Jumat, 29 Juli 2016

Surat Terakhirku untukmu, Muhammad.

Tak perduli seberapa miripnya kehidupanmu, cara hidupmu, keluargamu, dengan orang yang paling ku cintai ini, jika kau bukan yg ditakdirkan Tuhan untukku, aku akan mencoba ikhlas kok.

Ya meski harus baper di saat terakhir mendengar kisah tentang keluargamu dari sepupumu. Rumahmu, apa yang kau lakukan di sana, bagaimana ayah-ibumu, kakekmu, saudaramu. Meski jadi tahu apa yg akan kau lakukan nanti jika melanjutkan di Bandung. Dimana tempatnya.

Mengapa kau begitu istimewa? Mengapa aku menemukanmu di tengah impianku yg besar terhadap kota Bandung, dan mengapa kau membuatku terbawa perasaan yang amat sangat parah?

Apa aku harus mengurungkan diri pergi ke sana seperti Rania yang enggan pergi ke Korea supaya tdk bertemu Hyun Gun?

Kau curang. Memang curang. Kenapa kau ambil mimpi-mimpiku.😢 Aku punya mimpi melanjutkan ke Bandung, dan aku takut dianggap bahwa aku yg mengikutimu, aku yg mengambil mimpimu.

Impianku sejak kecil, jika aku gagal di al Azhar, aku ingin sekali membangun masa depan di Jabar, khususnya di kota Bandung.. Sblm merantau ke kota ini, sblm brtmu dgmu, aku gagal mewujudkan impianku ke kota Mesir. Apakah aku juga harus kehilangan mimpiku yg sangat sederhana ini?😢

aku senang sekaligus sedih mendengar kau mau melanjutkan di bandung. Katanya, kau akan tinggal di masjid dan mengajar di lembaga pendidikan itu dekat Cibiru-hilir. Tempat saudaramu. Mengapa mimpi kita sama? Aku senang sebenarnya. Tapi aku takut dibilang mengikutimu. Aku juga takut semakin mengagumimu kalau kita sama-sama di sana.

Ayahku saja sempat berkata,"Apa karena Muhammad mau ke Bandung jadi kamu ikut ke sana juga?"

Aku tidak suka dianggap begini. Aku tidak ingin kembali menjadi gadis agresif seperti di masa laluku dulu. Bandung memang impianku sejak dulu. Sebelum bertemu denganmu. Hanya saja, Ayah berkata begitu setelah mendengarku hampir menolak tawarannya. Ayah ingin aku mengambil kelas weekend S2 nanti kemudian mengelola rumah tahfidz di Pekalongan. Dan hari ini, ketika aku mendapati kenyataan betapa aku tidak pantas mengharapkanmu, aku berpikir untuk memilih tawaran Ayah. Aku berpikir untuk menerima beasiswa di Semarang.

Baiklah, entah mengapa aku berpikir untuk melanjutkan di kota Semarang mengikuti kemauan Ayahku. Mungkin bisa jadi karena kamu. Karena hanya ingin agar tidak bertemu denganmu lagi. Karena aku tak bisa memilihmu.

Bukan tidak bisa. Tapi aku merasa tidak pantas mengharapkanmu. 😢

Apa yang ku dengar semalam, membuatku menyadari betapa besarnya rasa cintaku padamu. Tetapi, semakin ku sadari besarnya cinta itu, semakin ku merasa putus asa terhadapmu.

Baiklah, akan ku ceritakan terakhir kalinya, apa yang ku tahu tentangmu selama dua tahun terakhir ini.

Pertama kali kenal denganmu, penampilanmu mirip sekali dengan penampilan ayahku dulu saat muda. Bahkan ayahku mengatakannya sendiri. 😢

Saat aku mulai tahu tentangmu, semakin yakin kau mirip dengannya. Masa mudamu, yg diisi dg mengajar bahasa Arab, mengajar anak-anak. Ibuku bilang, kau mirip sekali dengan Ayah.

Saat kau mulai mendekatiku, dan kita berbicara soal karakter calon suami-istri, pernikahan, keluarga, aku merasa kaulah yang ku cari selama ini. Kau yang ku inginkan. Ada hal yang ku yakini bahwa kau dapat membawaku dan mengajakku ke surga. aku merasa kita benar-benar cocok membangun keluarga. Prinsip kita sama. Kita sama-sama ingin mendidik anak seperti didikan generasi salaf dulu. Kau bisa bekerja sama denganku untuk mewujudkan keluarga penghafal Quran. Aku senang mendengar saat kita berbicara tentang hal ini. Saat kita masih dekat.

Seiring berjalannya waktu, aku mengenal sepupumu. Dia bercerita banyak tentang kebenaran yang kau ceritakan bahwa kau memang anak kyai. Dia jg bercerita bagaimana keadaanmu di rumah, bagaimana orangtuamu. Katanya, di rumah, Ibumu hanya suka menyetel quran atau sholawat. Ayahmu mengisi kajian. Waktu itu, aku terlalu terbawa perasaan karena kondisi keluarga kita sama. Ayahku mengisi kajian, dan Ibuku tidak trllu suka barang elektronik. TV di rumah hanya distel di dalam kamar orangtua. Persis sepertimu bukan?

Aku juga mendengar bagaimana kakekmu. Kakekmu adalah orang yang dulu punya pesantren, yang membangun lembaga pendidikan. Ayahmu yang melanjutkan. Sama denganku. Kakekku juga mendirikan pesantren dan menggaji banyak guru agama di Palu, Sulawesi Tengah, dan Ayahku yang melanjutkannya.

Saat kita tidak dekat lagi, saat ada seorang wanita yang menanyakan perihal kamu padaku, aku mengetahui banyak hal darimu tentang kehidupanmu di sini. Kau banyak yang suka. Orang-orang tahu kau siapa. Sedangkan aku tidak tahu kau seistimewa itu. Untuk itulah, aku pernah mengirimkan surat panjangku padamu, menyatakan bagaimana kondisi keluargaku. Aku bukan anak kyai. Aku hanya anak ustadz. Hanya kadang-kadang orang menganggap Ayahku kyai. Tapi Ayahku enggan dibilang kyai..

Mulai saat itu aku merasa minder. Kamu, apakah aku pantas mengharapkanmu? Kau sembunyikan semua keistimewaanmu, dan aku mengetahuinya di belakang. Tidak sptku yg bercerita sendiri dg mulutku. Betapa rendah hatinya kau, mendekatiku tanpa menampakkan kau siapa. Padahal orang-orang sudah tahu kau siapa. Maafkan aku yang tak bisa mengenalimu dengan baik.

Dan sekarang, semalam, ku dengar lagi cerita yang lebih lengkap tentangmu, tentang keluargamu, dan tentang rumahmu di Majalengka. Hatiku tak sanggup mendengar semuanya. Aku seolah merasa sama seperti wanita-wanita lain yang mengagumimu. Meskipun telah kau katakan kau suka padaku dulu untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan.

Sepupumu bilang, Ayahmu seorang yang hebat dan terkenal. Ayahmu tidak memperbolehkan kamu pacaran sebelum S2 dan kerja. Persis sepertiku. Ibumu sangat sayang padamu karena kau anak bungsu. Keluargamu punya lembaga pendidikan, dan kau ikut mengajar di sana. Sepupumu saja kadang-kadang disuruh ceramah. aku? Jauh di bawahmu. Jauh sekali. Ini hal terkeren yang pernah ku dengar, dan aku takut menjadi sangat mengagumimu dengan kondisi bahwa aku punya banyak kekurangan.

Meskipun aku senang saat sepupumu bilang, Ibu dan kakak-kakakkmu suka bikin cookies sepertiku, kakakku, dan Ibuku. Saat aku takut keluargamu tak menerimaku ketika sepupumu bicara soal kasih sayang ibumu yang amat besar, sepupumu menyampaikan hal ini seolah menenangkan.

Aku teringat kisah Ibuku ketika baru menikah dengan Ayah. Ibu dari Ayahku ikut mereka saking sayangnya dengan Ayah. Mengapa kehidupanmu harus sama dengan Ayah sehingga hatiku makin teruji?

Iya ini kabar baik kalau kita memiliki latar belakang, prinsip, karakter, dan cara hidup yang sama. Kita juga sama-sama pernah tahu isi hati masing-masing. Tapi, apa kamu masih bertahan dengan perasaan itu? Kalaupun iya, apa kau tahu kekuranganku? Kalau kau tahu, apa kau dapat menerimanya?

Setelah mengetahui banyak hal istimewa darimu, aku sulit menemukan kekuranganmu agar aku dapat melupakanmu. Justru, semakin ku lihat keistimewaanmu, semakin dalam ku lihat kekuranganku.

Kamu twadhu', benar-benar menyembunyikan semuanya. Aku tidak.
Kamu tampan, bersih, aku tidak.
Kamu anak kyai, orang kaya, nasabmu mulia. Sedangkan aku hanya anak ustadz, keluarga orang sederhana, nasabku juga tidak setenar kamu. Ayahku dulu hanya seorang petani yang mengasuh pesantren dan mendirikan madrasah. Tapi ini tidak sehebat seperti keluargamu yang sudah ku dengar sendiri dari Cucu, sepupumu.

Maaf, aku wanita..aku seperti ini..terbawa perasaan..

Hari ini aku sangat sedih karena menyadari betapa besar kekagumanku terhadapmu, lebih besar dari kekagumanmu padaku. Aku sedih mengapa aku merasa menjadi pihak yang paling punya rasa dan menganggap perasaanmu biasa-biasa saja untukku.

Aku tidak ingin pacaran. Aku ingin cinta ini untuk suamiku di masa depan. Tapi mengapa kini hatiku tak bisa ku jaga? Apakah cinta adalah tanda siap untuk menikah? Tapi kan itu hanya aku.

Ada satu hal lagi perbedaan di antara kita. Kalau suatu saat nanti ternyata kau masih menyimpan niatmu, apa kau bisa menerima keadaanku dan keluargaku seperti yang pernah ku ceritakan?

Ayahku seorang imam masjid, guru bahasa Arab, pengajar tafsir di pesantren tahfidz putra dekat rumah, dosen terbang di universitas swasta, dan pengisi kajian tafsir di Pekalongan-Batang-Wiradesa-Kabupaten. Kami tinggal di lingkungan Muhammadiyah, dan juga di lingkungan seperti NU, Salafi, Al Irsyad. Golongan aswaja. Tapi kami bukan termasuk salah satu yang fanatik di antara mereka. Ayah-ibuku adalah kader dari Al Khairat Palu, guru di sana dulu. Ayahku membawa kami dari satu perubahan ke perubahan di setiap ia belajar satu hal ke hal yang lain tentang al Quran, Hadits, dan Fiqh. Ayahku lama menjadi santri hingga mengabdi ke berbagai daerah di Indonesia. Sempat 7 semester kuliah Ahwal Syakhsiyah, sarjana ilmu hukum di Pekalongan, dan magister studi Islam di Semarang. Ibuku dulu 3 semester kuliah kedokteran UI, 5 semester kuliah syari'ah di sulawesi, sarjana ekonomi di Pekalongan, dan lulusan pendidikan keahlian herbalis. Ibuku seorang pedagang pakaian muslimah dan dokter herbal. Keluarga pihak ibuku beda dg ayah. Rata-rata berpendidikan umum. Ibuku asli Palembang yang lama hidup di Bandung. Ibu dari Ibuku sarjana agama. Ayah dari Ibuku sekolah umum. Kakek dari Ibuku di Palembang seorang tokoh agama di Lahat. Tapi keturunannya berpendidikan umum semua. Tidak seperti Ibumu yang bahkan keturunan dari Iran dan berpendidikan agama semua sampai anak-anaknya. Hanya keluarga Ayahku yang punya keturunan dari Hadrmaut dan Baghdad. Ibuku keturunan indo-cina. Tidak sepertimu yang Ayah-Ibu juga keluarga besarmu sempurna dan jelas. Asli seluruhnya Jawa Barat.

Ini perbedaan kita. Dunia kita yang tak sama. Kamu lebih istimewa dariku. Dan kenyataan ini membuatku berpikir apakah kau dapat menerimaku?

Ah, terlalu jauh. Apa kau masih menyimpan harapan itu?

Kita sama-sama takut kecewa dan dikecewakan.
Kita sama-sama takut sedih kalau tak berjodoh.

Tapi, perbedaan ini, dan prasangkaku tentangmu, membuatku ingin pergi. Mengapa aku merasa kau tak lagi berpikir soal ini? Apa kau tak penasaran bagaimana hatiku? Atau kau sudah tahu tapi tak mau memikirkannya?

Inilah yang membuatku ingin menulis surat terakhirku.
Kau benar, aku harus fokus menimba ilmu, dan kalau kita tidak berjodoh, semoga kita mendapat yang sekufu. Aamiin.

Terimakasih atas segalanya.
Aku tak pernah menyesal mengenalmu.
Justru banyak pelajaran yang dapat ku ambil dan ku teladani darimu.

Aku minta maaf.

Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar