ingin lanjutkan pertanyaan itu, bahkan akhirnya ku buka pesanmu. Terlihat tanda
R kan? Tapi ku fikir, kau tidak sedih meski aku tak membalasnya.
Kau memang sempat mengakui rasa sukamu. Tapi, apa memang masih ada sampai detik ini? Karena alasan inilah, aku berprasangka bahwa kau tidak penasaran mengapa aku tak menjawab pesanmu lagi. Aku hanya berharap kau tak berprasangka bahwa aku marah. Tidak. Aku tidak akan pernah marah padamu, karena aku tahu alasannya dengan jelas, dengan mata kepalaku sendiri. Tidak seperti dulu saat bersama calon suamiku, Helmiy. Dulu, aku penuh curiga dan prasangka karena dia jarang menghubungiku. Dia bahkan tidak terbuka mengapa bersikap seperti itu, dan setiap ku selidiki, apa yang dia katakan berbeda dengan apa yang dia lakukan. Entah, apa yang membuatku mempercayaimu?
Sampai aku terlelap malam tadi, aku tetap teguh pada prinsip untuk tidak membalasmu apa-apa. Untuk mengalihkan hasrat yang meluap itu, aku berbincang lama dengan teman lamaku sejak SMP lewat
what's up (WA). Dia yang mengajakku ngobrol duluan. Namanya Edy. Dia orang yang pernah jatuh cinta padaku, bahkan aku adalah cinta pertamanya. Tetapi saat ini, kami hanya berteman biasa, walau masih dapat ku lihat beberapa "kode" darinya. Kami berbicara tentang masa remaja kami, hingga ujung-ujungnya berbicara tentang cinta dan jodoh. Satu kalimat yang dapat ku petik darinya, dia bilang
, kalau kamu bener-bener cinta, pasti nggak akan cepet ilang.
Muhammad, apakah ini cinta? Mengapa aku sulit sekali melupakanmu? Bahkan ini sudah berlangsung selama 2 tahun. Meski aku tak pernah menerima kenyataan bahwa hatiku memiliki rasa untukmu. Sampai saat ini aku belum berani untuk mengatakan,
"Ya, aku ikhlas mencintaimu", bahkan hanya kata-kata,
"Ya, aku ikhlas mengagumimu" tidak mampu ku akui. Tidak juga dapat ku akui itu di hadapan Mba Lailis. Aku selalu mengelak tentang perasaanku. Apakah kalau aku mengakui dan menerima semuanya, maka aku dapat melupakanmu? Asumsi inilah yang menjadikanku untuk menuliskan kembali kisah dalam novel yang ku tulis di akhir tahun lalu menjadi surat sepanjang ini. Aku ingin mencari kebenaran, apakah aku mencintaimu dan apakah aku dapat menerima semua perasaan yang dianugerahkan Tuhan untukku?
Pukul 00.00 tepat, aku tak bisa tidur karena terus terpikirkan tentangmu. Makanya, di sela-sela usahaku menutup mata, ku buka alamat blogmu yang biasa dijadikan sebagai tugas Jurnalistik Online. Banyak sekali tulisanmu di sana. Aku menyukainya. Ternyata kau juga pintar menulis. Jadi, tanpa pikir panjang, aku menambahkanmu dalam lingkaran pertemanan di akun google-ku. Setelah puas men-
stalk blog dan tulisan-tulisanmu, aku kembali tersadar dan menulis status,
"Jangan menunggu mau mati baru beramal, tapi beramallah sembari menunggu mati. Karena hidup itu nggak cuma satu kali. Jadi jangan mumpung masih hidup lantas mau habiskan waktu untuk bahagia di sini, lalu tidak memikirkan bahagia di akhirat nanti. Allah tidak melarang kita bahagia dan gembira di dunia ini kok. Hanya saja, Dia yang Maha Berbelas Asih, memperingatkan kita agar jangan bahagia di satu kesempatan saja, tapi juga bahagia selamanya." lalu tertidur. Ya, hanya dengan mengingat mati, menulis status tentang mati, dapat membuatku nyaman dan tenang untuk pergi terlelap ke alam mimpi. Hanya kematian yang dapat mengalihkan pikiranku tentangmu. Hanya kematian yang dapat membuatku kuat untuk terus mempertahankan prinsipku.
Kalaupun aku tak mendapatkanmu di dunia ini, setidaknya Tuhan telah mempersiapkan yang terbaik untukku di surga nanti. bisikku, sebelumku pergi ke alam bawah sadarku.
Tiga jam kemudian, sesaat setelah Tuhan membangunkanku dari mimpi indah, aku membuka akun medsosku. Hanya sekedar ingin membaca kembali status itu. Tapi, yang mencengangkan, ada namamu di pemberitahuan
facebook-ku. Aku terkejut bukan main.
Tumben, begitu pikirku. Apa karena kau melihat notifikasi di gmailmu? Atau karena kau sedang memberi "kode" seolah bertanya padaku mengapa aku hanya membaca pesan BBM-mu? Tetapi kemudian, aku buka akun profilmu, dan kau baru saja membagikan salah satu tulisan artikelmu di sana. Ah, apa karena itu ya? Karena aku menyukai blog-mu?
hmm, yasudah. Akhirnya ku putuskan sampai sekarang untuk tidak menghubungimu. Aku lebih suka berbicara padamu di sini. Karena aku dapat mengatakan apa saja tanpa harus menunggu balasanmu. Aku dapat menjelaskan apa saja tanpa menunggu persetujuanmu. Mungkin jiwaku sedang sakit. Tapi, bukankah jatuh cinta memang diderita oleh orang-orang yang sakit?
Hanya saja, inilah caraku mengujimu, Muhammad. Juga, inilah caraku melepaskan segala harapan tentangmu.
---
to be continued.
- HS -