Rabu, 22 Juni 2016

Surat ke-6; Kenangan yang Baru Terulang Lagi

Foto di Simpang Lima, setelah acara Jurnalistik menjelang buka puasa

Hari ini, hari di mana pertama kalinya kita dapat berjalan jauh bersama. Meski dengan teman-teman seangkatan. Tetapi, tetap saja bagiku istimewa. Kau tahu mengapa? Karena bukankah selama semester enam ini kita jarang bertemu dengan sengaja?

Satu hal lagi, foto ini, bukankah pertama kalinya kita ada di foto yang sama? Kau ingat foto pertama kita yang hanya berdua? Ku rasa, ini lebih spesial dari itu. Karena foto pertama kita adalah hasil curian yang dilakukan temanmu. Sedangkan ini? Murni kesengajaan.
Aku tidak tahu mengapa kau bisa tepat berada di belakangku. Apa kau sengaja? Tapi, aku memang berharap kau ada di dekatku sebagai kenang-kenangan di akhir studi kita.

Aku terkejut saat berbalik setelah pemottretan karena wajahku tiba-tiba berada di depan dadamu. Meski aku dalam keadaan tertunduk. Ya, aku tahu kau ada di sana saat kita berfoto. Tapi, aku tidak tahu kau belum pergi saat aku hendak berbalik arah.

Di situ, rasanya dadaku bergemuruh. Ada cinta di sana. Lagi. Setelah sekian lama. Ingin ku runtuti pandanganku yang menuju arah dadamu, naik sedikit untuk menatap senyummu. Tapi aku tak mampu. Aku hanya dapat terus tertunduk dan berjalan. Sebenarnya aku berharap kau mengajakku makan bersama. Tetapi, aku tahu itu tak mungkin. Atau kau sebenarnya mau seperti itu tapi malu mengutarakannya? Ah aku terlalu berimajinasi!
Dengan angle muka kita yang sama
Muhammad, setidaknya, meski aku tak tahu apakah perasaanmu masih ada atau tidak untukku, aku bahagia karena memiliki kenangan ini. Aku mungkin belum tahu apakah Tuhan menakdirkanmu untukku dan menakdirkanku untukmu. Aku tahu betul itu. Tetapi, aku tidak ingin memaksakan diri melupakanmu. Sebab itu hanya akan menyakiti diriku. Ku biarkan ia mengalir seperti air. Ku biarkan juga untuk tidak terlalu berkomunikasi denganmu. Aku tidak ingin yang pertama memulai. Aku tidak ingin mengejar, juga tidak ingin melupakan.  Hanya belajar mengikhlaskan segalanya pada Tuhan.

Muhammad, jujur rasa ini masih ada. Kenangan itu masih teringat dalam benakku. Sehingga aku tahu seolah semua terulang kembali. Tetapi, aku tidak ingin tertipu meski aku merindu. Aku ingin tetap berlaku seperti biasa sampai Tuhan mengatakan "Ya" untukku.

Muhammad, jaga dirimu baik-baik. Mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bisa bersama. Setelah ini tak ada waktu yang bisa menyengajakan kita kembali bertemu. Semoga sukses.

Dari,
Yang ingin menjadi makmummu..
Yang ingin menjadi ibu dari anak-anakmu..
Yang ingin menjadi istrimu..
Yang ingin menjadi teman surgamu..
Yang ingin menjadi teman hidup dunia-akhiratmu, teman dakwahmu..

Habibah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar