Senin, 13 Juni 2016

Surat ke-3; Terimakasih untuk Senyummu Hari Ini


Bagaimana bisa mataku se"awas" ini ketika ku sadari langkah kakimu di belakangku? Sepatu putihmu itu yang membuatku dapat mengenalinya tanpa perlu bertanya. Tapi, hey, dimana benda keramat yang selalu menutup kepalamu itu?

Dalam tanda tanya, kau melempar senyum, Ahh. Meleleh. Ku lempar juga senyum termanisku untukmu, namun buru-buru ku palingkan muka. Siapa sangka kau berhenti di depan kami, bertanya, "Lagi pada ngapain? Ngerjain tugas?"

"Enggak. Cuma ngumpul aja." jawabku. Ingin ku bertanya apa yang sedang kau lakukan. Menunggu ujian kah? Mengapa lewat di sini? Di gedung F tempatku dan Suci sedang berbincang berdua sambil streaming-an di pinggir mading koridornya? Mungkin karena hatiku mengingatkan bahwa aku sudah tahu apa yang akan kau lakukan; menunggu ujian akhir mata kuliah Orientalisme dan Hadits kan? Hmm..

"Cieee cieee yang bajunya kembaran.." si Suci meledek kita. Haha, aku tersipu malu, namun aku senang kau tak keberatan dengan candaannya. Tapi.....

"Memed, kapan kau mau melamar Habibah?" Suci melempar senjata ampuhnya. Oh tidaaaaaak! Maafkan atas kelakuan temanku ini..."Sekarang" hey, mengapa kau segera menjawabnya lalu pergi begitu saja sebelum aku sempat meminta maaf padamu? Tapi, sontak aku tertawa mendengar candaanmu. Kau pintar sekali menyahut ledekan temanku ini.

Iya aku tahu kau bercanda. Tapi, saat mendengar ketegasanmu itu, hatiku berdebar-debar. Kata "sekarang" yang kau ucapkan membuat imajinasiku terbang melayang ke hari-hari sebelumnya saat kau mengungkapkan, "Saya punya rasa suka tuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan", aaaaa, Muhammad!

Ku fikir kau tak akan melewati kami lagi. Tapi aku salah sangka. Lima menit, kau kembali. Berhenti lagi di hadapan kami saat Suci berkata, "Hey Med theatring-in hatimu ke hati Bibah dong!", O Allah! Aku malu sekali, sungguh. Kau malah tertawa saat aku hendak menyerang Suci dengan pukulan kecil.

"Udah ngerjain tugas foto jurnalistik?" Tanyaku mengalihkan. "O iya ya, belum ih. moto apa ya?", belum sempatku menjawab, Suci menggoda lagi, "Foto Bibah aja dong..hehehe" Untung saja kau hanya tertawa lalu pamit pergi. Karena, satu temanku ini bisa terus-terusan menggoda kita. Tapi, kau tidak marah kan? Kau tidak keheranan kan mengapa Suci bisa meledek kita? Atau, kau mengira bahwa aku telah menceritakan semuanya ke Suci tentang perasaanmu? Ah, jujur, aku memang bercerita padanya. Tapi aku tidak meminta dia meledekku. Maafkan aku, Muhammad. :(

Terlepas dari itu semua, terimakasih telah membuatku bahagia hari ini. Terimakasih atas senyum yang kau beri hari ini. Apalagi, ternyata kau muncul lagi di hadapanku, mengenakan pecimu, sambil sibuk memotret beberapa peristiwa yang ada di depanku. Meski Suci berulah lagi, "Woy Med! Jangan moto-moto situ terus..Sini dong fotoin kita,, fotoin Bibah." Aaaaaaa! Maafkan kekurangajaran termanku ini ya, Muhammad.

"Ini moto gedung yang ga kepake, lumayan bisa jadi berita." jawabmu, dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahmu. Aku tersenyum memperhatikanmu. Senang sekali bertemu denganmu hari ini.

well, kau terlihat kurus kalau memakai peci. Tapi gemuk dengan gaya rambutmu sekarang.

Hal yang paling membuatku tak bisa berhenti tersenyum adalah...ketika ku menyadari baju kita sama; MERAH. Sering kah kau menyadari ini bahwa bukan satu kali ini saja kita tanpa sengaja memakai baju yang berwarna sama? Lengkap dengan sejuta senyumanmu, membuat hariku hari ini kembali membiru.

Terimakasih, Muhammad. Aku bahagia, dengan senyummu hari ini. Aku tidak tahu apakah Tuhan mengizinkannya? Tapi, aku berharap, Tuhan mengampuniku jika perasaan ini salah. Sungguh, tak ada yang dapat ku lakukan untuk menghentikan senyum ini.

Senyummu..tetap seperti dulu. Tak pernah berubah. Bahkan selalu membahagiakanku.

sekali lagi, terimakasih Muhammad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar