"Tidak ada yang bisa menebak kapan seseorang akan jatuh cinta. Karena cinta tidak sesederhana itu. Cinta, bukan hanya sekedar kau melihat wajahnya, lalu kau tergila-gila. Cinta, bukan hanya sekedar kau mengetahui kebaikannya, lalu kau jatuh terpana. Cinta, adalah ketika kau telah terbenam jauh dalam waktu yang lama. Cinta, adalah ketika kau tak mampu menyebutkan apa dan bagaimana rasa itu terjadi. Cinta, adalah ketika kau hanya tahu tentangnya, tanpa pernah tahu apa alasannya. Karena cinta memang tidak sesederhana itu."
- HS -
Seperti itulah aku memiliki rasa ini. Tak bisa ku tebak kapan aku mulai menyukaimu. Ku akui, aku pun tak langsung jatuh cinta padamu di kali pertama kita bertemu. Kebaikan-kebaikan yang dulu orang ceritakan, tak ada pengaruhnya bagiku. Tak bisa ku jelaskan apa dan bagaimana perasaan itu terjadi, kapan dan di mana rasa itu bermula. Aku hanya mampu menyadarinya, di saat aku hanya tahu tentangmu. Di saat kau menghambur padaku.
Tahun lalu, berawal dari candaanku bersama Zuma, tentangmu. Di saat aku sama sekali tak ingin mengakui perasaan yang ternyata telah jatuh terlalu dalam sejak setahun sebelumnya. Kau ingat kan ketika Zuma menyampaikan salamku padamu? Ku kira, ia hanya akan tetap menganggap salamku adalah sebuah gurauan. Aku tak pernah menyangka, Zuma benar-benar menyampaikan padamu. Aku mengetahuinya sebulan kemudian, setelah liburan panjang. Dia yang mengatakan padaku. Katanya, dia menyampaikan salamku di tempat wudhu' langsung di hadapanmu.
Salam yang tersampaikan padamu akhirnya bersambut. Menjelang lebaran tahun 2015, aku senang kau mendatangiku. Kita bertukar cerita tentang kuliah kita. Kita bertukar cerita tentang kriteria pasangan masing-masing. Bahkan bertukar cerita tentang masa depan. Masih ingat ketika kau tanyakan padaku ke mana aku akan pergi setelah lulus dari sini, dan dengan mantapnya, aku menjawab kota Bandung, yang telah menjadi impianku sejak lama. Kau juga bertanya target menikah yang ku rencanakan. Jawaban yang sama antara Ayahku dan Ayahmu; setelah lulus S2.
Kisah itu berlanjut ketika kau bertanya padaku tentang alasan mengapa aku tak berpacaran. Saat itu aku menjawab, bahwa pacaran itu hanya main-main, sedangkan aku ingin memiliki sepenuhnya, dan aku tidak bisa terjun dalam hubungan yang seperti itu. Kau juga menjawab dengan hal yang sama. Kau bahkan bercerita tentang masa lalumu di usia 17 tahun, saat kau khilaf berpacaran dengan seseorang. Katamu, kau putus dengannya karena dia selalu minta dibelikan boneka di pasar minggu. Juga, karena dia marah-marah setiap kali kau sibuk di pesantren dan tak membalas pesannya. Kau bilang, kau tak suka gadis pemarah. Karena itulah katamu, kau melepasnya.
Satu hal yang membuatku terkejut saat itu, ketika kau bertanya dengan kalimat yang ambigu. Ketika kau bilang, "Kamu mau kalau pacaran tapi serius?" Tapi aku tak berani menganggap itu adalah ajakan darimu. Aku hanya mengira bahwa kau bertanya tentang pendapatku soal pacaran tapi serius. Agak menyesal baru menyadarinya. Tetapi, Tuhan menyadarkanku, bahwa hikmah dari lambatnya kesadaranku, kita tidak terjerumus dalam hubungan yang tidak diinginkan Tuhan.
Di lain hari, kau bilang, kau menganggapku sahabat. Pernyataanmu saat itu juga menggetarkan hatiku. Anggapan sepihak darimu, itu lebih dari luar biasa. Karena kita sebelumnya tidak pernah sedekat itu. Tetapi, mengapa kau bisa merasa seolah-olah kita telah bersahabat sejak lama? Sejak pernyataan ini muncul, aku selalu mendengar ceritamu. Keadaanmu yang telah mendahului kembali ke pesantrenmu setelah lebaran. Bahkan kau tidak segan bertanya, "Kapan kamu kembali ke Semarang?" Baru kali ini, ada yang menantiku di Semarang sepertimu, Muhammad.
Kedekatan kita terus terjalin, dengan aktifnya kita di media sosial. Sering, kau menyukai statusku, bahkan berkomentar di foto yang ku bagikan, yang saat itu aku sedang dalam perjalanan dan rekreasi di Jepara bersama keluarga besar dari Jawa Barat. Aku tak ingin kau melakukan hal yang bertepuk sebelah tangan, sehingga aku juga turut hadir di foto yang kau bagikan di sana. Begitu juga setiap status yang kau buat. Itu menjadi kebiasaanku hingga sekarang.
Permintaanmu yang ingin agar kita sekelas bersama, ternyata bukan hanya harapan palsu yang kau ungkapkan. Aku dapat melihat betapa janjimu tak teringkari. Kau datang di waktu yang kau janjikan, di saat kita KRS-an, untuk memulai semester lima. Sebelumnya, kau meminta agar empat sks tambahan, kita mengambil mata kuliah yang sama. Bahkan, kau juga meminta agar aku mengambil kelas D semuanya. Ku turuti permintaanmu. Hanya tiga kelas yang ku ambil di kelasku sendiri. Sisanya, aku mengambil di kelasmu, dan dua kelas di kelas tambahan bersamamu.
Itu pertama kalinya, laki-laki mengejar dan menghargaiku. Aku suka keagresifan itu. Saat kau tak sabar karena aku tak kunjung membalas semua pesanmu, hingga berulang kali kau kirim, "PING!!!". Sikapmu ini yang membuatku percaya bahwa ada harapan yang bisa ku tanam sedikit dalam hatiku tentangmu. Aku bahagia akhirnya, kita benar-benar sepakat untuk setiap hari belajar di kelas yang sama, dan kembali berdiskusi bersama. Saat itu, aku tak sabar untuk segera bertemu denganmu. Saat itu, seperti ada biru yang memancar dalam hatiku, yang rasanya lebih bahagia dari biasanya.
Aku menantikan hari itu, hari di mana pertama kali kita akan bertemu sebagai sahabat. Tetapi, ternyata saat itu kau tidak masuk, dengan alasan, kau menghadiri undangan pernikahan teman. Di hari berikutnya, akhirnya kita bertemu. Bahkan kau menantikanku. Kau menghampiriku di depan kelas. Rapih sekali penampilanmu. Itu, pertama kalinya aku melihat dirimu benar-benar jelas. Sebelumnya, aku hanya dapat melihatmu sembunyi-sembunyi, dari kejauhan. Itu, pertama kalinya, kita duduk di bangku yang berseberangan. Bahkan kau mengajakku berbicara secara langsung, yang selama setahun tidak pernah kita lakukan lagi. Terakhir kali, hanya saat pertama kita berkenalan di tahun sebelumnya.
Aku menyembunyikan rahasia tentang kelas yang ku ambil bersamamu. Aku sengaja membuat kejutan untukmu. Hingga di hari berikutnya, aku sengaja berangkat sebelum waktu kuliah tiba. Di sana, aku melihat ekspresi bahagiamu. "Yee, ngambil kelasku lagi.." begitu ucapmu.
Itulah, awal kisah kita. Awal biru yang terbentuk di hatiku. Saat semua prasangkaku seolah terjawab lewat tanya hati kita.
Ini baru awal, Muhammad. Ada hal-hal mengharukan lain yang membuat hati ini terasa sangat membiru. Takdir yang tak pernah ku sangka-sangka.
---
to be continued.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar