Tidak ada kata yang paling ingin ku ucapkan hari ini selain kata "MAAF", yang (pasti) kau sering mendengarnya.
Entah mengapa perasaan dalam hatiku yang mulai kembali bersemi seperti dahulu membuatku merasa bersalah terhadapmu. Takut sekali rasanya menyadari seberapa obsesifnya aku.
Sebenarnya, bukan hal obsesif atau tidak, agresif atau tidak. Tapi perihal rasa malu ketika orang lain melihat perasaanku. Kadang kala, aku tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka yang kembali mulai menjodohkan nama kita. Sebab, aku selalu merasa itu semua karena aku. Aku takut mempermalukanmu. Aku takut kau menganggap seolah-olah aku telah memilikimu.
Muhammad.. Sungguh aku minta maaf.
Aku minta maaf atas perasaan yang selama ini tidak pernah berhasil untuk ku tepiskan. Setiap kali aku mencoba melupakanmu, pasti ada saja takdir-Nya yang terjadi di antara kita. Entah itu teman-teman yang menyebut namamu atau bertemu dan berpapasan tanpa sengaja denganmu.
Muhammad.. Sungguh aku minta maaf.
Aku minta maaf karena merasa senang setiap kali aku menyadari betapa menakjubkannya pertemuan kita yang tanpa sengaja. Maaf karena hari ini merasa sangat bahagia ketika Mbah Ali mengatakan bahwa kau melihatku sedang makan di area kuliner pujasera. Aku tahu itu hal yang biasa. Tetapi sekali lagi aku minta maaf, karena menganggap hal itu adalah hal yang luar biasa. Mengetahui bahwa kau mengintipku diam-diam tanpa ku sadari. Mengetahui bahwa matamu peka menemukanku di keramaian hari ini. Mengetahui bahwa kau memutuskan untuk terdiam dan memilih tempat lain agar aku tetap tidak menyadari. Semua hal itu membuat hatiku terbawa suasana yang membiru.
Saat aku menyadari keadaanku setelah itu (yang senyam-senyum sendiri setelah mengetahui berita itu dari Mbah Ali), rasanya sangat memalukan. Terlebih ketika aku tak mampu menahan untuk tidak bercerita pada Mba Fida, Mba Mun, juga Uci yang bersamaku hari ini.
Muhammad.. Aku tidak menghendaki kau melihat perasaan ini. Apalagi di depan keramaian. Tidak. Aku selalu berusaha menutupinya agar tak mempermalukanmu. Aku takut sekali kau menganggapku terlalu terobsesif padamu. Aku pun takut untuk sekedar menjadi wanita yang telalu mengagumimu.
Muhammad.. Aku hanya ingin mencurahkan perasaanku lewat sini. Tempat yang sulit kau jangkit, bersama teman-temanmu atau teman-temanku. Tempat di mana hanya aku dan koneksi internet ini yang tahu. Aku tak pernah ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Sebab mengetahui bahwa hati ini sulit menepismu saja, membuatku agak frustrasi.
Dulu, aku pernah merasa sangat bahagia setiap kali memergokimu sedang memperhatikanku dari kejauhan. Aku juga sangat bahagia setiap kali teman-teman di sampingku berkata bahwa kau selalu memperhatikan gerak-gerikku ketika kita berada di kelas yang sama. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Aku takut melanggar prinsipku. Karena perasaan ini ku anggap belum sah di mata ilahi.
Meski pernah aku mencari jawabannya, tetapi hatiku tetap resah setiap kali menyadari. Apalagi ketika aku mengetahui keadaan yang membelengguku. Keadaan di mana aku ingin menyalurkan perasaan fithrah ini di jalur yang semestinya. Proses taaruf misalnya. Tapi, setiap kali menginginkan hal itu, aku menyadari semua tak mungkin. Sikapmu yang membuatku merasa tak yakin kau mau dengan proses syar'i yang relatif singkat ini. Sebab Ayah kita sama-sama menginginkan kita untuk melanjutkan S2 terlebih dahulu. Apalagi, kau memang tidak merasa payah untuk tetap melajang hingga tamat S2. Aku pun merasa kau belum yakin untuk memilihku. Memang siapa aku hingga kau nekad memilihku? Seberapa pantasnya diriku bersanding dengan putra Kyai sepertimu?
Ah sudahlah.
Aku hanya ingin minta maaf, dan aku berharap kau memaafkanku atas segala peristiwa yang terjadi karena aku. Sungguh, aku pun menanggung malu karena Uci menyebut namamu di salah satu status yang dibuat semalam. Tetapi, apa yang dapat ku lakukan? Aku tak dapat menghapusnya. Meminta dia menghapuskan namamu pun dia tak mau. Jadi, aku hanya dapat meminta maaf di sini. Meski rasanya tak mungkin kau dapat membaca permintaan maaf ini.
Setidaknya, dari sini aku berniat untuk tidak melakukan hal-hal yang memalukan lagi. Semampuku, meski aku belum dapat melupakanmu, aku akan berusaha untuk menyembunyikannya rapat-rapat darimu. Meski kau pernah tahu tentang perasaanku.
Aku bersyukur sekali jika pada akhirnya kau berani untuk memilihku, sehingga aku tak perlu sekhawatir ini.
Usiamu 25 tahun, bukankah itu sudah waktunya?
Aku, siap jika kau mau memilihku. Mungkin aku tidak punya harta melimpah, kecantikan fisik yang "wah", atau segala kelebihan lain yang dapat membuatmu bangga denganku. Tapi, aku memiliki niat murni untuk menjadi perhiasan dunia paling indah, semampuku. Jika kau mengajakku ke surga, mengajakku untuk menuju-Nya, aku tak segan-segan untuk menerimamu. Aku bersedia untuk kau didik dengan caramu. Aku bersedia untuk menerima segala tentangmu, jika itu adalah jalan yang halal. Aku siap untuk tidak hanya bersatu denganmu, tapi bersatu dengan keluargamu.
Maaf, jika aku tak berani menyampaikan hal ini secara langsung. Aku tak seberani Khadijah yang melamar Muhammad. Aku memilih untuk mengikuti cara Tuhan, sembari tetap mencoba melupakan. Kalau pun setengah mati ku coba dan terus ku coba tapi tetap tak bisa, maka ku biarkan Tuhan yang menanganinya.
Aku tak berani menganggap takdir-takdir kita yang tanpa sengaja ini sebagai tanda bahwa kita berjodoh. Aku juga tak berani menganggap bahwa perasaanku yang sulit ku lupakan ini adalah tanda bahwa kita akan bersama. Aku juga tidak bisa menganggap bahwa karakter, prinsip, dan jiwa yang sama di antara kita adalah tanda bahwa kita adalah "pasangan" itu, yang cocok satu sama lain. Tidak.
Aku hanya sedang belajar ikhlas menerima anugerah ini, dan belajar sabar menghadapi musibah ini.
Cinta itu... memang begini adanya. Seperti dua sisi mata uang logam; di satu sisi ia menjadi anugerah, di sisi yang lain ia menjadi musibah.
Muhammad.. maaf jika harus kesekian kalinya aku meminta maaf seperti ini, bahkan tak dapat ku pastikan ini tak terulang lagi.
Setidaknya, aku tetap ingin minta maaf atas peristiwa yang mungkin mempermalukanmu di hari-hari terakhir ini. Sampai jumpa lagi di takdir yang lain, Muhammad. Aku berharap Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik untuk hatiku, untukmu, dan untukku.
---
-HS-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar