Lama sekali aku tak menulis surat lagi untukmu. Hari ini aku ulang tahun yang ke-21. Aku ingin menulis seuatu untukmu. Bercerita tentang hal-hal yang telah ku lewati setelah surat ke-7.
Sepupumu, Cucu, memberitahukan padaku bahwa di hari ketiga setelah lebaran kemarin, kalian berkumpul di rumah nenek di Majalengka. Aku juga, aku sedang berkumpul dengan keluarga kakek di Bandung. Kakekku sudah tiada. Adanya tinggal nenek tiri. Betapa senangnya aku mendapat kabar dari sepupumu. Katanya, kau telah menceritakan tentangku ke Mamahmu. Aku penasaran, apa yang kau ceritakan? Apakah kau menceritakanku yang pernah mengungkapkan perasaanku padamu? Atau, kau ceritakan suratku yang pernah ku kirim padamu? Aku malu.. tapi sayang, sepupumu pun tidak tahu apa yang kau ceritakan ke Mamahmu. Dia hanya tahu bahwa Mamahmu tahu namaku, tahu tentangmu.
Katanya, itu berawal dari kakakmu yang ada di facebook bertanya tentangku di tengah-tengah antara kau, sepupumu, kakakmu, dan mamahmu. Saat dia hendak bercerita, ternyata dia bilang, Mamahnya sudah tahu semua, dan kau diledekin dengan namaku di sana. Tapi kau tersenyum malu. Apakah itu tanda bahwa perasaanmu masih ada? Tapi, mengapa sampai di hari itu kau tak ada kabar?
Namun aku lega, karena sehari kemudian, kau membalas pesanku, meski hanya balasan permohonan maaf lahir-batin lebaran dan satu like statusku yang, "Bukan kamu yang mencuri mimpi-mimpiku. Aku yang mencuri mimpi-mimpimu. Tapi nggak sengaja. Gimana coba??". Haha, apa kau menyadarinya jika aku menulis status ini untukmu? Status ini pun terinspirasi dari menonton film Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea yang ku tonton bersama bibiku di Bandung.
Meski hanya itu responmu. Tak apa. Setidaknya aku masih bisa menganggapmu ada dan dekat. Ah iya, hari Ahad lalu (10 Juli 2016), aku berhenti di dekat daerah tempat tinggalmu, Majalengka. Daerahnya masih asri ya. Selama hampir satu minggu di sana, aku merasa kau seperti dekat dengan jiwaku. Karena kita sama-sama berada di Jawa Barat. Ayah dan Ibuku juga suka meledekku dengan namamu saat kami berhenti di rest area sana.
Hmm, tapi aku sedih setelah sampai di rumah. Karena akhirnya kita jauh lagi. Apa kita akan bertemu lagi tanpa disengaja saat di Semarang nanti? Entahlah. Tapi, bukankah itu sering terjadi dalam kisah kita? Katanya, di film Koala Kumal karya Raditya Dika, pertemuan tanpa sengaja yang lebih dari tiga kali itu miseri. Bukankah kita mengalaminya? Hahaha. Aku mungkin bermimpi.
Terlepas dari cerita itu semua, sebenarnya aku merindu. Meski rindu itu tidak sebesar rindu di surat yang ke-7. Cintaku padamu penuh dengan alasan logika. Kau, satu arah, satu prinsip, dan satu karakter denganku. Bagaimana dengan rasa sukamu padaku dulu, apakah ia adalah cinta tanpa alasan?
Muhammad, memang ada harapan agar kau ingat tanggal ulang tahunku hari ini. Tapi, itu tidak begitu berarti. Karena, aku takut kenangan yang kau buat akan mengecewakanku jika kita nantinya tak bisa bersama. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa cinta yang kita inginkan akan menjadi jodoh. Aku tahu perasaanmu saat mengatakan, "Aku takut menyesal dan kecewa jika tidak berjodoh". Aku takut menyebut namamu dalam doaku, Muhammad. Aku hanya bisa terus bertanya pada Tuhan apakah kau boleh menjadi jodohku?
Muhammad, hari ini usiaku duapuluh satu tahun. Kalau suatu saat nanti kau ingin tahu tanggal lahirku, atau kau lupa dan ingin mengingatnya lagi, catat baik-baik: 14 JULI 1995. Aku tak meminta apa-apa. Suatu ucapan sekalipun. Aku diingat tetapi bukan semacam ingatan semu.
Ya, aku ingin selalu diingat sebagai bidadari surgamu. Tapi, apakah aku bidadari surgamu?
Aku punya banyak mimpi di usiaku yang sudah setua ini. Kau tahu apa?
1. HAFAL QURAN SECARA DHABITH
2. WISUDA DENGAN NILAI MEMUASKAN DAN BERKAH
3. MENGAJAR AL QURAN (TAHFIDZ)
4. MASUK PASCASARJANA UIN BANDUNG PRODI ILMU AL QURAN DAN TAFSIR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar