Senin, 18 Juli 2016

Surat ke-9: Aku Bimbang

Menemukan fakta memang menyakitkan. Tapi itu lebih baik dari pada terus-menerus hidup dalam Ilusi.

Aku bimbang. Ya, bimbang di saat kau lama tak menyapaku. Memang, kau Muhammad, memberiku ucapan doa dan selamat. Tapi, tidak terjadi interaksi di antara kita. Terlebih di pagi ini, aku menemukan fakta masa lalumu. Bersama mba Atus.

Tidak, aku tidak marah. Aku hanya kesal dengan diriku. Pada akhirnya, aku kembali bimbang dengan kalian berdua. Helmiy, dan Muhammad.

Helmiy, aku tidak tahu mengapa kembali mengharapkan usahamu. Padahal setahun ini aku sadar bahwa aku tidak punya alasan apapun untuk mempertahankanmu.

Kau mengakui bahwa tak ada yang dapat ku banggakan jika kau jadi suamiku, hidup denganmu. Tapi, apakah pernikahan itu soal bangga membanggakan?

Bukan. Bukan aku meminta kembali. Aku hanya ingin melihat dimana Tuhan menempatkan jodohku. Apakah dalam dirimu atau dalam diri Muhammad?

Masalahnya, Ayah tidak merestuimu. Malah memilih kau Muhammad. Tapi, apa kau Muhammad masih punya niat dan rasa suka itu padaku?

Entahlah, aku bimbang. Kau Helmiy juga membuatku bimbang. Kau bilang kau tak mau kembali, tetapi kau bilang kau masih berharap dan suka padaku.

Ibuku tidak merestuimu karena kamu tidak bisa baca quran. Juga karena kamu bergaul dengan lawan jenis tanpa batas. Ibuku pun tahu kau pernah selingkuh. Begitu juga dengan Ayah. Ayah tidak pernah mau menyebut dengan bangga dirimu di hadapan adik atau ipar-iparnya. Setahun ini, sempat aku melupakanmu karena hal ini. Karena alasan logis mereka.

Tetapi semalam, sepasang muda-mudi bertamu dan curhat dengan ayah-ibuku bahwa ayah si wanita tidak direstui. Ayah Ibuku justru menyuport mereka agar jangan menyerah. Tapi kau? Kau menyerah. Tanpa pernah berusaha. Kau seolah menerima dan memang berharap ayah-ibuku tidak merestui.

Aku memang senang ketika aku bertanya "menurut perasaan Abah, jodohku siapa?" lalu mereka menjawab, "Muhammad".

Tapi, apa benar? Kalau semua keluargaku setuju, apa kau masih menyukaiku. Semua tidak berarti bukan jika tanpa rasa sukamu. Sungguh berbanding terbalik. Ya, kalian berdua yang berbanding terbalik.

Parahnya, aku yang mengejar kalian berdua. Aku egois. apa mungkin aku harus merupakan semuanya?

Siapa diantara kalian yang benar-benar mau memperjuangkanku?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar