Sabtu, 11 Juni 2016

Pengantar Surat untuk Muhammad


Ilustrasi: semester empat saat kita berjalan seperti ini di perjalanan ke kampus saat senja

Hari ini, aku ingin memulainya kembali. Bercerita tentang suratan cinta yang telah digariskan Tuhan untukku. Sebenarnya, ada sedikit keraguan untuk berbagi cerita ini. Tapi, aku tak ingin kehilangan kenangan-kenangan indah yang telah terjadi selama dua tahun bersamamu. Kenangan yang tidak bisa direkayasa. Seolah-olah memang begitulah Tuhan telah menuliskan skenario-Nya untukku. Meskipun mungkin, akan ada bagian-bagian yang menyedihkan, yang menyingkap tentang cerita masa lalu, yang memang ingin ku ceritakan secara jujur padamu.

Sebenarnya, cerita ini adalah improvisasi dari novel yang telah ku tulis di akhir tahun lalu. Aku hanya ingin sejenak memunculkan biruku yang sempat hilang hingga di pertengahan tahun ini. Ingin ku lukiskan kembali biruku, tentang sosok yang telah menginspirasi, sosok yang bernama Muhammad, tetapi ia bukan Muhammad yang lahir 1400 tahun lalu. Sosok itu adalah sahabat sejati dan saudaraku yang lahir duapuluh lima tahun lalu. Yes, you!

Well, usiamu tidak sebanding dengan usiaku. Terpaut hampir lima tahun. Baru beranjak dewasa, dan inilah usia-usia dimana seorang wanita mulai bermimpi tentang pernikahan. Makanya, banyak teman-teman seusiaku yang kini sudah memiliki belahan jiwa 'halal'-nya masing-masing. Bahkan, ada yang sudah punya anak. Adapun bagi mereka yang belum menikah, rata-rata sudah memiliki calon dan tambatan hati yang telah diikat sedemikian rupa.

Berbeda denganku. Justru, di usia yang bertambah dewasa, aku kehilangan sosok yang selama ini selalu ku impikan menjadi masa depanku. Sosok yang dulu sangat menjanjikan. Aku tak pernah menyangka akan kehilangan dirinya di saat target usia pernikahanku semakin dekat. Aku tak mengerti mengapa Tuhan menakdirkanku seperti ini. Padahal, hubungan itu telah ku jalin selama hampir enam tahun.

Masalahnya klise; tidak direstui. Entah bagaimana bisa baru ku sadari jika Ayah dan Ibu tidak merestuinya. Padahal, kalau ku ingat-ingat kembali, isyarat penolakan mereka telah terungkap sejak tahun 2011 lalu, sekitar setahun setelah penyatuan kami. Tetapi, karena terlalu buta dengan cinta, aku memaksakan diri menganggap bahwa semua akan baik-baik saja. Semua akan berjalan sesuai rencana. Cepat atau lambat, Ayah Ibu pasti merestui.

Nyatanya, sejak akhir tahun lalu, setiap kali aku bertanya pada Ibu, "Mi, kalau Helmiy melamar, apa Abah-Umi akan nerima dia?"

Kau tahu apa yang dijawab Ibuku? Ia mengungkap semua sikap dan kehidupan laki-laki bernama Helmiy, yang dulu sangat ku cintai. Ibuku mengingatkanku tentang segala penghianatan yang pernah dia lakukan padaku. Ibuku paling tahu tentang tangisanku.Satu kalimat bercabang yang paling menusuk jantungku, "Memangnya kamu mau menjadi makmum dari laki-laki yang tidak menjaga pergaulannya dengan wanita? Memang dia punya hafalan berapa juz? Ilmu agamanya ada? Ngajinya bisa?"

Mungkin aku masih memiliki sedikit harapan tentangnya, hingga ku tanyakan lagi hal itu beberapa waktu lalu. Padahal, aku sudah memutuskan hubunganku sejak lama. Akan tetapi, jawabannya hampir sama. Bahkan Ibuku menjawabnya dengan kalimat penegasan yang sangat jelas dan lugas, dengan tambahan kalimat, "Kau ini kenapa Habibah masih terus menyebut namanya?"

Hmm, bukannya aku masih cinta. Aku telah melupakannya, tidak lagi berkomunikasi dengannya. Tetapi, aku hanya merasa takut. Usiaku sudah setua ini, dan aku kehilangan tambatan hati. Terlebih ketika salah satu teman lamaku berkata, "Usia segini harusnya kamu udah punya pandangan.."

Padahal, tinggal sedikit lagi. Dia pernah berjanji akan melamarku secara resmi setelah wisuda nanti. Sekitar awal tahun 2017 ini. Tapi semua hanya tinggal rencana. Kalau orangtua sudah tidak merestui, apa yang dapat ku lakukan?

Memang, ada kau di sisiku. Tetapi, apa arti dari komunikasi yang terjalin di antara kita? Apakah kita punya masa depan? Kalau punya, di mana letak masa depan itu ada sedangkan kau, beberapa waktu lalu berkata: "Saya masih belum bisa menentukan calon istriku". Padahal, di awal bulan lalu kau bilang: "Maaf... dulu lagi pas kita bahas tentang perkenalan keluarga dan karakter.. memang saya punya rasa suka tuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan.."

Apa rasa suka itu telah berakhir? Apa kau belum bisa menjadikanku masa depanmu?

"Saya takut kalau tidak jadi.. malah mengecewakan orang lain.. gitu aja."

Apa yang ada dalam pikiranmu hingga kau sering mengucapkan kata ini padaku, tapi di sisi lain kau menunjukkan perasaanmu? Apa kau ingin agar aku tak banyak berharap, tetapi aku harus tahu bahwa kau menyukaiku?

Di sini, aku ingin mengajakmu menyelam dalam biru yang telah tanpa sengaja kita lukis bersama. Di sini, ingin ku tunjukkan betapa luar biasa skenario-Nya. Agar aku dan kau dapat mencari jawabannya. Meski mungkin, kau tak pernah membaca cerita ini. Kalau kau baca cerita ini, maka renungkanlah. Jangan bicarakan dan tanyakan mengapa ku kisahkan kamu di sini. Bisa jadi, inilah suratku. Surat terpanjang yang penuh dengan harapan masa depanku bersamamu. Meski ku tak tahu, akankah Tuhan memilihkanmu untukku dan memilihkanku untukmu.

Surat ini...hanya surat terakhir yang ingin ku tuliskan untukmu. Surat terakhir sebelum ku pergi. Surat terakhir sebelum aku menutup pintu hati ini. Izinkan aku menuliskan semuanya. Karena aku menyimpan semuanya tentangmu. Di sini.

Semarang, 2016.

- HS -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar