![]() |
| Foto ini diambil di hari ketika beberapa jam setelah kita ujian bahasa. Kau berbuka bersama dengan teman sekelasmu, dan aku berbuka dengan teman sekelasku. |
Muhammad, aku teringat satu kenangan pertama kita. Satu kenangan pertama yang entah mengapa kau dan aku berani memulai untuk melukiskan semuanya. Kalau teringat tentang ini, aku masih belum bisa percaya tentang semua respon itu.
Kebetulan, ini bulan Juni bukan? Masih teringat jelas di mataku, hal di mana siang tahun lalu aku mengetik sebuah pesan yang isinya permintaan maaf. Ada sedikit rasa baper saat itu. Ya, aku yang menganggapmu memiliki perasaan yang sama, tiba-tiba sadar diri bahwa hatimu tidak sama denganku. Bahkan, aku merasa bersalah karena telah menjadi objek dari isu-isu percintaan yang muncul di kalangan teman-teman kita. Aku takut kau tidak suka dengan candaan teman-teman yang menjodohkan kita. Aku takut dengan kehadiranku selama semester itu, menjadi pengganggu dalam studimu. Hingga ku tuliskan pesan yang panjang dengan akhir kata; Maaf karena telah mengganggumu, aku janji tidak akan mengambil kelasmu lagi!
Semakin membuatku yakin bahwa kau kesal padaku adalah ketika kau tak membalas pesanku. Ya, aku tahu, kau selalu seperti ini. Tak pernah yang namanya cepat dalam membalas pesan. Tetapi, meski aku mengerti alasannya, entah mengapa aku tetap bersuudzan bahwa aku memang benar-benar pengganggumu. Hingga malam itu, aku tertidur dengan kesedihan yang amat mendalam. Aku sering berkomat-kamit dalam hati, menyesal karena telah hadir di hidupmu.
Namun, semua itu sirna, saat mentari pagi menyinari, dan satu smsmu menyambut awal hariku; “Hahaha,... kalo ada kamu tuh rame, jadi seru. Seharusnya aku yang minta maaf. Tak tunggu di semester depan di kelasku lagi”
Koreksi aku jika aku salah: di sini, aku merasakan hatimu lagi. Aku merasakan sesuatu yang tersirat dari tulisan dan permintaan itu, meski ku coba untuk menepisnya berkali-kali. Saat itu, ingin sekali ku tanyakan padamu. Tetapi, aku tidak seberani itu. Sebab ku tahu, pasti banyak wanita di sekitarmu, penggemarmu, yang pernah merasa sepertiku ini. Maka di sinilah Muhammad, aku berlatih untuk menganggap semua hanyalah karena tinggi dan besarnya harapanku padamu. Bukan kau yang memberi banyak harapan padaku, meski sempat ku katakan: "Ah kau ini terlalu memberi harapan!"
---
Dua minggu setelah itu, aku sempat memandangimu dari kejauhan. Saat itu, tanggal 30 Juni 2015, hari di mana kita berada dalam satu ruangan yang sama untuk ujian bahasa. Ruang Auditorium II kampus III. Aku berjarak beberapa baris kursi di depanmu. Sesekali, ku tengok ke belakang mencari sosokmu, dan sesekali pula aku merasa, pandangan kita bertemu. Apakah saat itu kau menyadarinya?
Tidak hanya di dalam ruangan saat ujian, di luar ruangan pun, sembunyi-sembunyi aku menatapmu yang bersliweran di depanku bersama Irfan dan teman-teman sekelasmu. Hari itu, ku dengar kau akan ikut buka bersama dengan teman-teman sekelasmu di kampus. Aku juga. Saat itu, aku buka bersama dengan teman-teman sekelasku di rumah Bahri, depan pasar Ngaliyan.
Sepulang buka bersama, aku mengintip foto-fotomu di grup The History De Better. Itu pertama kalinya aku melihatmu memakai sarung. Aku senang melihatmu tersenyum bahagia bersama mereka. Di sini, aku menyadari, ternyata aku menyukaimu diam-diam. Iya, hal itu baru ku sadari sekarang, Muhammad.
![]() |
| Ini fotomu yang aku maksud |
---
Di luar ekspektasiku, satu bulan kemudian, untuk pertama kalinya, kita berbincang lama di obrolan Black Berry Messenger (BBM). Koreksi jika aku salah: kau memulainya dengan basa-basi membeli pulsa dariku, dengan pembayaran yang akan dilakukan di awal perkuliahan nanti. Dari sini, kau mulai mengajakku banyak berbicara. Termasuk tentang rasa penasaranmu yang tak bertemu denganku di matakuliah Madzahibut Tafassir di kelas yang sama. Padahal, aku sama-sama mengambil mata kuliah itu. Dosennya pun sama; pak Iing. Bolehkah aku menganggap bahwa kau telah terobsesi padaku sejak awal kita bertemu?
Yang paling bikin aku terbawa perasaan, ketika semua pembicaraan itu berlanjut ke arah pembicaraan tentang keluarga. Terulang kembali hal dimana aku mengungkapkan lagi daerah asal Ibuku; Bandung. Aku heran, mengapa kau juga mengatakan, "Aku juga punya keluarga di Bandung, keluarga dari adiknya kakekku." Saat itu aku tertawa loh. Tertawa karena kau selalu ingin memiliki hal yang sama denganku. Atau, ini hanya perasaanku saja?
Dari perbincangan itu, kau bawa anganku melayang lebih jauh lagi, ketika kau bertanya, "Calon imam seperti apa yang kamu inginkan? Apakah harus hafal Quran juga?", dan pertanyaan yang penuh dengan debaran-debaran ini kau awali dengan kata: "Boleh aku bertanya?"
Jujur, prasangkaku tentangmu semakin kuat saat itu. Ya, aku merasa, kau memiliki hal dalam hatimu yang tak mampu kau utarakan padaku. Kau hanya sedang berhati-hati dan mengenal jauh tentangku. Benar begitu, Muhammad?
Sebenarnya, saat itu ingin sekali ku katakan, "Calon imam yang aku inginkan itu...seperti kamu."
Aku sempat menuliskannya di layar obrolan kita. Tapi kemudian ku hapus lagi, karena tak mungkin secepat itu ku buka perasaanku padamu. Aku lebih suka dengan diam-diam seperti ini. Hingga akhirnya ku katakan, "Ya nggak harus sih. Calon imam yang aku inginkan itu..yang bisa mendidikku dan anak-anakku ke jalan-Nya."
Mau kah kau mendengarku mengulang jawaban dari pertanyaanmu ini?
Muhammad, aku berharap calon imam yang menjadikan Allah sebagai orientasi hidupnya, nabi Muhammad sebagai teladan sehari-harinya, yang dapat mencintaiku karena Allah. Muhammad, sosok sepertimulah yang secara dzahir (karena aku belum melihat watak aslimu), sesuai dengan kriteriaku. Kau pintar bahasa Arab, kau hidup karena-Nya, meneladani rasul-Nya, dan kau sholeh, pintar. Pergaulanmu bagus, dan akhlakmu mulia. Aku yakin kau bisa membimbingku, mendidiku, dan mengajakku untuk selalu berorientasi kepada-Nya.
Akan tetapi, kau mengajariku satu hal dari jawaban kedua ini, dengan satu jawabanmu: "Aku hanya berharap calon istri yang dapat menerimaku apa adaya..nggak neko-neko."
Muhammad, inilah inspirasi pertama darimu, yang akan terus membawaku pada inspirasi-inspirasi selanjutnya. Dari sini, aku mulai berfikir dengan menimbang ulang caraku memasang kriteria tinggi-tinggi. Mulai saat itu, ada ruang dalam hati yang ingin selalu mengutarakan; Muhammad, boleh aku bertanya?
Sebab aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku ingin bertaaruf, untuk mengambil pelajaran berharga darimu, meski aku tak dapat terlalu banyak berharap. Setidaknya, izinkanku berharap dapat memetik dari setiap pertanyaan yang ku lontarkan.
Jadi Muhammad, bolehkah aku lebih sering bertanya?
---
to be continued.
- HS -


Tidak ada komentar:
Posting Komentar